Breaking News:

Investasi

Investasi di Aceh Mandek

Pelaku investasi di Aceh yang sudah angkat kaki, seperti perusahaan Semen Indonesia di Laweung, Pidie dan investasi KEK di Ladong, Aceh Besar.

Penulis: Mawaddatul Husna | Editor: Taufik Hidayat
Dok Serambinews.com
Presiden Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah, Aulia Prasetya dan Presiden Mahasiswa UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Ahmad Jaden saat menjadi narasumber dalam Serambi Podcast dengan tema “Kenapa Investasi di Aceh Mandek?” yang disiarkan langsung melalui Facebook Serambinews.com dan Radio Serambi FM 90,2 MHz, Senin (20/9/2021). 

Laporan Mawaddatul Husna | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Sejumlah program yang semula digagas oleh Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah seperti investasi, mengalami kemandekan pada era kepemimpinan sekarang.

Investor yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Bahkan yang sudah investasi di Aceh sudah angkat kaki, seperti perusahaan Semen Indonesia di Laweung, Pidie dan investasi KEK di Ladong, Aceh Besar.

Terkesan Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Nova berjalan sendiri tanpa peduli terhadap masukan dari berbagai pihak, termasuk DPRA.

“Perlu kita akui Pemerintah Aceh banyak menggagas investasi yang ada di Aceh, tapi seperti yang kita lihat hari ini semuanya nihil. Banyak yang digagas tapi hasilnya tidak ada, jadi ini ada permasalahan. Apa yang terjadi di pemerintahan saat ini? Apakah mereka tidak mampu? Kalau dikatakan tidak mampu, banyak pakar-pakar hebat yang seharusnya mampu melakukan itu. Artinya apa? Ada kontrol dari pemerintah hari ini yang tidak maksimal,” kata Presiden Mahasiswa Universitas Serambi Mekkah, Aulia Prasetya saat menjadi narasumber dalam Serambi Podcast dengan tema “Kenapa Investasi di Aceh Mandek?”.

Program yang dipandu Host, Jurnalis Serambi Indonesia, Mawaddatul Husna ini juga menghadirkan narasumber lainnya, Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Banda Aceh, Ahmad Jaden.

Program yang bekerjasama dengan Hurriah Foundation ini disiarkan langsung melalui Facebook Serambinews.com dan Radio Serambi FM 90,2 MHz, Senin (20/9/2021).

Baca juga: VIDEO Bersaing dengan Empat Negara, Murid SD di Aceh Tamiang Berhasil Juara Pantun Internasional

Baca juga: Foto Sikap Berdiri Nova Iriansyah di Depan Jokowi Viral di Media Sosial, Ini Kata Tokoh Adat Aceh

“Berbicara investasi hari ini, apabila pemerintah serius terhadap investasi bukan sekedar mencari investor, tapi juga bagaimana mempersiapkan apa yang ada di Aceh. Hari ini kita hadirkan investor tapi di Aceh tidak ada persiapan. Nah, ini juga menjadi persoalan,” kata Aulia.

Ia menambahkan Aceh dengan dana otsus yang banyak namun masih menjadi daerah termiskin. Ia menilai hal itu artinya ada segelintir oknum elit dari pemerintah yang ingin menggarap keuntungan untuk pribadi atau kelompok.

“Inilah yang menyebabkan investasi yang ada di Aceh mandek,” sebutnya.

Sementara Presiden Mahasiswa UIN Ar Raniry, Ahmad Jaden menyampaikan investor yang masuk ke Aceh tidak bisa hanya memandang peraturan-peraturan yang ada di nasional saja yaiti ada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007. Di Aceh juga ada UUPA yaitu UU Nomor 5 Tahun 2009 yang narasinya sama-sama tentang penanaman modal. “Rata-rata investor yang masuk ke Aceh itu hanya melihat secara nasional saja, dan tidak mengetahui yang UUPA-nya. Nah itu mungkin kendala juga,” sebutnya.

Baca juga: Dinkes Beri Sanksi untuk Kepala Puskesmas Patek yang Parkir Ambulans di Lokasi Wisata

Baca juga: KIP Aceh Selatan Gelar Pleno Verifikasi Pemenuhan Persyaratan Calon PAW Anggota DPRK

Ia melanjutkan saat ini dalam narasi Pemerintah Aceh membuka seluas-luasnya investasi dari swasta, lokal, nasional, hingga internasional. Namun dalam perjalanan lobi Pemerintah Aceh dalam hal ini agak lebih ke internasional.

“Jadi kesiapan kita Aceh menyambut investor internasional oke, tapi ketika menyambut investor nasional dan lokal birokrasi dan perolehan perizinan itu cocok tidak?,” sebutnya.

Terkait dengan investasi oleh Uni Emirat Arab (UAE) di Kepulauan Banyak, Aceh Singkil, Jaden mengatakan berdasarkan diskusinya dengan warga setempat saat pelaksanaan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di daerah tersebut menyampaikan secara awam masyarakat tersebut tidak setuju, karena pandangan mereka ke tambang dan hal-hal lain yang merusak alam. Tapi investasi yang dimaksudkan itu adalah resort.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved