Opini

Wirid ala Tarim di Dayah Madani

Sabtu, 6 Muharam 1444 Hijriah pukul 16.00 WIB. Untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki

Editor: hasyim
IST
RIZKY RAMADHANA AR, Santri Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga asal Langsa dan pengelola majalah Umdah, melaporkan dari Samalanga, Bireuen 

Oleh. RIZKY RAMADHANA AR, S.Sos.,

Santri Dayah MUDI Mesra Samalanga dan Guru Dayah Madani Al-Aziziyah, berasal dari Kota Langsa, melaporkan dari Darul Imarah, Aceh Besar

Sabtu, 6 Muharam 1444 Hijriah pukul 16.00 WIB. Untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di bumi Madani Al-Aziziyah setelah empat jam bertolak dari Dayah MUDI Mesra Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Salah satu program Dayah MUDI dalam menyukseskan ‘beut-seumeubeut’ (urusan pengajian) adalah mengirimkan santri kelas tautiah ke dayah-dayah cabang, baik di Sumatera Utara maupun Aceh. Nantinya, kami akan menyeruput suasana baru dan menyelami lingkungan dayah yang sudah pasti seru.

Tiba di Dayah Madani kami disambut dengan ramah oleh Teungku Ari dan beberapa guru lainnya di bawah balai berukuran 1,5x4 meter. Kami duduk beralaskan bambu dan beratapkan daun rumbia. Sederhana, karena nyaman tidak harus mewah. Sajian kopi dan gorengan menemani pertemuan sore itu.

Dayah Madani berdiri pada Maret 2011, berlokasi di Jalan Teuku Imuem Hamzah, Gampong Lampeuneurut Ujong Blang, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar. Pesantren ini dipimpin oleh Abiya Dr H Muhammad Hatta Lc MEd yang masyhur dengan sebutan Abiya Madani.

Beliau adalah alumnus Dayah MUDI sekaligus doktor di Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.

Selain aktif  beut-seumebuet, beliau sosok yang gemar menulis. Kitab “Talkhisul Mantiq dan Masail Faraidh” yang hari ini dipakai untuk muthalaa’ah oleh santri dayah di Aceh adalah buah pena beliau.

Nama Madani sendiri adalah tafa’ul dari Madinahnya Rasulullah saw, sebagai tanah yang berkah dan mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar. Diharapkan, Dayah Madani bisa mempersatukan umat. Asrama, tempat santri istirahat, juga dinamai dengan nama nama sahabat utama Rasulullah saw. Misalnya, Asrama Abu Bakar adalah asrama pertama, hijau dan sederhana. Kemudian, Asrama Umar, Asrama Ali, dan Asrama Utsman.

Pagi hari adalah waktu favorit saya naik ke lantai tiga Asrama Utsman. Tujuannya, mengontrol santri untuk bergegas naik ke balai masing-masing. Di sini saya menyaksikan mentari perlahan naik. Warna-warni kubah masjid sekitar dayah, bila langit cerah akan tampak Gunung Seulawah dari kejauhan. Juga terlihat bukit-bukit kecil lainnya yang mengelilingi Madani, tak terkecuali tampak Tribun Stadion Harapan Bangsa.

                                                     Rattibul Haddad dan Attas

Saya sempat bertanya-tanya perihal buku kecil yang selalu dibawa oleh santri Madani. Buku apa itu, apa isinya, dan mengapa selalu adik-adik itu bawa?  Ternyata itu adalah Khulasah Al-Maddad. Kumpulan wirid Nabawi yang disusun oleh Al-Habib Umar bin Hafidh, ulama besar asal Tarim, Yaman.

Selain konsep dayah Aceh pada umumnya, tahun 2018 seusai berziarah ke Tarim, Abiya Hatta mulai mengadopsi manhaj ala Ba’lawi di Dayah Madani. Beliau dan santrinya mengamalkan ratib-ratib yang familier dari keturunan Rasulullah dan memperbanyak membaca zikir-zikir ma’tsur.

Dayah Madani juga dayah yang sering kali disinggahi habaib dari Yaman, sebelum mereka melakukan safari dakwah di Aceh.

Rattib adalah kumpulan zikir dan doa yang dikumpulkan untuk mengingat Allah, memohon kebaikan, dan meminta perlindungan. Ratib juga sebagai jembatan bagi seseorang untuk makrifat kepada Allah. Rattibul Haddad disusun oleh Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad, salah seorang ulama Tarim, Yaman. Ratibul Hadad disusun pada tahun 1071 Hijriah, bermula ketika para pemuka Hadramaut merasa khawatir akan masuknya kelompok Syiah Zaidiyah di wilayah Hadramaut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved