Breaking News
Senin, 18 Mei 2026

Uniknya Nama Ikan di Aceh, Penamaan Berdasarkan Ukuran Badan

Ternyata ada beberapa ikan di Aceh yang diberi nama berdasarkan ukuran badannya, sehingga ada satu jenis ikan yang memiliki tiga sampai enam nama.

Tayang:
Penulis: Yarmen Dinamika | Editor: Amirullah
Serambinews.com/YARMEN DINAMIKA
Suasana penutupan Sidang Komisi Bahasa Daerah Bidang Kemaritiman oleh Kasubbag Tata Usaha Balai Bahasa Provinsi Aceh, Agus Priatna, didampingi Redaktur Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Dewi Khairiah, di Hotel Kryiad Muraya Banda Aceh, Selasa (5/10/2021) sore. Sidang ini mengusulkan 235 kosakata bahasa Aceh yang berpotensi dijadikan entri dalam KBBI. 

Laporan Yarmen Dinamika l Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sidang Komisi Bahasa Daerah Bidang Kemaritiman yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Aceh selama dua hari (4-5 Oktober 2021) di Hotel Kryiad Muraya, Banda Aceh, mengungkap banyak hal.

Salah satunya yang mengejutkan adalah tentang penamaan beberapa jenis ikan di Aceh.

Ternyata ada beberapa ikan di Aceh yang diberi nama berdasarkan ukuran badannya, sehingga ada satu jenis ikan yang memiliki tiga sampai enam nama.

Di antara ikan yang memiliki banyak nama itu adalah 'kadra' atau 'belanuet' (belanak).

Ketika kecil (ubiet), 'kadra' dinamakan 'seurampung'.

Ketika ukurannya lebih sejengkal tangan orang dewasa itulah yang bernama 'kadra'.

Baca juga:  Pengantin Baru Dicambuk 200 Kali, Terpidana Pria Harus Dipapah Petugas Turun Panggung

Baca juga: Dianggap Lebih Sehat, Ternyata Tempe Dibungkus Daun Pisang Bisa Datangkan Bahaya Bagi Tubuh

Di atas itu dinamakan 'subon'. Nah, giliran 'kadra'-nya tumbuh sangat besar hingga beratnya mencapai 5 kg per ekor, mulai dinamakan 'rapeung'.

Namun, khusus di wilayah Tibang, Aceh Besar, 'seurampung' itulah yang dinamakan 'kadra' karena masih kecil. Ketika besar dinamakan 'belanuet'.

Ikan dengan multinama lainnya di Aceh adalah tongkol (cakalang).

Di Aceh, tongkol yang paling kecil dinamakan 'nekeng'. Ukurannya sebesar jari kelingking hingga jari jempol tangan pria dewasa.

Satu tingkat di atasnya dinamakan 'jeurebok' dengan ukuran 15-20 cm.

Di atasnya lagi ada 'suree keumong' dengan ukuran 30-45 cm. 'Suree keumong' ini dinamakan juga 'pimpik' atau 'timpik', tergantung dialek daerah.

'Suree keumong' ini biasanya paling enak dipanggang atau diolah jadi keumamah (ikan kayu).

Di atas 'sure keumong', dinamakan 'ame-ame' dengan ukuran panjang 60-80 cm. Nama Latinnya adalah Katsuwonus pelamis.

Berikutnya dinamakan 'pa-ak' yang beratnya di atas 20-25 kg.

Baca juga: Persoalan Batas Aceh-Sumut, Google Maps tidak Bisa Jadi Dasar Penetapan Batas Suatu Daerah

Jenis ikan laut komersial di perairan Aceh
Jenis ikan laut komersial di perairan Aceh (Community-based Bathymetric Survey 2009 and Panglima Laot Lhok Krueng Aceh)
Jenis ikan karang konsumsi di Aceh
Jenis ikan karang konsumsi di Aceh (Community-based Bathymetric Survey 2009 and Panglima Laot Lhok Krueng Aceh)

Yang paling besar dalam keluarga tongkol ini adalah tuna, panjangnya di atas 100 cm dengan bobot lebih dari 25 kg.

Ciri khasnya berekor kuning. Dagingnya lebih empuk dibanding tongkol. Panjangnya bisa di atas 1 meter dan lebih banyak diekspor daripada dikonsumsi di tingkat lokal.

Sesuai ukurannya, harga ikan ini pun bervariasi. 'Suree keumong' dihargakan 60.000-80.000 rupiah per ekor dan 'ame-ame' berkisar antara 100.000-140.000 rupiah per ekor. Tuna besar ada yang harganya jutaan.

Selain itu ada ikan 'sisiek itam', yakni sejenis tongkol berwarna itam dan sisiknya kecil-kecil dan lebih sedikit dibandingkan sisik ikan lainnya. Panjang ikan 'sisiek itam' ini berkisar antara 20-70 cm.

Keragaman nama dan ciri ikan tersebut terungkap dalam sesi persidangan 14 peserta Sidang Komisi Bahasa Aceh selama dua hari.

Baca juga: Tragis, Seorang Pria di Simeulue Ditemukan Tak Bernyawa dengan Muka Berlumuran Darah

Sebagaimana dikatakan Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Bahasa Provinsi Aceh, Agus Priatna, Sidang Komisi Bahasa Daerah tahun ini khusus membahas draf kosakata bahasa Aceh di bidang kemaritiman untuk pengusulan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Redaktur KBBI, Dewi Khairiah MHum yang menjadi narasumber dalam sidang komisi tersebut mengaku kagum atas keberagaman nama ikan di Aceh yang sebagian besar dinamakan berdasarkan ukuran badannya.

"Di tempat kelahiran saya, Sumatera Barat, sepertinya belum saya temukan mekanisme penamaan ikan yang seperti ini. Sungguh unik khazanah kemaritiman di Aceh," kata Dewi di akhir sidang komisi.

Sementara itu, Agus Priatna menduga nama yang beragam untuk satu jenis ikan tersebut tidak semua dicipta oleh para nelayan. Ada juga hasil kreasi dari tauke bangku dan pedagang ikan di pasar.

"Untuk membedakan harga ikan dengan ukuran tertentu, pedagang biasanya memberikan varian nama lain untuk ikan tersebut. Pembeli pun jadi mudah paham mengapa belanak atau tongkol dengan ukuran tertentu namanya lain dan harganya pun berbeda," urai Agus yang hobi memancing.

Namun, ia pertegas bahwa apa yang diutarakannya itu masih merupakan asumsi semata. "Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan asumsi ini benar atau salah," kata Agus yang kakeknya seorang pelaut di Ulee Lheue, kawasan pesisir barat Kota Banda Aceh. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved