Breaking News:

Salam

Mencermati Survei Menjelang Pemilu

Lembaga Riset Independen INDex Indonesia akhir pekan kemarin merilis hasil survei terbaru mengenai tokoh-tokoh

Editor: hasyim
Ilustrasi 

Lembaga Riset Independen INDex Indonesia akhir pekan kemarin merilis hasil survei terbaru mengenai tokoh-tokoh yang muncul sebagai presiden dan wakil presiden di Pamasuka (Papua Maluku Sulawesi Kalimantan). Direktur Eksekutif Index Indonesia Agung Prihatna menjelaskan, ada lima nama paling populer di mata responden yang dianggap berpotensi sebagai calon presiden Indonesia tahun 2024. Yaitu Prabowo Subianto (popularitas 98.3 persen), Anies Baswedan (95.4 persen), Puan Maharani (88.9 persen), Ganjar Pranowo (70.4 persen), dan Airlangga Hartarto (51.4 persen). "Ketika dipancing dengan pertanyaan tertutup, responden rata-rata mengenal nama-nama tersebut," kata Agung dalam rilis survei secara virtual.

Cakupan Survei ini adalah empat kepulauan besar di Indonesia, selain Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara. Survei Index Indonesia dilakukan pada 22-31 Agustus 2021 dengan 1.000 resonden ini, muncul sebagai tokoh potensial Capres menurut masyarakat Pamasuka tak jauh-jauh dari nama-nama yang sudah sering disebut-sebut di berbagai survei sebelumnya dan sudah menjadi perbincangan publik selama ini. "Namun yang memiliki nilai popularitas ideal hanya tiga, yaitu Prabowo Subianto, Anies Baswedan dan Puan Maharani, yang dikenal lebih dari 85 persen masyarakat Pamasuka. Namun, popularitas belum tentu seiring dengan akseptabilitas. Soal seberapa diterima mereka oleh publik sebagai Capres, petanya jadi berbeda." Itulah survei, yang secara ilmiah mestinya kita bisa percaya. Sudah biasa hasil survei politik dipakai banyak pihak sebagai alat ukur untuk berbagai kepentingan.

Namun, fenomena survei politik yang berkembang di Indonesia pasca reformasi, ternyata pernah ternodai karena ada lembaga survei yang tidak bisa menjaga kepercayaan publik. Ada yang terbukti melacurkan diri dengan merilis hasil survei hanya berdasarkan pesanan, bukan data valid yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itu, kita perlu cermat memaknai hasil survei yang dirilis menjelang pelaksanaan Pemilu.

Dari beberapa referensi diketahui bahwa survei politik sebenarnya dilakukan untuk mengetahui opini masyarakat terhadap bakal calon pemimpin di tingkat daerah dan nasional, termasuk tingkat elektabilitas parpol. Survei politik juga digunakan untuk mengetahui peluang meraih kemenangan dalam kontes politik dan menjadi dasar penentuan strategi kampanye. Namun, tak jarang survei juga dijadikan alat untuk membentuk opini publik. Survei politik juga bisa menjadi magnet untuk menarik orang memilih pasangan calon atau parpol yang unggul dalam survei.

Para pengamat dan pakar politik sudah sering mengingatkan para pemilih supaya lebih jeli menangkap dan mencerna hasil survei. Lembaga-lembaga survei yang kredibel bisa menjadi referensi untuk mengetahui opini publik terhadap capres-cawapres dan parpol. Lembaga survei yang kredibel diketahui dari rekam jejak selama ini, termasuk saat merilis hasil hitung cepat (quick count) pilkada dan pilpres tahun 2019.

Hasil-hasil survei yang dirilis belakangan ini bisa menjadi pisau bermata dua, yakni potret opini masyarakat, tetapi bisa juga bertujuan menggiring opini publik ke calon kontestan tertentu. Keputusan menjadikan hasil survei sebagai referensi saat pencoblosan atau tidak, sepenuhnya berada di tangan pemilih, karena sesungguhnya survei politik yang kredibel adalah cermin yang tak mungkin berbohong dan haram dimanipulasi.

Kita sangat mengapresiasi hasil survei yang dirilis lembaga Index Indonesia. Hasil survei itu setidaknya menjadi gambaran awal bagi publik atas desas desus bursa capres yang berkembang selama ini. Akan tetapi, survei yang hanya mengambil sampel di sebagian Indonesia wilayah timur dan tengah, tentu belum bisa menggambarkan pendapat publik Indonesia secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, untuk membekali bahan pertimbangan publik secara keseluruhan dalam menimbang-nimbang calon pilihan, maka kita berharap survei juga dilakukan di wilayah Indonesia bagian barat, yakni Jawa, Sumatera, dan wilayah lainnya yang belum disurvei. Dengan demikian manyarakat akan mendapat gamaran secara lengkap, tidak sepenggal-penggal. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved