Breaking News:

Opini

Inses Perspektif Hukum Islam

BELAKANGAN ini publik sering digemparkan kasus anak menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan anggota keluarganya sendiri yang biasa

Editor: bakri
Inses Perspektif Hukum Islam
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. YUNI ROSLAILI, MA,  Dosen Hukum Pidana Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh

OLEH Dr. YUNI ROSLAILI, MA,  Dosen Hukum Pidana Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh

BELAKANGAN ini publik sering digemparkan kasus anak menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan anggota keluarganya sendiri yang biasa disebut inses (incest).

Misalnya kasus abang yang menghamili adik kandung hingga memiliki dua anak di Kabupaten Luwu, ayah mencabuli anak kandungnya yang masih berusia 15 tahun hingga melahirkan di Garut, seorang gadis berketerbelakangan mental dilecehkan oleh ayah dan kakak serta adik kandungnya selama dua tahun di Kabupaten Pringsewu, dan kasus seorang oknum caleg ditangkap setelah menjadi buron kasus pencabulan terhadap anaknya sendiri selama delapan tahun di Sumatera Barat, (Kompas.com).

Di Aceh, belum habis kegeraman masyarakat pada kasus ayah berinisial M dan paman berinisial DP memperkosa anak dan keponakannya sendiri di Aceh Besar, kini public kembali dikagetkan dengan berita seorang adik berzina dengan kakak kandungnya, bahkan mengajak kawan-kawannya menzinai kakaknya hingga hamil di Pidie. Banyak yang melihat ini sebagai sebuah fenomena gunung es, hanya terlihat puncaknya dan yang tak terlihat lebih besar lagi. Kauskasus seperti ini banyak yang tak terungkap karena alasan takut, malu, aib keluarga, dan mempertimbangkan hubungan kekerabatan antarpelaku dengan korban.

Terdapat beberapa faktor pencetus perilaku inses ini, di antaranya: Pertama, inses yang terjadi secara tidak sengaja. Misalnya kakak-adik lelaki perempuan remaja yang tidur sekamar, bisa tergoda melakukan eksperimentasi seksual sampai terjadi inses. Kedua, inses akibat psikopatologi berat. Ketiga inses akibat pedofilia, termasuk menggauli anaknya sendiri, Keempat, inses akibat contoh buruk dari ayah karena meniru ayahnya melakukan perbuatan yang sama dengan kakak atau adik perempuannya, dan kelima inses akibat patologi keluarga dan hubungan perkawinan yang tidak harmonis.

Misalnya seorang suami yang tertekan akibat sikap mendominasi dari istrinya bias terpojok melakukan inses dengan anak perempuannya (Sadarjoen: 2005). Hukuman Bagi Pelaku Inses Lalu bagaimana konsep Islam terhadap perilaku inses? Dalam pandangann Islam perbuatan inses merupakan sebuah kejahatan atau jarimah dan masuk ranah hukum jinayah (pidana). Jinayah dalam hukum pidana Islam ada tiga macam, yaitu hudud, qishash/diyat dan ta’zir.

Hudud adalah perbuatan jinayah yang format dan hukumannya tta’zielah ditentukan oleh Allah. Pelanggaran atasnya dipandang sebagai pelanggaran atas hak Allah. Oleh karena itu hukuman ini tidak boleh digugurkan, ditambah atau dikurangi oleh siapapun. Jenis kejahatan hudud ini ada tujuh macam, yaitu zina, pencurian, menuduh orang lain berzina (qazf), meminum khamar, perampokan, murtad, dan pemberontakan.

Qishas/Diyat adalah perbuatan jinayah yang ditetapkan hukumannya secara qishas atau diyat. Jinayah ini lebih merupakan hak individu. Meskipun format hukumannya tidak boleh diubah namun karena hukuman ini lebih merupakan hak individu bagi korban atau keluarganya oleh Allah diberikan hak kepada korban untuk memaafkan dan apabila telah dimaafkan gugurlah hukumannya atau dengan membayar diyat (denda).

Jenis jinayah ini ada enam, yaitu pembunuhan baik yang sengaja, semi sengaja dan tidak sengaja, serta pelukaaan yang disengaja, semi sengaja atau tidak sengaja. Sedangkan ta’zir secara teknis digunakan untuk menyebut tindakan yang bersifat pelajaran atau pengajaran yang diberikan terhadap orang yang melakukan kesalahan yang tidak diatur oleh ketentuan hukum had dan qishas. Berdasarkan pembagian tersebut, maka inses masuk dalam kategori hudud yaitu masuk dalam perbuatan zina.

Termasuk bentuk zina adalah laki-laki dewasa yang menyetubuhi anak-anak. Dikenakan hukuman had bagi laki-laki yang menyetubuhi perempuan yang belum dewasa yang memungkinkan untuk disetubuhi. Sebab, pemenuhan syahwat lakilaki tersebut dapat terpenuhi sebagaimana ia bersetubuh dengan perempuan dewasa (Audah: 1992). Ada pun bentuk hukumannya adalah rajam apabila pelaku telah menikah (muhshan) atau cambukan sebanyak 100 kali jika pelaku masih bujang.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved