Breaking News:

Jurnalisme Warga

Keramatkah Simpang Keramat?

Petaka perang di Aceh terhitung sejak pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM), disusul dengan penetapan status Darurat Militer

Editor: bakri
Keramatkah Simpang Keramat?
Serambinews
M. YUSRIZAL, S.Pd., Guru Sejarah di SMAN 11 Banda Aceh,  putra perantauan Simpang Keramat, melaporkan dari Lhokseumawe

OLEH M. YUSRIZAL, S.Pd., Guru Sejarah di SMAN 11 Banda Aceh,  putra perantauan Simpang Keramat, melaporkan dari Lhokseumawe

Petaka perang di Aceh terhitung sejak pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM), disusul dengan penetapan status Darurat Militer. Pertikaian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia sudah bukan rahasia lagi. Anyir tumpah darah tercium sudah hingga ke dunia internasional.

Beberapa daerah di Aceh dipetakan sebagai “zona merah” rawan konflik. Salah-salah melangkah, bersikap, bahkan salah mengambil posisi tidur saat larut malam, siap-siaplah timah panas merobek tubuh. Malaikat Maut kiranya selalu sibuk mondar-mandir di Aceh kala itu, terutama di Kecamatan Simpang Keramat, Kabupaten Aceh Utara.

Kecamatan yang satu ini dikenal sebagai “ladang panas” pertempuran kedua belah pihak dimaksud. Pada medio Desember 2002, warga di beberapa desa dalam Kecamatan Simpang Keramat terpaksa diungsikan lantaran “intimidasi” perang yang terus saja merenggut nyawa masyarakat sipil. Padahal, aksi pengungsian itu terjadi pada sepuluh hari setelah kesepakatan Penghentian Kekerasan, Cessation on Hostilities Agreement (CoHA) antara Pemerintah RI dengan GAM, yang ditandatangani kedua belah pihak pada 9 Desember 2002 di Jenewa, Swiss.

Masih melekat di ingatan saya tatkala almarhum ayahanda menguburkan perhiasan ke dalam septic tank yang dipenuhi tinja, karena membawa perhiasan ke pengungsian tidaklah aman. Rumah berpotensi terbakar/dibakar, menyimpan perhiasan dalam rumah bukanlah solusi cerdas.

Bukan tidak beralasan, kecamatan ini menjadi salah satu pemasok pasukan GAM yang dicap pemerintah pusat sebagai separatis yang perlu ditumpas. Pemerintah menempatkan konsentrasi TNI untuk mengawasi pergerakan GAM siang dan malam, seantero Aceh sepertinya mengetahui kecamatan ini sebagai kecamatan yang “batat” menentang pemerintah, dulunya.

Saya merupakan salah satu orang yang harus banyak-banyak bersyukur lantaran pernah dua kali terjebak dalam perang terbuka, alhamdulillah masih selamat dan hari ini sempat menulis di Jurnalisme Warga di Serambi Indonesia, bukan sebagai bentuk mencungkil-cungkil koreng bekas luka lama, tapi hendak berbagi cerita bagaimana kondisi Simpang Keramat dulu dan kini.

Kisah keuramat di simpang empat

Keramat, karamah, atau dalam bahasa Aceh disebut keuramat adalah kemulian berupa sesuatu di luar logika manusia yang Allah berikan kepada waliyullah. Memang, pada jantung kedai kecamatan ini terdapat empat simpang yang sarat mengandung sejarah keramat. Sekilas, orang akan bergidik jika mendengar nama kecamatan ini lantaran harus mawas diri, bersikap santun, serta menyucikan niat yang dikandung hati tatkala melewati simpang tersebut.

Jika hendak menelusuri jejak historis, benar memang terdapat empat kuburan keramat di setiap empat arah jalan. Arah timur menuju Desa Blang Raleu kita dapat menemukan kuburan keramat Teungku Di Syahid; arah utara menuju Desa Alue Lim kita dapat menjumpai makam Teungku Di Banda; arah barat menuju Buloh Blang Ara terdapat pusara Teungku Paduka Tuan; dan arah selatan menuju Desa Kilometer VIII kita dihadapkan dengan kuburan Teungku Keuramat. Kesemua pusara ini diyakini tempat bersemayamnya jasad para pemuka agama yang diberikan karamah oleh Allah. Atas dasar inilah kecamatan pedalaman Aceh Utara ini ditabalkan namanya jadi Kecamatan Simpang Keramat.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved