Jumat, 8 Mei 2026

Sebulan Lebih Kuasai Afghanistan, Taliban Bakal Minta Ganti Rugi Miliaran Poundsterling pada Inggris

Sejak Taliban mengambil alih, ekonomi di Afghanistan berada di ambang keruntuhan.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
AFP/AAMIR QURESHI/Getty Images
Tentara Taliban berdiri dekat kendaraan yang diparkir di pangkalan Central Intelligence Agency (CIA) yang hancur di Distrik Deh Sabz, Kabul pada 6 September 2021. 

SERAMBINEWS.COM - Taliban mengambil alih Afghanistan pada 15 Agustus lalu setelah Inggris dan AS dan negara-negara lain menarik pasukan mereka.

Mereka mewarisi sebuah negara yang telah berjuang dengan kekeringan dan kemiskinan parah dari konflik sengit selama beberapa dekade.

Sejak Taliban mengambil alih, ekonomi di Afghanistan berada di ambang keruntuhan.

Sementara itu, Taliban dilaporkan akan menuntut Pemerintah Inggris membayar miliaran poundsterling sebagai ganti rugi setelah mereka mengambil alih Afghanistan.

Taliban mungkin membutuhkan uang untuk menopang ekonomi negara yang gagal.

Laporan menunjukkan Taliban percaya Inggris akan menyerah pada tuntutan mereka, melansir Express.co.uk, Senin (11/10/2021).

Kemungkinan langkah itu telah dianggap sebagai "kemarahan" oleh para veteran Inggris yang bertugas di negara itu sejak AS dan sekutunya menginvasi pada 2001.

Baca juga: Mantan Komandan Taliban Diadili di AS, Bunuh Tiga Tentara Amerika dan Culik Wartawan Pada 2008

Baca juga: Taliban Tak Bayar Tagihan Listrik, Afghanistan Terancam Kembali ke Abad Kegelapan

Berbicara kepada The Daily Mirror, Noor Mohommad Mutawakel dari Kementerian Informasi dan Kebudayaan Taliban mengatakan: "Inggris siap membayar ganti rugi perang kepada kami.

"Kami menyambut itu.

"Negara-negara lain yang terlibat dalam perang juga harus siap membayar."

Namun, sumber Whitehall (administrasi pemerintah Inggris) meragukan bahwa Inggris akan membayar.

Berbicara kepada Daily Mail, sumber itu mengatakan: "Kami belum tahu apa yang akan mereka minta.

"Itu bisa mencapai miliaran pada semua orang yang terlibat.

"Apakah kita membayarnya atau tidak, itu masalah lain."

Kolonel Richard Kemp, mantan komandan batalyon infanteri di Afghanistan, mengatakan: "Ini adalah kemarahan bagi kelompok teroris yang mengambil alih negara untuk menuntut reparasi dari negara-negara yang berperang di Afghanistan untuk mendukung pemerintah yang sah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved