Minggu, 19 April 2026

Berita Banda Aceh

FKH Universitas Syiah Kuala Gelar Pelatihan Teknik Penanganan Mamalia Laut Terdampar

Dalam setiap kejadian terdampar, respon cepat dari tenaga medis dan relawan memiliki peranan penting yang mempengaruhi tingkat keselamatan.

Penulis: Misbahuddin | Editor: Imran Thayib
Dok FKH Universitas Syiah Kuala
Praktek penanganan mamalia laut terdampar dalam acara Pelatihan Teknik Penanganan Mamalia Laut yang diselenggarakan FKH USK, Senin dan Selasa (1-2/11-2021). 

Laporan : Misbahuddin | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala (FKH USK), Banda Aceh bekerja sama dengan Yayasan WWF Indonesia, melaksanakan kegiatan Pelatihan Penanganan Mamalia Laut Terdampar.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 1-2 November 2021 di Hotel Permata Hati Banda Aceh ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kemampuan peserta sebagai First Responder dalam penanganan dan memberikan pertolongan pertama pada kejadian mamalia laut terdampar.

Hal ini merujuk pada peristiwa 10 ekor Paus Sperma (Physeter macrocephalus) yang terdampar di pantai Aceh Besar pada November 2017 di mana empat diantaranya kemudian mati.

Dan kejadian terbaru tahun 2021, seekor Paus Baleen diketahui terdampar di Pantai Ujung Pancu, Aceh Besar.

Mempelajari dari dua kejadian tersebut, bahwa perlu adanya keahlian dalam menangani mamalia terdampar yang umumnya memiliki ukuran mencapai belasan meter, untuk itu diperlukan adanya tim yang terlatih.

Drh Dwi Suprapti selaku penyuluh dari kegiatan ini menyebutkan, dari data yang dikumpulkan oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (Dit. KKHL), pada tahun 2020 hingga Februari 2021 telah tercatat 173 kasus mamalia laut terdampar di Indonesia.

Dalam setiap kejadian terdampar, respon cepat dari tenaga medis dan relawan memiliki peranan penting yang mempengaruhi tingkat keselamatan (survival rate) satwa.

Baca juga: Abrasi Krueng Tangan-Tangan di Abdya Mengganas, Rumah Warga Nyaris Amblas

Baca juga: Pendukung Inggris Dihukum Dua Bulan Penjara, Hina Rashford, Sancho dan Saka Usai Final Euro 2020

Baca juga: Unjuk Rasa di Meulaboh Sempat Memanas, 3 Mahasiswa Akui Alami Kekerasan, Ini Tanggapan Kasatpol PP

Baca juga: Harga Kopi di Bener Meriah Sempat Anjlok, Kini Mulai Membaik

Kebutuhan sumber daya manusia yang kompeten dalam teknik penanganan, pelepasliaran, hingga aspek medis dalam kejadian mamalia laut terdampar menjadi beberapa alasan yang melatarbelakangi kegiatan pelatihan jejaring First Responder.

"Sejak tahun 2013 hingga sekarang ini setidaknya terdapat 1.200 orang di berbagai wilayah Indonesia yang telah berkompeten sebagai tenaga First Responder," jelas Drh. Dwi Suprapti, M.Si selaku salah satu penyuluh dalam kegiatan ini.

Menurutnya, pelatihan ini penting dilakukan karena penanganan yang tidak tepat dapat membahayakan satwa, maupun tenaga First Responder itu sendiri.

Dilaporkan juga, kegiatan tersebut juga difasilitasi I AM Flying Vet Indonesia dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) wilayah Padang.

Satuan Kerja (Satker) Aceh sangat mendukung langkah-langkah yang dilakukan terhadap upaya perlindungan dan pelestarian mamalia laut di Indonesia.

Dekan FKH USK, Drh Teuku Reza Ferasyi, MSc.PhD menyampaikan bahwa penguatan kegiatan ini adalah langkah tepat sebagai strategi penanganan mamalia laut terdampar melalui pemberian wawasan dan pelatihan.

"Ini adalah upaya menjamin ketersediaan sumber daya manusia untuk memiliki keahlian terkait, khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi ditemukannya mamalia laut yang terdampar, seperti di perairan Aceh", tandasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved