Breaking News:

Salam

MoU Wisata Batal Diteken,  Saatnya Introspeksi Lagi

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad (7/11/2021) kemarin mewartakan bahwa Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid kecewa karena nota kesepahaman (MoU)

Editor: hasyim
SERAMBINEWS.COM/ DEDE ROSADI
Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia Zainal Arifin M Nur, berbincang dengan Sekda Aceh Singkil, di objek wisata Pulau Panjang, Kecamatan Pulau Banyak, Rabu (3/11/2021). 

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad (7/11/2021) kemarin mewartakan bahwa Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid kecewa karena nota kesepahaman (MoU) pengembangan wisata Pulau Banyak batal ditandatangani. Sedianya, MoU tersebut diteken di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), antara investor Murban Energy, perusahaan minyak asal UEA dengan Pemerintah Aceh atau bahkan dengan Pemkab Aceh Singkil.

Kekecewaan Dulmusrid sangat beralasan karena bersama delegasi Aceh yang dipimpin Gubernur Nova Iriansyah ia sudah jauh-jauh datang ke Dubai. Dulmusrid termasuk pejabat level kabupaten yang diundang resmi ke Dubai untuk menandatangani MoU tersebut dalam seremoni yang turut dihadiri Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), pada 2 November 2021.

Namun, seperti dikeluhkan Dulmusrid saat dikonfirmasi Serambi via telepon selulernya, Sabtu (6/11/2021), pihaknya baru mengetahui MoU investasi wisata di Kepulauan Banyak senilai Rp 7 triliun itu batal ditandatangani saat dilakukan pertukaran 14 nota kesepahaman antara Pemerintah UEA dan Indonesia.

“Ternyata, dari 14 MoU itu, rencana investasi Murban Energy di Kepulauan Banyak tak masuk di dalamnya," ungkap Dulmusrid di Jakarta setiba dari UEA, Jumat (5/11/2021) malam.

Kekecewaan Dulmusrid sangat bisa kita pahami karena dialah kepala daerah (bupati) tempat Murban Energy sedianya hendak mengembangkan sektor wisata berskala internasional. Dulmusrid sudah telanjur tinggi angan-angannya bahwa pulau-pulau eksotik di Kepulauan Banyak bakal disulap menjadi resor wisata yang akan menyedot wisatawan mancanegara, terutama dari UEA.

Kekecewaan berikutnya adalah Dulmusrid seakan terjerembab pada lubang yang sama. Tahun lalu pun Bupati Aceh Singkil itu kecewa berat ketika utusan investor dari UEA membatalkan rencana investasi sektor wisata di Pulau Banyak. Ironisnya, pembatalan itu justru terjadi setelah orang yang diutus investor melakukan survei ke Pulau Banyak dengan jalan darat dari Banda Aceh.

Kejadian beruntun ini sedianya menjadi iktibar besar bagi Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Singkil untuk segera introspeksi lagi. Jangan cepat-cepat menyalahkan pihak Murban Energy yang tak maju ke tahap teken MoU. Tapi cek lagilah apakah semua prasyarat dan infrastruktur yang diperlukan oleh investor profesional benar-benar sudah tersedia di Singkil dalam skema kerja sama ini? Misalnya saja, bandar udara yang representatif untuk pendaratan pesawat dari luar negeri juga kesiapan pelabuhan untuk sandar kapal-kapal jenis kapal pesiar apakah sudah tersedia?

Selain itu, apakah semua regulasi di tingkat lokal dan nasional sudah cukup kondusif memayungi investasi asing yang jumlahnya tidak sedikit, yakni Rp 7 triliun itu. Kemudian, apakah sistem dan kebijakan perbankan yang kini berlaku di Aceh (pasca-Qanun LKS) compatible dengan rencana bisnis mereka. Semua ini harus ikut dikondisikan. Termasuk kemampuan nego delegasi Aceh.

Kita harus ingat bahwa tak ada investor yang mau rugi ketika berniat tanam modal di suatu tempat. Nah, ketika hitung-hitungan peluang rugi lebih besar daripada untung, maka sangat mungkin pada ‘last minute’ Murban Energy menunda atau bahwa membatalkan rencana teken MoU tersebut. Atau memang versi Jubir Pemerintah Aceh yang benar bahwa Murban Energy minta tambahan waktu karena belum sempat mereview naskah MoU tersebut.

Tapi pernyataan itu tidakkah terasa aneh? Bukankah pertemuan penting di Dubai ini sudah direncanakan sejak enam bulan lalu? Lalu, siapa yang membuat naskah MoU? Bukankah dalam tradisi praktik kerja sama, naskah MoU dibahas secara informal di belakang layar, baru kemudian diparaf untuk seterusnya ditandatangani bersama saat seremoni berlangsung?

Mengutip keterangan Dulmusrid, belum ada informasi resmi yang menyebutkan apakah rencana investasi UEA di Kepulauan Banyak itu batal atau tidak atau hanya sekadar ditunda.

Seperti dikatakan Dulmusrid, kecewa saja tidak cukup. Untuk itu, bupati bersama gubernur harus segera menghadap Presiden Jokowi dan menteri terkait untuk mengupayakan agar investasi Murban Energy di Kepulauan Banyak bisa terlaksana. Soalnya, investasi besar itu sudah sangat didamba masyarakat Aceh Singkil karena diyakini dapat mendorong peningkatan ekonomi daerah. Jangan sampai dua kali kekecewaan Bupati Dulmusrid merembet menjadi kekecewaan kolektif berbagai pihak di Aceh. Ingat, kekecewaan berulang bisa menimbulkan ketidakpercayaan bahkan antipati. Dan itu sangat tidak produktif dalam iklim investasi.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved