Breaking News:

Salam

Siapa Permainkan BBM Bersubsidi?

Pengusaha SPBU sekaligus pengurus Hiswanamigas Aceh, Nahrawi Noerdin mengatakan, kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM)

Editor: bakri
For Serambinews.com
Nahrawi Noerdin 

Pengusaha SPBU sekaligus pengurus Hiswanamigas Aceh, Nahrawi Noerdin mengatakan, kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang hampir rutin terjadi setiap tahun, merupakan dampak dari penggunaan BBM bersubsidi yang belum benar-benar tepat sasaran.

Setiap menjelang akhir tahun selalu terjadi kelangkaan BBM bersubsidi, terutama biosolar di hampir semua SPBU di Aceh, bahkan di Indonesia pada umumnya. “Kelangkaan BBM bersubsidi ini terjadi karena kuota subsidinya memang sudah habis sebelum akhir tahun,” katanya.

Padahal, kuota yang diberikan pemerintah itu seharusnya cukup hingga akhir tahun. Selain kuota BBM bersubsidinya sudah diperhitungkan secara cermat dan terukur sesuai kebutuhan setiap provinsi, juga selalu ada tambahan kuota yang diberikan untuk mengantisipasi kelangkaan. Maka, menjadi aneh jika masih terjadi kelangkaan. ”Jika kemudian pada bulan Oktober saja kuota plus tambahan kuotanya sudah habis, berarti ada yang salah dengan penggunaan kuota BBM bersubsidi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa minyak subsidi ini banyak digunakan oleh yang tidak berhak,” kata Nahrawi.

Ya, pemerintah memang harus mengevaluasi penyaluran BBM bersubsidi yang sudah bertahun-tahun banyak jatuh ke tangan yang tak berhak. Dan, ternyata pula, yang bermasalah bukan hanya premium dan solar bersubsidi, tapi, menurut Kementerian Keuangan beberapa bulan lalu, penyaluran subsisi LPG 3 kilogram (kg) dan subsidi listrik hingga saat ini masih belum tepat sasaran.

Karenanya, pemerintah perlu melakukan transformasi kebijakan penyaluran subsidi. Pasalnya, hingga saat ini, lebih banyak penduduk yang masuk kategori penduduk kaya yang menikmati subsidi LPG 3 kg dibanding penduduk miskin. Pejabat Kemenkeu menegaskan, reformasi penyaluran subsidi harus segera dilakukan. Pasalnya, dengan skema subsidi terbuka untuk LPG 3 kg dan BBM seperti yang berlaku saat ini terjadi pemborosan pada anggaran.

Seorang pakar ekonomi berpendapat, untuk memastikan subsidi energi (LPG dan BBM) efektif memberikan umpan balik bagi perekonomian dan kesejahteraan, penyalurannya memang harus tepat sasaran. Yaitu hanya untuk golongan yang berhak, sesuai jumlah kebutuhan target sasaran, dan harga yang efisien.

Dan, berdasarkan amanat UU Energi, sudah seharusnya subsidi energi ditujukan hanya untuk masyarakat miskin dan rentan sehinga subsidi mencapai tujuannya. Sekaligus, subsidi energi yang tepat sasaran akan meningkatkan efisiensi belanja negara dan kemampuan fiskal pemerintah demi memperkuat perlindungan sosial.

Disarankan, perbaikan kebijakan subsidi energi agar tepat sasaran harus dilakukan secara bertahap dan berhati-hati, melihat kondisi perekonomian maupun sosial masyarakat. Diperlukan dukungan dari seluruh komponen bangsa, terutama masyakat untuk dapat beradaptasi dengan perubahan yang menuju ke arah perbaikan. Juga diperlukan dukungan dari seluruh komponen bangsa, terutama masyakat untuk dapat beradaptasi dengan perubahan yang menuju ke arah perbaikan.

Adanya oknum yang suka mempermainkan LPG dan BBM bersubsidi, sesungguhnya bukan rahasia. Alalagi, pihak kepolisian sudah sering meringkus dan mengungkap modus penyelewengan energi bersubsidi itu. Akan tetapi karena hukuman atau sanski yang diterima sering rada ringan, maka penyelewengan terus terjadi. Yakni, hal orang miskin dinikmati dan memperkaya orang mampu. Padahal, dalam setiap pelaksanaan distribusi BBM bersubsidi, Pertamina memiliki mekanisme sanksi agar distribusi tetap berjalan sesuai ketentuan. Sanksi  internal, jika ada pekerja Pertamina maupun mitra kerja yang terlibat, maka Pertamina akan menyerahkan kepada pihak berwajib untuk diproses secara hukum.

Sesuai UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, penyimpangan dalam distribusi BBM Subsidi terancam sanksi pidana kurungan 6 tahun penjara dan denda sampai dengan Rp 6 miliar. Namun, inilah yang belum diterapkan secara tegas. Atau, jangan-jangan ada maling yang teriak maling?

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved