Salam

Kolaborasi, Kunci Pemulihan Aceh

Lumpur tebal menutupi rumah ibadah, sekolah, dan rumah warga di Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan belasan kabupaten lain.

Editor: mufti
Serambinews.com/m anshar
ILUSTRASI -- LINTASI TUMPUKAN KAYU - Pengendara sepeda motor melintas dekat tumpukan kayu yang dibawa banjir bandang akhir November lalu di Desa Baling Karang, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, Rabu (31/12/2025). Daerah ini merupakan ujung Aceh Tamiang yang berbatasan langsung dengan Aceh Timur. 

BENCANA banjir bandang yang melanda Aceh pada akhir November 2025 meninggalkan luka mendalam sekaligus pekerjaan besar yang tidak mudah diselesai-kan dalam waktu singkat. Lumpur tebal menutupi rumah ibadah, sekolah, dan rumah warga di Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan belasan kabupaten lain. Proses pembersih-an memang sudah menunjukkan kemajuan, tetapi skala ke-rusakan yang terjadi membuat upaya ini membutuhkan wak-tu panjang dan tenaga yang luar biasa.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada permukiman. Sawah, kebun, dan tambak pun ikut tertutup lumpur. Data dari Komando Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh mencatat seki-tar 51.335 hektare sawah rusak akibat banjir. Di Pidie saja, 500 hektare sawah masih terkubur lumpur setebal 40 cm hingga 1 meter. Belum lagi kebun seluas 25.074 hektare dan tambak mencapai 39.910 hektare yang juga terdampak. Angka-angka ini menunjukkan betapa besar tantangan yang harus dihadapi masyarakat Aceh untuk kembali bangkit.

Dalam kondisi seperti ini, kolaborasi menjadi kunci. Tidak mungkin masyarakat menghadapi bencana sebesar ini se-orang diri. Karena itu, langkah Pemerintah Aceh mengerah-kan 4.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai relawan pa-tut diapresiasi. Penugasan tahap kedua dimulai sejak Jumat 2 Januari 2026, dengan fokus utama membersihkan fasili-tas pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang. Sekolah-seko-lah dari tingkat SD hingga SMA/SMK menjadi prioritas, mengingat kegiatan belajar-mengajar direncanakan kemba-li berlangsung pada Senin 5 Januari 2026. Pendidikan tidak boleh berhenti, sebab ia adalah fondasi masa depan anak-anak Aceh.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menjelas-kan bahwa keberangkatan ribuan ASN dilakukan secara man-diri oleh masing-masing Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA). Langkah ini diambil untuk menghindari kemacetan lalu lintas, terutama di jalur rawan seperti Jembatan Kuta Blang-Awe Ge-utah di Kabupaten Bireuen. Para relawan juga dibekali pera-latan kerja dan dukungan logistik, termasuk kebutuhan dapur umum. Di lapangan, mereka akan berkoordinasi dengan pos komando kabupaten/kota serta bergabung dengan relawan lain dari BNPB, TNI/Polri, dan masyarakat. Sinergi lintas sektor ini menunjukkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa.

MTA menegaskan bahwa penugasan relawan ASN akan terus dilakukan secara bertahap dan simultan. Pemerintah pusat pun memberikan supervisi ekstra agar langkah pemulihan berjalan cepat dan terarah. Gubernur Aceh dalam berbagai kesempatan mengingatkan pentingnya persatuan. Semua pihak harus bersatu demi Aceh yang lebih baik, demi bangkit dari bencana ini.

Namun, kita tidak boleh hanya bergantung pada bantuan luar. Sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang tangguh ada-lah bangsa yang membangun dirinya sendiri. Jepang, misal-nya, yang luluh lantak akibat bom atom pada 1945, mam-pu bangkit kembali dengan kekuatan rakyatnya sendiri. Aceh pun memiliki semangat serupa. Tanah Rencong telah ke-nyang pengalaman, ditempa sejarah panjang perjuangan. Le-luhur kita mewariskan semangat juang yang tak pernah pa-dam, semangat yang kini harus kita hidupkan kembali.

Bencana memang menyisakan kesedihan, tetapi juga mem-buka ruang bagi solidaritas. Gotong royong bukan sekadar slo-gan, melainkan jalan nyata untuk bangkit. Dengan kebersama-an, kerja keras, dan tekad yang diwariskan para pendahulu, Aceh pasti mampu pulih. Mari kita jadikan musibah ini seba-gai momentum memperkuat persatuan, menumbuhkan kepe-dulian, dan membuktikan bahwa bangsa ini tidak pernah me-nyerah.(*)

POJOK

Tangkap Maduro, pakar sebut AS langgar HAM 
HAM hanya berlaku untuk negara lemah 

4.000 ASN Pemerintah Aceh dikerahkan ke lo-kasi bencana
Selamat bekerja!

Sarjani setuju warga buru penambang ilegal 
Nah, bupatinya saja sudah “angkat tangan”

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved