Breaking News:

Salam

Salut Atas Kerja Cepat Kepolisian

Merujuk pada berita-berita Harian Serambi Indonesia dalam tiga hari terakhir terkait kasus kriminalitas bersenjata api (senpi) di Aceh

Editor: hasyim
Serambi Indonesia
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, Satreskrim Polres Aceh Timur, berhasil mengamankan 7 tersangka pelaku tindak Pidana kriminalitas. 7 tersangka tersebut, yakni 4 tersangka kasus penculikan, 2 tersangka kasus kekerasan terhadap anak, dan 1 orang tersangka kasus judi online chip higgs domino island. 

Merujuk pada berita-berita Harian Serambi Indonesia dalam tiga hari terakhir terkait kasus kriminalitas bersenjata api (senpi) di Aceh, kita patut mengacungkan jempol pada kinerja kepolisian.

Soalnya, dua insiden penyerangan menggunakan senpi, baik yang terjadi di Aceh Barat, maupun yang terjadi di Pidie, keduanya berhasil diungkap oleh polisi dalam waktu singkat. Para tersangkanya pun sudah ditangkap.

Sebagaimana diberitakan Serambi edisi Minggu (31/10/2021) kemarin, kasus penembakan Pos Polisi (Pospol) Polsek Panton Reu di Aceh Barat pada Kamis (28/10/2021) sekitar pukul 03.15 WIB tersangka pelakunya telah berhasil diringkus polisi hanya sehari setelah kejadian.

Hingga kemarin pun pihak Ditreskrimum Polda Aceh bersama Satreskrim Polres Aceh Barat masih memeriksa lima terduga pelaku yang ditangkap pada hari Jumat (29/10/2021) itu.

Menurut Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy MSi, insiden itu dipicu oleh dendam terduga pelaku kepada aparat kepolisian setempat. "Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, kelima terduga pernah merampok pendulang emas, kemudian diuber polisi atas tindak pidana yang mereka lakukan itu. Ternyata, mereka tidak suka diuber-uber," kata Winardy, Sabtu malam.

Info itu, kata Winardy, didapat dari masyarakat bahwa para terduga tidak suka dicari-cari polisi. “Motif ini sedang kita kaitkan dengan alat bukti yang kita miliki, walau sementara mereka tidak mengakui menembak, kecuali hanya akui merampok (pendulang emas)," kata Winardy.

Aksi perampokan itu, lanjut Winardy, sebelumnya dilaporkan Polsek ke Reskrim Polres dan ternyata kasus itu menjadi atensi pihak kepolisian sehingga mereka dicari atas dasar laporan itu. "Reskrim Polres tetap proses, sehingga mereka dendam pada orang polsek," jelasnya.

Namun, karena polsek dijaga ketat oleh personel, sehingga yang menjadi sasaran mereka adalah Pospol Polsek Panton Reu. "Karena polsek kuat penjagaannya, maka pospol wilayah Polsek Kaway XVI itu diserang. Info motif ini dari masyarakt kita dalami. Kita lagi kroscek semua alibi mereka dan geledah satu per satu untuk cari senpi," pungkas Kabid Humas Polda Aceh.

Sementara itu dari Pidie dilaporkan, polisi berhasil meringkus tiga tersangka penembak Komandan Tim Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI di wilayah Pidie Aceh, Kapten Inf Abdul Majid (53) pada Kamis (28/10/2021).

Dari tangan para pelaku, polisi mengamankan barang bukti berupa satu pucuk senjata api beserta amunisi dan uang tunai Rp 35 juta terkait kasus penembakan tersebut.

Winardy mengatakan, ketiga pelaku yang merupakan warga sipil asal Kabupaten Pidie itu ditangkap di lokasi terpisah, Minggu pagi. Adapun tersangka pelaku D (48) merupakan pemilik senjata, M (41) orang yang kenal dengan korban, dan F (42) selaku eksekutor.

"Ketiga tersangka merencanakan pembunuhan terhadap korban anggota TNI menggunakan senjata api untuk merampok uang milik korban," ujar Winardy.

Nah, keberhasilan aparat kepolisian dalam mengungkap tersangka pelaku penyerangan pos polisi tersebut sangat patut diapresiasi. Artinya, kerja-kerja intelijen dan penciuman tajam tim telik sendi di jajaran Polda Aceh, ditambah bantuan unit cybercrime, tak perlu diragukan lagi. Untuk kasus pertama, kurang dari 24 jam kelima terduga pelakunya langsung bisa diringkus. Sekarang, tugas penting lainnya pihak kepolisian adalah mencari di mana para terduga menyembunyikan senjatanya. Dalam kejahatan penyerangan pakai senjata, maka mendapatkan senpi sebagai barang bukti itu sifatnya mutlak. Semoga senpi yang masih disembunyikan para terduga dapat ditemukan segera, sehingga dapat dihadirkan sebagai alat bukti kejahatan para terduga di pengadilan kelak. Yang juga tak kalah pentingnya adalah motif mengapa penyerangan brutal itu mereka lakukan, sehingga jaksa maupun hakim akan dapat melihat hubungan kausalitas yang kuat antara apa yang menjadi motif para terdakwa dengan tindakan yang mereka lakukan di lapangan. Semoga.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved