Breaking News:

Jurnalisme Warga

Vaksinlah Sewaktu Sehat

Coronavirus Desease 2019 yang disingkat Covid-19 merupakan nama virus yang diberikan oleh International Classification of Deseases (ICD)

Editor: bakri
Vaksinlah Sewaktu Sehat
FOR SERAMBINEWS.COM
CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen FE Umuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dariĀ  Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Wakil Rektor II Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), Dosen FE Umuslim, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Bireuen

Coronavirus  Desease  2019  yang disingkat Covid-19 merupakan nama virus yang diberikan oleh International Classification of  Deseases (ICD). Pemberian nama resmi ini dilakukan melalui press release dan diumukan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) pada 11 Februari 2020 sejak Covid  ditemukan pada akhir tahun 2019 di Kota Wuhan, Cina.

Diduga, virus corona berasal dari makanan beku yang masuk dari luar Cina di pasar basah Wuhan. Virus ini telah menggemparkan dunia dan memengaruhi hampir seluruh tatanan hidup manusia. Perekonomian melemah, penyelenggaraan pendidikan berubah, kehidupan sosial juga terdampak parah, bahkan mampu menurunnya tingkat kesejahteraan umat manusia.

Pada Januari 2020, saya dan keluarga sempat jalan-jalan ke beberapa negara ASEAN. Saat itu,  semua tempat wisata yang kami datangi ramai dikunjungi wisatawan. Semua aspek kehidupan saat itu masih normal. Menjelang akhir Januari kami kembali ke tanah air.

Satu bulan berada di kampung halaman, muncullah berita-berita tentang Covid-19 di berbagai media elektronik dan cetak, termasuk berita di salah satu negara yang kami kunjungi.

Rasa takut menghadapi pandemi mewarnai hari-hari yang saya lewati bersama keluarga. Namun, karena yakin bahwa pada saat kami berada di luar negeri kondisi semuanya baik-baik saja. Begitu juga saat kembali ke tanah air. Aceh masih dalam kondisi aman dari Covid masa itu. Informasi Covid setiap hari saya update, termasuk cara-cara pencegahannya, karena tidak ingin penyakit itu menimpa saya dan keluarga, termasuk juga tetangga di seputaran tempat tinggal saya.

Namun, kenyataan berkata lain, suatu pengalaman yang sulit saya lupakan seumur hidup saat divonis terinfeksi Covid-19, walapun telah mengikuti anjuran pemerintah untuk melaksanakan 3M: mencuci tangan, memakai masker, dan menghindari kerumanan, dan berbagai referensi pencegahannya.

Sebenarnya, saya tak ingin mengenang penyebab terinfeksi Covid-19 beberapa bulan lalu. Namun, ada pembelajaran berharga bagi penyintas Covid, yakni harus jujur tentang penyakit yang dideritanya karena akan dapat memutus rantai penyebaran dan menyelamatkan keluarga dan orang lainnya. 

Melawan Covid dengan perawatan intensif selama kurang lebih 15 hari di rumah sakit, bukanlah hal yang mudah  untuk dilalui. Setelah selesai perawatan pun kita masih dihadapkan pada masalah sosial. Waktu itu, sebagian masyarakat belum memahami tentang  Covid-19, sehingga tak ada yang membesuk saat saya sakit. Bahkan, keluarga dekat pun mendapatkan perlakuan tidak adil dalam masyarakat hanya gara-gara saya terinfeksi Covid. Sedih rasanya bila dikenang, seakan-akan terinfeksi Covid-19 adalah suatu aib besar.

Keputusan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 melalui pemberian vaksin sangatlah tepat. Enam bulan setelah dinyatakan sehat, saya berusaha untuk mendapatkan vaksin. Beberapa tempat pelaksanaan vaksin saya datangi, tetapi selalu gagal karena tensi darah di atas 170. Minum obat dan makan buah yang dapat menurunkan tensi darah seperti semangka, mentimun, dan nenas telah saya lakukan. Namun, semua belum ada hasilnya. Begitupun, saya tidak menyerah dan setiap hari tetap mengonsumsi buah dan vitamin.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved