Breaking News:

Kisah Ranavalona I, Ratu Paling Kejam dari Kerajaan Madagaskar, Banyak yang Berduka atas Kematiannya

Ranavalona I lahir dari keluarga sederhana, putri rakyat jelata, anggota kelompok etnis Merina yang dominan mendiami Madagaskar.

Editor: Faisal Zamzami
Via Museumfacts.co.uk
Ratu Ranavalona I dari Kerajaan Madagaskar. 

Selama pemerintahan Ranavalona I, keturunan dan penjahat akan dibuang perlahan ke dalam air mendidih dan minyak atau diikat dengan tali dan dibakar hidup-hidup.

Beberapa yang lainnya ia masukkan ke dalam peti mati dan dikubur ke lubang dengan dihujani kotoran.

Ratu paling kejam ini juga mengikuti tradisi Fanompoana, yaitu kerja paksa menggantikan pembayaran pajak dalam bentuk uang atau barang.

Dia menjual rakyatnya sebagai budak untuk meningkatkan ekonomi negara, yang melibatkan kondisi kerja yang brutal, tinggal jauh dari rumah, dan banyak kematian karena kekurangan gizi.

Ranavalona I, ratu yang paling kejam ini menjual orang-orang yang dianggap pengkhianat, korban perang, bukan pembayar pajak, atau orang Kristen yang diam-diam menjalankan agamanya.

Sekitar 20.000 hingga 30.000 orang kehilangan nyawa mereka setiap tahun karena berbagai hukuman yang diberikan oleh ratu paling kejam dari Madagaskar ini.

Akibat pemerintahannya yang paling kejam, penduduk negaranya menyusut drastis dari 5 juta menjadi sekitar 2,5 juta di akhir pemerintahannya.

Seiring waktu, ratu paling kejam ini menjadi semakin paranoid dan menggunakan metode pengadilan yang tidak manusiawi bahkan untuk pelanggaran kecil saat pemerintahannya berkembang.

Kematian Ranavalona I, ratu paling kejam

Pada 16 Agustus 1861, Ranavalona I meninggal pada usia 79 tahun saat tidur di istana Manjakamiadana.

Orang-orang berduka atas kematiannya dengan penuh hormat selama kurang lebih 9 bulan.

Ritual setelahnya melibatkan penyembelihan hewan dan membagikan daging kepada orang-orang.

Putranya, Pangeran Rakoto, menggantikan ratu paling kejam tersebut sebagai Raja Radama II.

Segera setelah itu, kebijakan tradisionalis, tirani, dan ekstremis Ranavalona I ditarik.

Di dunia modern, pemerintahan Ratu Ranavalona I dianggap kontroversial.

Sebagian besar mengutuk kekuasaannya sebagai pemimpin tiran paling kejam, sementara yang lain menghargai usahanya untuk melestarikan budaya tradisional Malagasi kuno.

Terlepas dari ke kejaman ratu Madagaskar ini dalam kebijakan domestiknya, banyak orang menganggapnya sebagai wanita dengan kekuatan terpuji dan sosok yang luar biasa dalam sejarah Malagasi.

Dengan pengetahuan metalurginya, ratu paling kejam dalam sejarah Kerajaan Madagaskar itu membantunya membangun pabrik yang memproduksi senjata dan amunisi modern.

Madagaskar makmur sebagai kekuatan militer dan akademik di bawah pemerintahan Ranavalona I.

Sebagai seorang penguasa perempuan paling kejam, Ranavalona I sadar bahwa dia akan menghadapi kesulitan memerintah orang.

Menurutnya, perempuan tidak pernah dianggap sebagai penguasa, maka dalam pidato penobatannya, ia mengingatkan: “Jangan pernah berkata, 'Dia hanya seorang wanita yang lemah dan bodoh, bagaimana dia bisa memerintah kerajaan yang begitu luas?'"

"Saya akan memerintah di sini, untuk nasib baik rakyat saya dan kemuliaan nama saya! Saya tidak akan menyembah tuhan selain leluhurku. Lautan akan menjadi batas wilayahku, dan aku tidak akan menyerahkan sehelai rambut pun wilayah saya!”

Baca juga: Menko Airlangga Hartarto Tinjau Persiapan WSBK di KEK Mandalika, Begini Sudah Perkembangannya

Baca juga: Mesir dan Hungaria Sepakati Tangani Krisis Migran, Negara Konflik dan Miskin Harus Dibantu

Baca juga: Pria Asal Medan Terekam CCTV Masjid Raya, Curi Tas Pengantin Ijab Kabul, Ditangkap di Taman Sari

Kompas.com dengan judul "Ranavalona I, Ratu Paling Kejam dari Kerajaan Madagaskar"

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved