Berita Aceh Utara
Gadis Tamatan SMP Ini Rela tak Lanjut SMA Demi Mengajar Murid PAUD dan SD di Pedalaman Aceh Utara
Namun, keinginannya untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas atau SMA harus ia tunda karena ia menjadi guru bagi sepuluh murid PAUD dan dua murid SD
Penulis: Zaki Mubarak | Editor: Mursal Ismail
Namun, keinginannya untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas atau SMA harus ia tunda karena ia menjadi guru bagi sepuluh murid PAUD dan dua murid SD di tempat tinggalnya di pedalaman Aceh Utara.
Laporan Zaki Mubarak | Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON - Anacahyati, gadis berusia 16 tahun ini baru tamat sekolah menengah pertama atau SMP tahun 2020.
Namun, keinginannya untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas atau SMA harus ia tunda karena ia menjadi guru bagi sepuluh murid PAUD dan dua murid SD di tempat tinggalnya di pedalaman Aceh Utara.
Ya, tepatnya di Dusun Sarahraja, Desa Luboek Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, yang sejak 2021 memiliki satu PAUD dibagun para relawan dan masyarakat sekitar di pedalaman Aceh Utara itu.
Sekolah itu diberi nama PAUD Sejemput Asa.
Jika dia tak mengajar di sekolah ini, praktis anak-anak di dusun pedalaman Aceh Utara ini sangat sulit mendapat akses pendidikan SD, apalagi PAUD.
Bagaimana tidak, jika tak ada PAUD Sejemput Asa ini, anak-anak di dusun terpencil ini harus ke SD terdekat, yaitu di kabupaten tetangga atau Aceh Timur yang harus menyeberang sungai menghabiskan waktu hampir 30 menit.
Kemudian berjalan kaki lagi sekitar 40 menit.
Baca juga: Nasib Guru Honorer di Pedalaman Aceh Utara, Tetap Mengajar Meski Sudah Diputus Kontrak
Sedangkan untuk ke SD di Aceh Utara justru lebih tak memungkinkan lagi karena bisa menghabiskan waktu perjalanan hingga tiga jam.
Oleh karena itu, SD yang digabung di PAUD Sejemput Asa itu pun diakui pihak Dinas Pendidikan Aceh Utara, meski yang mengajar hanya seorang gadis tamatan SMP bernama Anacahyati.
Secara keseluruhan, kata Muhammad Fadli, warga Dusun Sarahraja terdiri atas 36 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 120 orang.
Informasi miris ini disampaikan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI Cabang Lhokseumawe - Aceh Utara, Muhammad Fadli, kepada Serambinews.com, Sabtu (30/10/2021).
Ia mengetahui hal ini karena HMI Cabang Lhokseumawe - Aceh Utara baru saja melakukan kegiatan mengajar ke Dusun Sarahraja, Desa Luboek Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
Kegiatan dalam rangka pengabdian untuk masyarakat di dusun pedalaman yang masih tertinggal di Kabupaten Aceh Utara itu mereka lakukan 21-24 Oktober 2021 dan mereka nginap di dusun ini.
Program yang dinamakan HMI Mengajar itu mereka lakukan di Dusun Sarahraja untuk membantu permasalahan dan masyarakat kecil di sana sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.
Baca juga: Boleh Sekolah Kalau Bisa Berenang, Derita Anak-anak di Pedalaman Aceh Utara
"Nah, Anacahyati adalah gadis yang masih usia 16 tahun dan tamat SMP tahun 2020 ini rela mengorbankan dirinya tak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA demi mengajar anak-anak di PAUD Sejemput Asa itu.
Meski ia tak mendapatkan honor dari pemerintah, tapi hanya dikasih semacam sedekah oleh camat, keuchik, kadus, atau para relawan yang berkunjung ke sana," kata Muhammad Fadli.
Padahal sesungguhnya, kata Muhammad Fadli, Anacahyati sesuai pengakuannya kepada mereka saat melakukan Program HMI Mengajar, ingin melanjutkan pendidikannya ke SMA.
"Namun orang kampungnya meminta ia mengajar anak-anak di sana, karena sedih melihat pendidikan di kampungnya, ia harus mengubur cita-citanya sendiri untuk melanjutkan pendidikan ke SMA.
Ia rela berkorban mengabdi menjadi guru di PAUD Sejemput Asa, Dusun Sarahraja," kata Muhammad Fadli.
Ironisnya lagi, kata Muhammad Fadli, sang ibu guru yang hanya tamatan SMP ini juga tak mendapat honor dari pemerintah, kecuali dikasih seikhlas hati oleh camat, keuchik, kadus, atau para relawan yang berkunjung ke sana.
Oleh karena itu, kata Muhammad Fadli, Anacahyati, berharap jika bisa selain diberikan gaji yang layak oleh pemerintah, dirinya juga bisa mendapatkan ijazah semacam paket C SMA agar ia bisa masuk Perguruan Tinggi.
Baca juga: Suka Duka Sekolah di Pedalaman Aceh Utara, Anak-Anak Abeuk Reuling Bisa Bergembira
Tak ada jaringan ponsel
Lebih lanjut, Muhammad Fadli menceritakan Dusun Sarahraja merupakan daerah 3T paling pedalaman di Aceh Utara, jaringan internet/HP tidak ada di sana, sehingga sangat sulit untuk berkomunikasi.
Akses masyarakat sangat sulit, baik itu jalur darat maupun jalur sungai.
Muhammad Fadli mengatakan pihaknya sangat miris dan sedih melihat kondisi yang serba sulit, padahal negara ini sudah 76 tahun merdeka.
“Jangankan untuk bisa hedonisme, untuk kebutuhan dasarnya saja mereka hampir tidak ada, seperti dunia pendidikan, kesehatan, air bersih, akses jalan, itu semua masih sangat sulit,” jelasnya.
Lebih susah lagi, kata Muhammad Fadli, jika ada warga yang sakit karena tidak ada perawat di sana.
“Puskesmas ada, namun tidak terpakai karena susah para perawat pulang pergi dengan akses jalan yang sangat ekstrem.
Untuk sampai ke Dusun Sarahraja dari Desa Luboek Pusaka harus melewati sungai dan jalan kaki yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam.
Belum lagi air bersih juga sulit di sana, masyarakat mandi, minum, nyuci, buang air besar dan air kecil dan sebagainya dengan air sungai kecil yang tentunya sangat jauh dari higienis.
Masyarakat yang bercocok tanam juga kesulitan karena ada gajah liar yang merusak tanaman di sana,” terangnya.
Atas kondisi yang telah ia lihat langsung itu, kata Muhammad Fadli, pihaknya mengaku sangat prihatin.
Padahal diakuinya anak-anak di sana juga memiliki semangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan seperti anak-anak di daerah lainnya.
“Kita berharap ini menjadi perhatian khusus pemerintah daerah serta pemerintah pusat untuk dapat membantu masyarakat di sana.
Bahkan jika perlu kementerian langsung yang turun ke sana, tapi intinya negara harus hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Sarahraja,” harap Muhammad Fadli.
Begitulah potret, terutama pendidikan di salah satu lokasi pedalaman Aceh Utara tepatnya di Dusun Sarahraja, Desa Luboek Pusaka, Kecamatan Langkahan.
Potret ini direkam pengurus HMI Cabang Lhokseumawe - Aceh Utara dalam Program HMI Mengajar.
Program HMI Mengajar
Seperti diberitakan Serambinews.com sebelumnya, HMI Cabang Lhokseumawe - Aceh Utara melakukan kegiatan mengajar ke Dusun Sarahraja, Desa Luboek Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
Kegiatan dalam rangka pengabdian untuk masyarakat di dusun pedalaman yang masih tertinggal di Kabupaten Aceh Utara itu mereka lakukan 21-24 Oktober 2021 dan mereka nginap di dusun ini.
Program yang dinamakan HMI Mengajar itu mereka lakukan di Dusun Sarahraja untuk membantu permasalahan dan masyarakat kecil di sana sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan bangsa.
Hal ini sebagaimana disampaikan Kabid Pendidikan dan IPTEK HMI Cabang Lhokseumawe - Aceh Utara, Ari Maulana, kepada Serambinews.com, Sabtu (30/10/2021).
“Kegiatan kami laksanakan selama 4 hari dengan menginap di lokasi pada tanggal 21-24 Oktober 2021 lalu.
Alhamdulillah tanggal 25 kami sudah kembali di Lhokseumawe, kegiatan ini mendapatkan support dari berbagai kalangan.
Selain mengajar anak-anak di sana, kami juga ikut membantu masyarakat di sana, seperti merenovasi PAUD tempat anak-anak belajar, berburu ke hutan dan banyak lagi lainnya,” kata Maulana. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/anacahyati-gadis-tamatan-smp-jadi-guru.jpg)