Kamis, 16 April 2026

Banyak Masyarakat Tertipu Pinjaman Online, Presiden Jokowi Minta OJK Mengawasinya

Meski kehadiran pinjol dapat membantu masyarakat, namun menjamur layanan tersebut juga menimbulkan masalah. Banyak masyarakat yang tertipu.

INSTAGRAM/@kemkominfo
Ciri-ciri pinjaman online ilegal dan cara melaporkannya. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) angkat suara mengenai kehadiran layanan pinjaman online (pinjol) di tengah masyarakat.

Meski kehadiran pinjol dapat membantu masyarakat, namun menjamur layanan tersebut juga menimbulkan masalah.

Banyak masyarakat yang kemudian terjerat bunga pinjol yang sangat tinggi.

Awalnya Jokowi berbicara mengenai gelombang digitalisasi yang terjadi beberapa tahun terakhir. Menurutnya, digitalisasi itu dipercepat oleh adanya pandemi Covid-19.

"Kita lihat bank berbasis digital bermunculan, juga asuransi berbasis digital bermunculan dan berbagai macam e-payment harus didukung," kata Jokowi saat memberikan sambutan di acara OJK Virtual Innovation Day 2021, Senin (11/10/2021).

Di sisi lain, perkembangan digitalisasi di dunia keuangan juga menjadi pupuk munculnya penyelenggara fintech, termasuk fintech syariah.

Inovasi fintech juga semakin berkembang, dari ekonomi berbasis peer to peer hingga bisnis to bisnis.

Dari situ Jokowi kemudian berbicara mengenai fintech peer to peer lending alias pinjol yang ternyata marak terjadi penipuan. Mereka juga menerapkan bunga yang mencekik masyarakat.

Baca juga: Bom Mobil Hantam Pasar Pemberontak Suriah, Empat Orang Tewas

Baca juga: Polisi Tangkap Putra Menteri, Tabrak Mati Sembilan Petani India di Uttar Pradesh

Baca juga: China Menangkan Pertempuran Teknologi Kecerdasan Buatan dengan AS

"Saya mendengar masyarakat bawah yang tertipu dan terjerat bunga tinggi oleh pinjaman online yang ditekan dengan berbagai cara untuk mengembalikan pinjamannya," kata Jokowi.

Jokowi kemudian meminta OJK untuk menjaga momentum pertumbuhan industri jasa keuangan digital dengan menciptakan ekosistem pinjol yang bertanggung jawab serta memiliki mitigasi risiko kuat.

Ia turut meminta perkembangan ini untuk difasilitasi secara sehat agar dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat.

Jokowi mengatakan Indonesia berpotensi besar menjadi pemain utama dalam sektor digital setelah China dan India. Ia berharap ini dapat membawa Indonesia menjadi ekonomi terbesar ketujuh di dunia pada 2030.

"Jika kita kawal secara cepat dan tepat, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi raksasa digital, setelah China dan India, dan bisa membawa kita menjadi ekonomi terbesar dunia ketujuh di 2030," ujarnya.

Selain memiliki mitigasi risiko yang kuat, OJK juga diminta mendorong inklusi yang dibarengi dengan literasi keuangan agar tercipta ekosistem pembiayaan keuangan yang bisa diakses oleh berbagai pihak.

"Agar kemajuan inovasi keuangan digital memberikan manfaat kepada masyarakat luas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif," ucap Jokowi.

Baca juga: Qatar Bebaskan Tentara Afghanistan, Pembunuh Tiga Tentara Australia 2012

Baca juga: Aceh Tamiang Terima 5.300 Dosis Vaksin Sinovac, Diperkirakan Hanya Bertahan Tiga Hari

Baca juga: Eks Pegawai KPK Ini Kini Jadi Penjual Nasi Goreng, Dulu Pernah Ikut Pelatihan hingga ke Amerika

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved