Rabu, 13 Mei 2026

Kupi Beungoh

Refleksi Hari Santri Nasional Ke-6, Santri Siaga Jiwa Raga

Santri harus benar-benar menjadi pendakwah yang baik. Bukan menjadi pendakwah penghardik.

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Muhammad Syarif, SHI,M.H adalah adalah Kabid SDM dan Manajemen Disdik Dayah Kota Banda Aceh 

Santri Aceh wajib rebut kekuasaan

Meraih mimpi besar itu, tentu bukanlah sesuatu yang mustahil. Jika ada keinginan, maka tentu ada jalannya. Untuk itulah butuh sinergisitas lintas stakeholders.

Landasan idiologis yang tertanam pada santri aceh harus benar-benar dimamfatkan dengan baik. Jangan adalagi diksi agama dan politik dibenturkan, karena itu warisan kolonial.

Ini Daftar Juara Lomba Menulis Hari Santri yang Diselenggarakan Rabithah Thaliban Aceh

Kaum santri wajib terjun dalam bidang politik tentu harus disiapkan amunisi yang matang. Jangan apriori dengan politik, karena merebut kekuasaan dalam iklim demokrasi lewat instrumen politik.

Gagasan melakukan konsolidasi kebatinan antara santri atau alumni santri dayah termasuk didalamnya pimpinan dayah se-Aceh harus dipelopori, jangan ada upaya pihak-pihak tertentu memecah belah manhaj santri dayah.

Biarkan manhaj itu berjalan dengan harmoni, saling menhargai dan kurangi dosis perpecahan/konflik yang tidak produktif.

Tidak boleh ada lagi anggapan politik itu kotor, diksi yang dibangun kedepan oleh santri atau Alumni santri Dayah “wajib kuasai semua lini” diantaranya; birokrat, pengusaha, politikus, banker, cendikiawan, TNI/Polri.

Kekuasaan itu harus diraih tentu sesuai mekanisme konstitusi. Karenanya santri dayah Aceh tidak boleh lagi merasa paling hebat, akan tetapi harus terbuka dan elegan dalam menerima perubahan untuk kemajuan.

Pendalaman kitab kuning harus benar-benar menjadi tradisi santri dalam setiap halaqahnya. Debat ilmiah dan menulis gagasannya harus benar-benar menjadi vitamin baru bagi santri zaman now, jika tidak, kita cendrung menjadi lebih hebat dari orang lain.

Santri juga harus diasah ketrampilan menulis. Tentu proses kearah itu butuh komitmen bersama antara Disdik Dayah dan Pimpinan Dayah agar tidak terjadi benturan. Jangan lagi menganggap.

Santri itu hanya belajar ilmu agama an sich. Santri juga harus memiliki berbagai ketrampilan sesuai telentanya dan kebutuhan zaman. Event Musaqah Qiraatil Kutub (MQK) Tingkat Kab/Kota, Provinsi dan Nasional mestinya menjadi agenda permanen Kepala Daerah.

Karena lewat MQK menjadi salah satu intrumen evaluasi penerapan kurikulum dayah. Sejatinya pakem dayah itu penguatan kitab turats (gundul).

Hasil MQK-II Tingkat Provinsi Aceh pada tanggal 12-17 Oktober 2021 di Embarkasi Haji, Banda Aceh menjadi momentum evaluasi dinas teknis dalam optimalisasi penerapan kurikulum dayah dan tatakelola manajemen dayah.

Dalam kontek inilah, Refleksi HSN ke-6 saya menawarkan beberapa pandangan antara lain: Pertama: Santri, harus bersatu dalam melawan informasi hoax terkait kebijakan negara dalam mengatasi pandemi corona, termasuk upaya negara dalam pelaksanan kebijakan vaksinasi, pelaksanaan prokes dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakat, ini menjadi penting agar masyarakat tidak gelisah apalagi ragu terhadap ikhtiar bersama dalam mewujudkan herd immunity (kekebalan kelompok), sehingga akan terwujudnya santri sehat, Aceh hebat.

Kedua: Santri harus memiliki sifat pelopor kebaikan (safiqul khair). Dimanapun ia berada, santri harus menjadi pemantik pelopor kebaikan. Tuturkata, tindakan dan karakter sebagai pendakwah harus benar-benar dijalankan dengan baik. Semangat berbuat kebajikan harus dominan. Kurangi dosis saling mengklaim kebenaran apalagi menganggap diri paling benar dan hebat.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved