Mikro Bakteri
Produk Mikro Bakteri SMK PP Saree Diminati Petani Padi, Termasuk Kebun Kurma Barbate
Setelah pelaksanaan pelatihan selesai, Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh, Achris Sarwani, melakukan rehab ruang laboratorim yang ada di SMK PP Saree, u
Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
Koordinator Lab SMK PP Saree, Ria Jayanti menyatakan, karena hasik kerja cairan mikro bakteri M-11 ini sudah menunjukkan hasil yang cukup lumayan besara terhadapa produksi padi, cabe merah, bawang merah dan liannya, sekarang ini Lab SMK PP Saree, sudah kebanjiran order cairan mikro bakteri M-11 dari berbagaia anggota kelompok tani pagi, cabe, bawang merah, jagung, perkebunan, termasuk perkebunan kurma Barbate, yang ada di Kawasan Perbukitan Blang Bintang.
“Pihak pengelola perkebunan kurma Barbate, minta dikirimi cairan mikro bakteria M-11, untuk penyuburan lahan tanaman kurmanya dan beberapa kelompok tani tamaman pangan dan perkebunan di daerah lainnya untuk penggemburan dan penyuburan hara tanahnya,” ujar Ria.
Kepala Perwakilan BI Aceh, Achris Sarwani yang dimintai tanggapannya terhadap kesuksesannya dalam melatih kelompok tani di Aceh Besar memperkenalkan kembali penyuburan tanah menggunakan mikro bakteri M-11 itu kepada Serambinews.com menggatakan, cairan mikro bakteri M-11 yang diproduksi Lab SMK -PP Saree itu, tidak hanya dibutuhkan untuk penggemburan dan penyuburan tanah secara alami, tapi cairan itu juga bisa digunakan untuk pembuatan pupuk organik dan pakan organik bagi kambing, sapi dan lainnya.
BI melakukan pelatihan pemanfaat pupuk organik bagi peningktan produksi pertanian, kata Achhris Sarwani, untuk mngembalikan pola pikir petani padi, kembali bercocok tanam menggunakan pupuk organik.
Untuk mempercepat proses pembutan pupuk organik, dibutuhkan cairan mikro bakteri pengurainya, makanya pihak BI mendatangkan Prof Dr Nugraha seorang ahli pembuat pupuk organik dari UGM, untuk membantu mengajarkan kelompok tani di Aceh cara membuat cairan mikro baketri M-11, yang murah dan meriah, tapi hasilnya memberikan manfaat yang besar bagi petani.
Untuk membuat cairan Mikro Bakteri Alfaafa M -11 nya, kata Achrris Sarwani, kita bantu peralatan laboratoriumnya dan diletakkan di SMK PP Saree. Tujuannya supaya Lab itu terus digunakan dan bila ada petani ingin belajar membuat cairan mikro bakteri yang sama, bisa datang belajar ke Lab SMK PP Saree.
Salah seorang pemuda Gampong Ie Alang Kec Kuta Cotglie, Ilham, petani muda berbakat yang masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Abulyatama semester VII, sudah berhasil menanam padi, cabe dan bawang merah menggunakan cairan mikro bakteri Alfaafa M-11.
Dengan cairan M-11 tersebut, ia bisa mengubah hara tanah lahan sawahnya jadi meningkat dan buat pupuk organik.
Dari cairan mikro bakteri Alfaafa M-11 itu, kata Achris Sarwani, Ilham petani muda itu, sudah berpenghasilan yang cukup lumyan besar.
Padi yang ditanamnya bisa menghasilkan produktivitas 10,6 ton/hektar. Ia juga sekarang sudah menjadi produsen pupuk organik, dijual kepada petanai cabe merah dan bawanag merah di Pidie. Penghasilan nya dari penjuala pupuk organik Rp 10 juta/bulan.
Dari tanam padinya, ia bisa mengdapat penghasilan Rp 40 juta/hektar, belum lagi dari hasil panen cabe dan bawang merahnya.
Ia menyatakan, jadi petani itu tidak miskin, asal mau bekerja keras, serius, berkelanjutan, sabar, tidak cepat merasa bosan dan menyerah, hasil yang diperoleh sangat besar.
“Saya tidak akan meninggalkan dunia usaha pertanian. Alasannya, usdaha pertanian bila dikelola dengan serius dan berkelanjutan, hasilnya cukup menjanjikan, memberikan harapan hidup yang lebih baik, bagi keluarga. Apalagi, produk bahan pangan organik itu, harganya lebih mahal dari produk pangan yang menggunakan pupuk kimia,” ujar Ilham.(*)