Senin, 4 Mei 2026

Internasional

Inggris Rencanakan Impor Tenaga Listrik Angin dan Surya dari Maroko, Melalui Kabel Laut

Pemerintah Inggris telah memiliki rencana mengimpor listrik terbarukan ke negaranya. Direncanakan, bersumber dari pembangkit listrik tenaga angin

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP
Kincir Angin di London Raya, Inggris 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Pemerintah Inggris telah memiliki rencana mengimpor listrik terbarukan ke negaranya.

Direncanakan, bersumber dari pembangkit listrik tenaga angin dan surya raksasa di Maroko, yang terhubung ke daratan Inggris melalui kabel bawah laut raksasa.

Dave Lewis, mantan CEO raksasa ritel Tesco, memimpin tawaran oleh perusahaan rintisan energi Xlinks.

Dilansir AFP, Minggu (26/9/2021), tugas utama menyediakan hingga 8 persen kebutuhan listrik Inggris dari sebuah situs di Maroko selatan.

Lokasi yang diusulkan, di Guelmim-Oued Noun, akan mencakup area seluas London Raya.

Baca juga: Perusahaan Listrik Lebanon Krisis Bahan Bakar, Negeri Terancam Gelap Gulita

Dimana, akan menjadi tuan rumah cuaca cerah dan berangin secara konsisten.

Menjadikannya optimal untuk memasang ladang angin dan surya.

Tetapi, akan dihubungkan ke Inggris melalui kabel listrik sepanjang lebih dari 3.800 km.

Dipasang di lepas pantai Portugal, Spanyol dan Prancis, dengan keseluruhan proyek diperkirakan menelan biaya sekitar 22 miliar dolar AS, sekitar Rp 314 triliun.

Namun, Lewis mengatakan rencana itu hanya akan berjalan dengan jaminan dari pemerintah Inggris, yang belum datang.

"Ini sepenuhnya konsisten dengan strategi energi Perdana Menteri Boris Johnson," katanya kepada The Times.

“Ini energi terbarukan, tetapi energi terbarukan dengan biaya lebih rendah dan lebih andal daripada opsi saat ini, jadi apa yang tidak disukai?" ujarnya.

“Tetapi membutuhkan pemerintah untuk melangkah maju dalam peran kepemimpinan dan terlibat dengan proyek inovatif," ujarnya.

Baca juga: Pembangkit Listrik Tenaga Surya Abu Dhabi di Togo Berhasil Beroperasi Secara Penuh

Dia menjelaskan pemerintah belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.

Munculnya rencana tersebut saat Inggris menghadapi krisis energi dengan kenaikan harga bahan bakar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved