Rabu, 27 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Kabar Gembira Bagi Petani di Aceh, Permintaan Nilam di Eropa Terus Meningkat 

Martin menyampaikan, ada peningkatan permintaan dari Eropa terhadap bahan baku industri dari Indonesia. Bahkan, Uni Eropa akan terus mendukung...

Tayang:
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Nurul Hayati
For Serambinews.com
Uni Eropa melalui ARISE Plus Indonesia dan Bappenas menyelenggarakan webinar yang membahas tentang nilam Aceh, pada Kamis (30/9/2021). 

Sementara Kepala ARC-PUIPT Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala (USK), Syaifullah Muhammad yang menjadi salah satu pembicara menguraikan perkembangan nilam di Aceh, sejak dari masa Kolonial Belanda hingga saat ini. 

Syaifullah menjelaskan, bahwa nilam Aceh memiliki sejarah yang panjang dan hingga saat ini tetap menjadi salah satu komoditi unggulan dari Aceh yang telah mendapatkan Sertifikat Indikasi Geografis dari Depkumham RI. 

Selama bertahun-tahun, produksi nilam Aceh semakin menurun akibat konflik berkepanjangan dan tata niaga yang tidak terjaga dengan baik. 

“Saat ARC Universitas Syiah Kuala bersama Bappeda Aceh melakukan kajian 5-6 tahun lalu, wilayah produksi nilam di Aceh hanya tinggal 4-5 kabupaten lagi," sebutnya. 

Namun setelah berbagai program dilaksanakan melalui kerja sama penta helix antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan media, sudah ada 16 kabupaten yang kembali menanam nilam. 

“ARC telah melakukan berbagai inovasi teknologi, sehingga memungkinkan pemurnian minyak nilam hingga kandungan Patchouli Alkohol (PA)-nya mencapai 85%, bahkan dapat diproses menjadi kristal patchouli dengan konsentrasi PA 98-99%," jelasnya.

Produk intermediate ini dapat dimanfaatkan oleh UMKM, untuk memproduksi berbagai produk turunan seperti parfum dengan kualitas tinggi.

Sehingga memberi nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan peningkatan ekonomi lokal.

Syaifullah yang saat ini juga menjabat Ketua Badan Pengembangan Bisnis USK berharap, 10-20% minyak nilam Aceh dapat diproses lebih lanjut menjadi hi-grade patchouli yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk inovasi.

Diskusi yang dipandu oleh Henry Sandee, ARISE Plus Indonesia Expert asal Belanda, juga memaparkan pandangan pembeli internasional seperti Mostapha Bensalah dari Natgreen Perancis, Ard Verloop, CEO PT Natura Aromatik Nusantara, Floris Graziosi, Manajer PT Florindo Selaras Karya, Ruth Joanna Samaria Atase Perdagangan Indonesia KBRI Paris dan dari berbagai institusi lainnya.

Para pelaku bisnis nilam internasional ini memberi beberapa catatan penting agar, industri nilam di Aceh bisa memperoleh berbagai sertifikasi yang diperlukan oleh market (pasar) internasional. 

Selain itu juga penting menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan (sustainable farming) yang memperhatikan kelestarian lingkungan. 

Acara diskusi ditutup oleh sambutan Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Bappenas, Ahmad Dading Gunadi yang menyampaikan kegembiraan dan kepuasannya dari hasil webinar ini. 

Dading menyampaikan, komitmen pemerintah untuk terus terlibat bagi pengembangan nilam dan industri atsiri.

“Dari seminar ini saya sangat menikmati, begitu banyak dan kaya informasi penting yang telah disampaikan. Saya semakin yakin untuk mewujudkan Major Project Nilam Aceh di 2022," katanya.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved