Breaking News:

Opini

Perseteruan Aceh; Simbolisasi Politik“Keledai”

Saat opini ini penulis buat, mendung di langit politik pemerintahan Aceh belum ada tanda-tanda akan tersibak menjadi cerah

Editor: bakri
Perseteruan Aceh; Simbolisasi Politik“Keledai”
FOTO IST
Dr. Phil. Munawar A. Djalil. MA, Pegiat Dakwah dan Pemerhati Politik-Pemerintahan, Tinggal di  Cot Masjid, Banda Aceh

Oleh Dr. Phil. Munawar A. Djalil. MA, Pegiat Dakwah dan Pemerhati Politik-Pemerintahan, Tinggal di  Cot Masjid, Banda Aceh

Saat opini ini penulis buat, mendung di langit politik pemerintahan Aceh belum ada tanda-tanda akan tersibak menjadi cerah. Seperti tahun-tahun sebelumnya perseturan kembali terjadi antara eksekutif dan legislatif Aceh. Bak pertandingan tinju, ronde pertama perseteruan diawali dengan penolakan mayoritas fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) atas Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Gubernur Aceh tentang Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2020 dalam Rapat Paripurna DPRA beberapa waktu lalu.

Pada ronde berikutnya perseturan tidak hanya terjadi dalam ring tinju saja, di luar ring ketika masa jeda paripurna “adu jotos” pun berlanjut antara anggota dewan yang menerima LPJ dan anggota dewan yang menolak, sebagaimana terekam dalam sebuah video yang sempat viral di internet itu. Sebab LPJ Gubernur ditolak dewan, pada tahap berikutnya agar LPJ bisa sahih secara hukum maka legal standing LPJ Gubernur 2020 kemudian ditetapkan melalui Peraturan Gubernur dan telah mendapat persetujuan Mendagri.

Prolog di atas dapat memberikan sedikit review (gambaran) betapa karut marutnya politik Pemerintahan Aceh saat ini dengan tingkah polah pemimpin kita yang nyaris hampir sama setiap tahun anggaran.

Syahdan, mencermati keadaan ini, penulis menilai ada kecenderungan kedua pihak memaksa kehendak untuk berbagai kepentingan masing-masing termasuk membangun pencitraan, positive image, dan lain-lain. Di sini tampak di mana mereka saling menyalahkan, bertahan dengan keinginan dan alasan pembenar masing-masing tanpa merujuk kepada kondisi sebenarnya. Ibarat penari bodoh yang menyalahkan panggung bergoyang.

Resistensi politik ini justru yang selalu menjadi korban penderitaan adalah rakyat, yaitu 5 juta lebih manusia yang menjadi penghuni bumi Aceh, perputaran ekonomi Aceh yang stagnan akibat realisasi APBA minimalis, apalagi di tengah Covid-19 melanda semakin bertambah-tambah penderitaan itu dirasakan oleh rakyat Aceh.

Terlepas dari penilaian di atas, penulis berasumsi (semoga tidak salah) ada sesuatu yang belum tertuntaskan hingga kini sehingga penyakit lama tersebut kambuh kembali. Mungkin “politik akomodatif” yang belum berjalan sebagaimana yang diharapkan, begitu juga “supplai logistic” yang tidak merata dan lain-lain menjadi bagian dari penyakit lama yang berakibat terjadi resistensi politik.

Pun begitu mengingat dalam sebuah sistem negara demokratis, terlebih dengan sistem multipartai, ditambah Aceh adalah wilayah yang memiliki kondisi identitas sosial yang sangat beragam, tentu hal tersebut sangat memengaruhi stigma rational and real choice dalam politik Aceh. Dengan berbagai kondisi objektif seperti itu, akan bersifat sangat cair dan fleksibel jika jelas “siapa mendapatkan apa”.

Intinya, ketika terjadi ketidakpuasan dalam pembagian “siapa mendapatkan apa”, disharmonisasi akan terjadi. Sebaliknya, jika ada tawaran yang lebih menguntungkan terkait “siapa mendapatkan apa’, maka sang aktor politik akan menggunakan mekanisme rational choice (pilihan rasional) untuk memutuskan sesuatu dengan mempertimbangkan untung dan rugi secara material.

Soal “siapa dapat apa” dalam hal politik merupakan hal lumrah dan wajar. Sebab politik adalah tentang siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Jika dilihat dari paradigma realisme politik, maka sikap resistensi yang diambil oleh eksekutif dan legislatif tersebut dapat dimaknai sebagai jalan untuk mencapai kepentingan masing-masing pihak dengan cara-cara yang menurut mereka rasional.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved