Berita Aceh Timur
Bandar Blang Seuguci Idi Tunoeng Pusat Perniagaan dan Perdagangan Pantai Timur Aceh Abad 16-19
Bandar/Pelabuhan Blang Seguci ini salah satu pusat perniagaan dan perdagangan lada dan pala, bagian dari Pantai Timur dan aset histori yang tidak teru
Penulis: Zubir | Editor: Mursal Ismail
Hasil tanaman lada dan pala dari berbagai kebun tersebut, kemudian diangkut ke lokasi Bandar/pelabuhan Blang Seuguci (persis di jembatan Blang Seuguci bagian utara sekarang).
Lada dan pala yang dikarungkan dan dimuat ke dalam Tongkang, yang siap menunggu pada berlabuh Blang Seguci.
Menurut sumber informasi Sekdes Blang Seuguci bahwa rutenya melalui sungai yang hilir mudik sekitar 6 Km, ke Kuala Idi Rayeuk.
Misalnya Blang Seuguci, Bantayan Barat, Bantayan Timur, Meunasah Pu’uk, Keudee Blang, Gampong Jalan, Gampong Baro.
Kemudian Kuala Pusong sampai ke Kuala Idi Rayeuk, kawasan Selat Malaka yang merupakan rute perdagangan Internasional antara Timur dan Barat.
Walaupun Bandar/pelabuhan Blang Seuguci bagian dari pantai timur Aceh, tetapi pedagang eksportirnya sebagian besar berasal dari Asia, Cina, India, Gujarat, Persia dan Madinah sewaktu Aceh masih menjalin hubungan dengan Khalifah Turki Usmany sampai abad ke-19 Masehi.
Tetapi tatkala masuknya pengaruh Eropah dan terbukanya terusan Suez (1869), kedaulatan Aceh menurun drastis yaitu Belanda memaksa Aceh dengan “Traktat Sumatra” (1871).
Sehingga posisi kedudukan Uleebalang Idi dan sekitarnya sudah terancam sebagai akibat intervensi Pax Nerlandica dikawasan Selat Malaka.
Sampai tahun 1902, peran penting Uleebalang Simpang Ulim, Idi, dan Peureulak sudah menjadi dibawah kendali kekuasaan Pemerintah Belanda di pantai timur, termasuk Kuala Idi dan Bandar/pelabuhan Blang Seguci dibawah kontrol mereka.
Sewaktu De Schemaker menjadi Asisten Residen Idi (1902), sebagai tindak lanjut dari program pemberdayaan perekonomian rakyat selama politik pasifikasi dan merintis rute baru dengan memperkenalkan rute kereta api sepanjang 3 km dari Idi ke selatan, "yaitu Bandar Blang Seguci melalui Bantayan sebagai jalur angkutan hasil perkebunan”.
Di samping itu pula bahwa jalur Idi–Blang Siguci menjadi sarana untuk angkutan hasil perkebunan tradisional (lada dan pala) dan perkebunan modern (getah dan sawit) dari Paya Peulawi, Keude Geurubak dan sekitarnya.
Sewaktu Pemerintah Belanda, berkuasa di Aceh bahwa peran penting Bandar Blang Se Guci fungsinya menjadi dualisme transportasi.
Pertama rute Blang Se Guci-Idi-Peureulak-Langsa dan Langsa Bay sebagai rute angkutan penumpang umum, lada dan pala, karet dan sampai sawit yang dimuat dari Blang Se Guci dan dikirim pelabuhan Kuala Langsa, dan Pangkalan Susu. Dari dermaga Pangkala Susu di ekspor ke Singapura dan Belanda (Eropa Barat).
Di bidang militer fungsinya kereta api dijadikan angkutan serdadu/tentara yang diangkut dari markas militer, asal Lhokseumawe dan Idi untuk dikirim ke lokasi-lokasi bergejolah perlawanan pemberontakan yang melawan Belanda di pendalaman Aceh. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/sejarah-blang-seguci.jpg)