Opini
Wirid ala Tarim di Dayah Madani
Sabtu, 6 Muharam 1444 Hijriah pukul 16.00 WIB. Untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki
Sedangkan Ratibul Attas ditulis oleh Al Habib ‘Umar bin Abdurrahman al-Attas, pribadi yang khumul (tidak ingin populer), lahir pada tahun 992 Hijriah, dan sosok guru yang telah banyak mencetak kader ulama.
Sore hari tiba, Dayah Madani disesaki oleh ratusan santri yang mengenakan jubah putih. Santri berselawat dengan hadrah, kemudian membaca Yasin. Seusai ngaji kitab kuning dan shalat Isya di musala yang berada tepat di tengah dayah para santri membaca Rattibul Haddad.
Dari jantung Dayah Madani energi tasbih, tahmid, tahlil, dan doa-doa yang terangkum dalam Rattib menyebar luas. Andai manusia bisa melihat apa yang para malaikat lakukan saat mereka bermunajat kepada Allah sungguh sedikit pembicaraannya.
Malam merupakan detik-detik yang sangat mengagumkan. Madani tidak pernah sanggup menyembunyikan pesonanya. Syekh Abu Bakar bin Ahmad al-Maliabar menyebutkan, orang yang rajin membaca Rattibul Haddad maka Allah Swt akan menjaga negaranya dari cobaan, bertambahnya kekayaan, dan kebaikan di dalam rumahnya.
Orang yang kontinyu membaca Ratibul Haddad setiap hari, maka ia akan terpelihara dari racun dan terlindung dari bintang buas. Faedah yang lain adalah dia akan meninggal dengan husnul khatimah dan Allah akan memberikan pertolongan baginya untuk mengucapkan kalimat syahadat.
Sementara, dari atas Balai Faqih Muqaddam dan Azizi sekelompok santri Madani membaca Selawat Narriyah sebanyak 4.444 kali. Dengan membaca selawat tersebut mereka berharap kebaikan daripadanya, pemeliharaan, dan kemudahan dari urusan dan meraih keberkan dari selawat.
Menjelang fajar, santri bangun dari rehat malamnya. Shalat sunah tahajud, kemudian shalat sunah fajar. Inilah momen untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada bumi dan isinya. Rattibul Attas dibaca selesai shalat Subuh. Setelah membaca tasbih, tahmid, dan takbir 33 kali.
Rasa kantuk menjadi tantangan sendiri. Tanpa ampun mata terpejam, jaga, dan terpejam lagi. Guru dari bagian ibadah mengontrol, membangunkan santri yang telanjur menyerah pada kantuknya. Lucu sekali eskpersi kantuk adik-adik ini. Demikianlah bahwa tarbiyah tidak selalu mudah.
Rattibul Attas diakhiri dengan membaca Suratul Waqi’ah. Bukan hanya wirid ala Tarim, Abiya Hatta juga memberikan nama-nama untuk balai di Dayah Madani dengan nama ulama-ulama terkemuka dari Kota Tarim.
Misalnya, ada Balai Faqqih Muqqdam, Balai Imam Haddad, Balai Imam Al-Attas, dan Balai Sayyid. Ini semua sebagai ikhtiar supaya para santri Madani termotivasi untuk mengulang kaji sejarah salafus shalih dan mencintai Muhammad saw, nabi akhir zaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rizky-ramadhana-ar-santri-dayah-mudi-masjid-raya.jpg)