Rabu, 13 Mei 2026

Pakta Pertahanan

Tiga Negara Sekutu Bentuk AUKUS, Tandingi Hegemoni China di Indo-Pacifik

Aliansi ini sengaja dibentuk sebagai konsolidasi kekuatan aliansi AS untuk menandingi China yang sedang hegemonik di kawasan Indo-Pacific.

Tayang:
Editor: Taufik Hidayat
SERAMBINEWS/Global Times
Kelompok tugas kapal induk Shandong China memulai latihan rutin di Laut China Selatan, Minggu (2/5/2021). 

“Kalau dulu AS punya kekuatan ekonomi, bisa kasih utang dan alutsista mereka canggih," ujar Hikmahanto. "Sekarang alutsista canggih tapi tidak (memiliki) kekuatan ekonomi,” lanjut dia.

Negara-negara ASEAN telah menjadi blok perdagangan nomor satu dengan China pada 2020. Volume perdagangan mencapai 4,74 triliun yuan atau USD731,9 miliar, tumbuh 7 persen year-on-year, menurut data Bea Cukai China.

AS dan China baru-baru ini juga bersaing dalam memberikan pengaruh ke kawasan, Agustus lalu Wakil Presiden Kamala Harris menggelar tur ASEAN dan menekankan Indo-Pacific menjadi top prioritas diplomasi negeri Paman Sam saat ini.

Dua pekan berselang, Menlu China Wang Yi mengunjungi Vietnam, Kamboja, Singapura, dan Korea Selatan untuk memperkuat kerja sama dan membahas masalah regional.

Baca juga: Sah Jadi Istri Teuku Ryan, Ria Ricis Ungkap Kalimat Ini di Malam Pertama

Baca juga: Viral Cerita Pria Penjaga Makam, Sehari Dibayar Rp 1 Juta Belum Termasuk Makan, Ini Faktanya

ASEAN Anggap AUKUS Picu Konflik

Meski Malaysia juga bagian FPDA, negara itu menolak pembentukan pakta pertahanan AUKUS yang berencana mempersenjatai Australia dengan kapal selam nuklir.

Dalam percakapan telepon dengan Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton kepada Peter Dutton pada Senin, Menteri Pertahanan Malaysia Hishamuddin Hussein menekankan bahwa pembentukan AUKUS berpotensi mengganggu perdamaian dan stabilitas di kawasan, terutama di Laut Cina Selatan.

“Meskipun Australia telah membedakan antara senjata nuklir dan aset militer bertenaga nuklir, sikap Malaysia tetap konsisten – semua pihak harus menahan diri untuk tidak menggunakan aksi militer yang dianggap provokatif, serta berpotensi meningkatkan ketegangan dan memicu konflik di kawasan,” kata Hussein dalam pernyataannya.

Di akhir pembicaraan, Hussein menyuarakan komitmen Malaysia terhadap hubungan pertahanan bilateral dengan Australia, termasuk melalui FPDA.

Pada 1995, ASEAN menetapkan perjanjian kawasan bebas senjata nuklir atau Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone untuk menjamin perdamaian dan stabilitas di Asia Tenggara.

Sementara itu, Indonesia memprediksi pakta pertahanan antara Australia, Amerika Serikat dan Inggris (AUKUS) akan semakin meningkatkan dinamika di Laut China Selatan.

Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Indonesia Laksamana Madya TNI Aan Kurnia, dampak langsung di sektor pertahanan adanya AUKUS tersebut menyebabkan kehadiran kekuatan militer besar di perairan Laut China Selatan meningkat.

Selain itu juga, pakta pertahanan tersebut dinilai bisa menyebabkan gangguan dan terjadinya peningkatan risiko konflik dalam lalu lintas pelayaran.

“Sehingga kalau larinya ekonomi keamanan, asuransi akan meningkat, biaya logistik meningkat sehingga menciptakan krisis energi dan ekonomi, itu dampak keamanannya,” jelas Aan saat Rapat Dengar Pendapat dengan DPR pada Senin.

Kontestasi di laut juga akan mendorong negara yang terlibat untuk meningkatkan kemampuan perangnya sehingga berpotensi terjadinya risiko pecah perang.

Baca juga: Fakta Oknum Polisi di Sumut Rudapaksa Istri Tahanan, Kandungan Disuruh Aborsi, Korban Diperas

Baca juga: Tim Putri Aceh Timur Gelar Rafting Exercise 2021 di Geumpang Pidie

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved