Senin, 20 April 2026

Luar Negeri

Sosok Kolonel Mamady Doumbouya Pemimpin Kudeta Guinea, Tentara Culik Presiden Bubarkan Pemerintah

Dengan dikelilingi oleh anak buahnya yang bersenjata lengkap, Kolonel Mamady Doumbouya menyatakan akan membentuk pemerintahan transisi.

Editor: Faisal Zamzami
VIDEO SCREENGRAB via Sky News
Kolonel Mamady Doumbouya, pemimpin kudeta Guinea ketika tampil di televisi. Guinea mengalami kudeta dengan Presiden Alpha Conde diculik.(VIDEO SCREENGRAB via Sky News) 

SERAMBINEWS.COM, CONAKRY - Sosok yang merupakan pemimpin kudeta Guinea muncul di televisi dan memberikan pernyataan mengenai aksinya.

Dengan dikelilingi oleh anak buahnya yang bersenjata lengkap, Kolonel Mamady Doumbouya menyatakan akan membentuk pemerintahan transisi.

Doumbouya memulai karier militer dengan bergabung bersama Legiun Perancis, sebelum pulang dan memimpin unit elite Guinea.

Mendapatkan pangkat Kolonel pada 2020, dia disebut berusaha supaya pasukan khusus yang dipimpinnya mendapatkan otoritas lebih besar.

"Kami sudah membubarkan pemerintahan dan institusi. Kami menyerukan saudara kami melebur bersama rakyat," kata dia.

Tidak hanya membubarkan pemerintah, militer juga menculik Presiden Alpha Conde, sosok yang membentuk unit elite yang dipimpin Doumbouya.

Pengumuman di televisi tersebut terjadi setelah kabar suara tembakan yang didengar dekat istana kepresidenan di Conakry.

Dalam pidatonya, Doumbouya menegaskan dia tidak akan lagi memercayakan politik kepada satu orang, melainkan kepada rakyat.

Video yang beredar memperlihatkan tentara menahan Presiden Conde, dengan keberadaannya belum diketahui.

Dilansir Sky News Minggu (5/9/2021), popularitas Conde menurun sejak dia menjabat di periode ketiga pada Oktober 2020.

Conde disebut mengubah konstitusi supaya dia berkuasa lagi, kebijakan yang ditentang oposisi dan menyebabkan puluhan orang tewas dalam aksi protes.

Kemarahan rakyat Guinea mencapai puncaknya ketika pemerintah menaikkan pajak dan harga bensin sampai 20 persen.

Kolonel Doumbouya mengeklaim dia bertindak atas nama sekitar 12,7 juta rakyat di negara Afrika Barat tersebut.

Dia mengatakan, mereka tidak membuat kemajuan dalam bidang ekonomi sejak merdeka dari Perancis pada 1958.

Setelah 1958, Guinea dipimpin sejumlah penguasa otokratis hingga di 2010, Conde berkuasa dalam pemilihan demokratis pertama.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved