Senin, 27 April 2026

Internasional

Taliban Ancam Keluarga Mahasiswa Afghanistan di Inggris

Keluarga warga Afghanistan yang sedang belajar di Inggris diancam oleh Taliban, kata seorang politisi Inggris.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Anggota Taliban mendirikan pos pemeriksaan di Kabul, Afghanistan. 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Keluarga warga Afghanistan yang sedang belajar di Inggris diancam oleh Taliban, kata seorang politisi Inggris.

Lima mahasiswa Afghanistan Universitas Sussex dengan beasiswa Chevening yang dievakuasi dari Afghanistan tidak diizinkan membawa keluarga ke Inggris.

Anggota parlemen Partai Hijau Inggris Caroline Lucas, Selasa (28/9/2021) mengatakan di bawah aturan Kantor Luar Negeri Inggris, mahasiswa hanya ditemani keluarga dekat.

Seperti pasangan atau anak-anak di bawah usia 18 tahun, lansir The Guardian.

Para mahasiswa memberi tahu Lucas, telah menerima pesan WhatsApp dari Taliban yang mengancam nyawa tanggungan mereka yang sudah lanjut usia.

Termasuk saudara kandung mereka yang masih berada di Afghanistan.

Lucas berkata lima mahasiswa itu benar-benar putus asa tentang keselamatan keluarga mereka dengan kesedihan yang meningkat.

Baca juga: Taliban Minta Dunia Lanjutkan Penerbangan ke Negaranya, Bandara Kabul Siap Beroperasi Penuh

Dikatakan, seusai mengetahui keluarga mereka berada dalam risiko justru karena keputusan untuk mengambil penempatan di Chevening.

Dia menambahkan ayah dari dua mahasiswa telah dibunuh oleh Taliban dua tahun lalu.

Satu mahasiswa mengaku telah mendengar laporan kelompok itu telah menekan seorang kerabatnya.

Mantan pemimpin Partai Hijau itu mengatakan telah mengangkat masalah ini dengan Kantor Luar Negeri, Kantor Dalam Negeri, dan sekretariat Chevening.

Tetapi hanya menerima keheningan yang memekakkan telinga sebagai tanggapan.

Dia menuduh pemerintah Inggris gagal memberikan jaminan yang jelas kepada orang-orang yang berusaha meninggalkan Afghanistan.

Inggris telah berjanji menerima 5.000 pengungsi dalam 12 bulan pertama dan hingga 20.000 selama periode lima tahun.

Skema ini belum dimulai.

Dalam sepucuk surat kepada Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Lucas mengatakan telah memberi tahu Parlemen, individu perlu menunggu skema dibuka.

Baca juga: Menteri Luar Negeri Pakistan Bongkar Rencana Pemerintahan Taliban di Afghanistan

Tetapi tidak memberikan indikasi kapan itu akan terjadi.

Dia menunjukkan sejumlah warga negara Inggris dari Afghanistan yang tinggal di daerah pemilihannya yang mencari bantuan skema itu akan kelebihan permintaan.

Suratnya menambahkan perkiraannya, berdasarkan beban kasus, mungkin ada lebih dari 33.000 anggota keluarga saja yang memenuhi kriteria skema.

Apalagi mereka yang termasuk dalam kelompok berisiko tertentu, sehingga bahkan 20.000 tempat selama lima tahun gagal secara memalukan.

“Pemerintah tampaknya tidak tahu berapa banyak dari 5.000 tempat dalam skema yang perlu dialokasikan dalam contoh pertama untuk warga Afghanistan yang memenuhi syarat," katanya.

Lucas juga menyoroti kesulitan bagi warga Afghanistan untuk memberikan biometrik yang diperlukan untuk visa, yang tidak tersedia di Afghanistan.

Baca juga: Pengusaha Herat Keluhkan Kutipan Pajak Taliban dan Barang Menumpuk di Bea Cukai

Dia menuntut pengabaian persyaratan visa bagi anggota keluarga warga negara Inggris yang masih terjebak di negara itu.

Kantor Dalam Negeri Inggris mengatakan akan ada lebih banyak orang yang ingin datang ke Inggris di bawah skema ini daripada tempat yang ada.

Dia menambahkan pihaknya mengambil pendekatan yang dipertimbangkan, bekerja dengan mitra internasional dan organisasi non-pemerintah.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved