Pakta Pertahanan
Tiga Negara Sekutu Bentuk AUKUS, Tandingi Hegemoni China di Indo-Pacifik
Aliansi ini sengaja dibentuk sebagai konsolidasi kekuatan aliansi AS untuk menandingi China yang sedang hegemonik di kawasan Indo-Pacific.
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah ahli hubungan internasional mengatakan pakta pertahanan AUKUS yang dibentuk tiga negara sekutu yakni Amerika Serikat, Inggris, dan Australia pada 15 September lalu, bertujuan menandingi hegemoni China di Laut China Selatan.
Ahli keamanan internasional Universitas Al Azhar Indonesia Rizal Hidayat mengatakan anggota aliansi, yaitu Australia dan Inggris adalah anggota Five Power Defence Arrangements (FPDA), sedangkan Amerika Serikat adalah sekutu utama dua negara tersebut.
Rizal melihat aliansi ini sengaja dibentuk sebagai konsolidasi kekuatan aliansi AS untuk menandingi China yang sedang hegemonik di kawasan Indo-Pacific.
“FPDA memiliki prinsip untuk saling melindungi. Jika anggotanya diserang mereka harus saling melindungi. Apalagi China di Asia Tenggara assertif,” ujarnya.
FPDA adalah aliansi pertahanan yang dibentuk Australia, Inggris, Selandia Baru, Singapura, dan Malaysia.
Sejak ditanda tangani pada 1971, kelima negara FPDA memiliki perjanjian untuk saling membantu jika terjadi serangan dari luar.
Selain itu, kata Rizal, meskipun Inggris tidak terlihat agresif di kawasan, tapi negara itu tetap stand by force jika menyangkut kepentingan Amerika Serikat dan Australia di Laut China Selatan.
Sementara itu, marinir AS juga sudah stand by force di Darwin, Australia utara jika suatu ketika dibutuhkan di sekitar Laut China Selatan.
“Jadi saya melihat AUKUS sebagai penguatan agenda politik keamanan ketiga negara,” kata dia.
Juli lalu, China mengklaim telah mengusir kapal perusak milik Amerika Serikat (AS) di dekat Kepulauan Paracel, Laut China Selatan.
Beijing menyebut kapal perusak USS Benfold tersebut memasuki perairan Kepulauan Paracel tanpa persetujuan pemerintah China.
Rizal mengatakan China memang memiliki pengaruh besar di ASEAN karena negara itu lebih mengedepankan hubungan bilateral. Sedangkan AS lebih menekankan multilateral diplomacy.
“China pendekatannya soft power. Tapi di balik soft power itu, China akan menawarkan kerja sama simbiosis mutualisme antarnegara,” jelas dia.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, juga menduga AS membangun pakta tersebut untuk berbagi beban (burden sharing) dalam menghadapi kekuatan China.
Menurut dia, kemampuan AS saat ini berbeda dengan ketika dulu berhadapan dengan Uni Soviet. Amerika kini, kata Hikmahanto tidak mampu menghadapi China sendirian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/fhklbvukl.jpg)