Breaking News:

Opini

Nyanyi Sunyi ‘Lampoh Mulieng’

Melinjo merupakan komoditas unggulan kampung halaman saya, Pidie. Daerah kami dikenal sebagai sentra penghasil emping melinjo (kerupuk mulieng) terbe

Editor: hasyim
Nyanyi Sunyi ‘Lampoh Mulieng’
Foto/Ist
ELLY WANI, ASN Pemerintah Aceh, Nominator Lomba Cipta Prosa UTU 2021

ELLY WANI, ASN Pemerintah Aceh, Nominator Lomba Cipta Prosa UTU 2021, melaporkan dari Pidie

Melinjo merupakan komoditas unggulan kampung halaman saya, Pidie. Daerah kami dikenal sebagai sentra penghasil emping melinjo (kerupuk mulieng) terbesar di Aceh. Tidak mengherankan jika pohon melinjo dapat ditemukan di hampir semua rumah penduduk.

Tiap keluarga paling kurang memiliki sebatang pohon melinjo di pekarangan rumahnya. Pohon ini sangat kaya manfaat. Ditanam di pekarangan sebagai peneduh, daun dan buah mudanya dapat dimasak untuk sayur.

Seorang sahabat yang datang ke rumah pernah mengatakan bahwa hampir semua ruas jalan desa di Pidie dapat ditemukan deretan pohon melinjo. Saya tidak bertanya ruas jalan mana saja yang sudah ia lalui. Namun, untuk daerah di seputaran kampung saya di Kecamatan Sakti, saya sepakat. Informasi itu akurat. Memang demikianlah adanya.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan pulang kampung. Buah melinjo sedang berbuah lebat di pucuk pohon. Nostalgia masa lalu membawa langkah kaki saya menuju ke kebun di belakang rumah. Beberapa batang melinjo tumbuh rimbun di sana. Di bawah pohon, biji-biji melinjo yang berwarna kemerahan berserakan di sela-sela rerumputan. Terlihat banyak buah yang tidak lagi utuh kulitnya dan warnanya menjadi kecokelatan. Ada yang kulitnya sudah terkelupas atau setengah mengelupas, Pertanda butir-butir melinjo tersebut sudah beberapa lama teronggok di sana. Saya tercenung mengamati pemandangan itu sebelum akhirnya memunguti butir-butir melinjo yang berserakan di sekeliling pohon dan memasukkannya ke dalam timba kecil yang saya bawa dari rumah. Di masa kecil saya, buah melinjo tak sempat berserakan berhari-hari seperti itu. Lebih tepatnya, tidak ada yang membiarkannya begitu saja.  Sepasukan kanak-kanak bakal segera datang mengutipnya. Pagi, siang, sore. Berkali-kali, sepanjang hari. Zaman berubah, sepertinya buah melinjo tidak lagi menarik perhatian anak-anak.

Saya pun terkenang, masa kecil saya di lampoh mulieng (kebun melinjo), kala hutan kecil di belakang rumah kami belum terkotak-kotak oleh pagar pembatas. Anak-anak bebas bermain dan berlarian, juga memungut butir buah melinjo (pileh aneuk mulieng). Pada masa itu pemilik kebun mengizinkan anak-anak mengutip buah melinjo di kebunnya. Sebatas hanya mengambil yang jatuh, tidak boleh memetik dari pohon.

Memungut melinjo serasa permainan mengasyikkan. Biasanya anak-anak datang berkelompok. Berlomba-lomba menjadi yang tercepat, agar banyak buah yang didapat. Saling mendahului menuju pohon berikutnya. Pohon-pohon yang banyak berbuah telah ditandai. Ke sanalah mereka bergerak lebih dahulu. Pohon yang buahnya sedikit juga sudah ditandai. Biasanya tidak ramai yang mendekati pohon itu. Mereka juga memberikan nama untuk batang-batang melinjo itu. Nama yang langsung dikenali oleh anak-anak ‘pileh mulieng’ (anak-anak yang memilih buah melinjo). Pohon yang berbuah lebat disebut ‘bak get akai’ (pohon baik), sementara pohon yang buahnya selalu sedikit disebut ‘bak kriet’ (pohon pelit).

‘Pileh mulieng’ juga ada jadwalnya. Pagi sebelum berangkat sekolah, pulang sekolah, dan sore hari setelah pulang mengaji. Tidak ada kata lelah.  Saya biasanya ikut ‘pileh mulieng’ di pagi hari libur, dan sesudah pulang sekolah. Jika malamnya turun hujan, buah melinjo yang jatuh lebih banyak dari biasanya. Begitu juga jika sedang dilanda angin kencang. Anak-anak yang ‘pileh mulieng’ selalu menunggu datangnya angin barat. Angin yang bertiup kencang, meliukkan pepohonan, merontokkan buah melinjo dari pohonnya.

Dahulu, ‘lampoh mulieng’ sekaligus menjadi arena permainan. Selesai ‘pileh mulieng’ anak-anak bermain petak umpet di kebun. Buah melinjo pun dijadikan alat permainan. Buah melinjo ditumpuk, lalu dilempar dengan sandal dari jarak tertentu. Buah melinjo juga dapat dijadikan camilan yang mereka olah sendiri. Buah melinjo yang telah dikupas kemudian dibakar. Caranya adalah dengan membakar tempurung kelapa hingga menjadi bara. Buah melinjo kemudian dimasukkan ke dalam bara tersebut hingga matang. Jadilah aneuk mulieng teutot (biji melinjo bakar). Anak-anak juga suka menongkrongi ibu-ibu dan kakak yang sedang mengetuk melinjo menjadi kerupuk. Maksudnya, mau menumpang ‘teut aneuk mulieng’ (membakar biji melinjo) di wajan mereka.

Buah melinjo yang didapat itu kemudian dikupas. Jika sudah dapat satu mok (setara ukuran satu kaleng susu) baru dijual kepada pengepul melinjo (muge) yang biasa berkeliling kampung. Kadang-kadang tidak langsung dijual per mok, ditunggu dulu hingga terkumpul satu are (takaran satu bambu). Jangan ditanya bagaimana rasanya mendapatkan uang dari hasil jerih payah sendiri. Anak-anak senang bukan kepalang. Uangnya dipakai untuk jajan, sebagian lagi ditabung dalam celengan bambu yang nantinya dipakai untuk membeli benda yang diidamkan.

Melinjo berperan penting dalam perekonomian masyarakat di kampung kami. Warga dapat mengambil perannya masing-masing, walaupun tidak memiliki kebun melinjo milik sendiri. Ada yang menjadi pemetik buah, yang mengupas (pluek aneuk mulieng), pengepul buah melinjo, yang mengetuk melinjo menjadi emping (peh kerupuk), dan pengepul emping yang memasarkannya ke sentra kerupuk mulieng di Beureunuen.

Semua memetik untung. Semua kegiatan seputar pengolahan melinjo berlangsung sama dari dulu hingga kini. Hanya fenomena pileh aneuk mulieng yang sudah jarang ditemui. Anak-anak, termasuk keponakan saya, tidak ada lagi yang tertarik. Tidak juga dengan iming-iming mendapatkan lembar-lembar rupiah. Entah apa yang salah, entah apa yang berubah.

Ada yang berpendapat anak-anak anak-anak sekarang mendapatkan uang jajan yang lumayan. Namun pertanyaannya, apakah dewasa ini uang jajan mudah diperoleh? Kenyataannya tidak semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang baik-baik saja. Walaupun demikian, para orang tua tentu mengusahakan yang terbaik untuk anaknya, termasuk memberikan uang jajan yang pantas semampunya. Murid-murid di sekolah juga mendapatkan bantuan dana. Meski sedikit dan tidak rutin setiap bulan, tapi sejumlah uang itu tentu sangat membantu. Sementara zaman dulu anak-anak tidak menggenggam banyak uang jajan. Mereka menjadi termotivasi untuk berusaha mengumpulkan uang lebih. Pileh aneuk mulieng adalah salah satu jalannya.

Perkembangan teknologi sedikit banyak juga berpengaruh pada menurunnya minat pileh aneuk mulieng. Keberadaan smartphone sangat mudah diakses oleh semua kalangan, tak terkecuali anak-anak. Mereka terlalu asyik menonton berbagai tayangan di kanal layanan berbagi video. Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan memainkan aneka permainan di layar handphone. Ketika berkumpul bersama teman-temannya, anak-anak juga ramai-ramai mengakrabi handphone. Telepon genggam itu mengalihkan dunia mereka, sesuatu yang tidak dialami generasi sebelumnya.

Lain dulu lain sekarang. Tidak ada lagi keriuhan kanak-kanak di lampoh mulieng. Seiring tanah kebun yang sudah dipagari kawat berduri, tidak ada lagi izin untuk keluar masuk, apalagi memungut sesuatu di sana. Namun, di kebun sendiri pun cuma satu dua anak yang berminat memungut buah melinjo. Hanya tersisa orang-orang tua dan paruh baya yang terbungkuk-bungkuk di bawah pohon melinjo. Bagi mereka satu butir melinjo tetaplah rezeki yang tak boleh disia-siakan. Demikianlah petuah yang didapat dari orang-orang tua terdahulu. Yang sayangnya, tidak lagi terpatri dalam sanubari generasi masa kini.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved