Ini Biaya Umrah 2021 Terbaru Selama Pandemi Covid-19, Bakal Naik Dua Kali Lipat?

Sejauh ini, Indonesia menjadi salah satu negara berstatus ditangguhkan untuk melakukan perjalanan langsung ke Arab Saudi di tengah angka kasus Covid

Editor: Faisal Zamzami
AFP
Pelaksanaan ibadah umrah secara ketat di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi selama bulan Ramadan 2021. 

Namun perkiraannya akan kembali di buka pada pertengahan tahun depan atau di akhir tahun 2022.

“Untuk paket umroh ataupun program marketing, kami belum ada. Kami masih menutup layanan reservasi di Umroh.com hingga situasi benar-benar kondusif,” ucapnya.

Meski demikian, ia memproyeksikan layanan umroh itu diperkirakan akan mengalami kenaikan biaya umroh 2021 sekitar 30 persen sampai 50 persen jika dilaksanakan selama pandemi.

“Jadi kalau biaya umroh sebelum pandemi adalah di kisaran Rp 20 juta sampai Rp 25 juta maka estimasinya akan naik menjadi Rp 30 juta hingga Rp 35 juta,” tutupnya.

Baca juga: Arab Saudi Syaratkan Jamaah Haji dan Umrah Luar Negeri Mendaftar di Platform Quddum

Baca juga: Dua Siswi Berikan Hadiah Umrah Gebyar Vaksin Bireuen Untuk Orang Tua

Berapa biaya umroh 2021?

Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Asosiasi Travel Haji dan Umrah (SATHU), Artha Hanif memperkirakan, biaya umroh 2021 bakal naik. Hal itu karena ada kewajiban karantina, tes PCR dan lainnya.

Perhitungan SATHU, biaya umroh 2021 bakal naik setidaknya Rp 10 juta. Pasalnya, karantina peserta umroh butuh waktu lama. Prioritas jemaah yang tertunda keberangkatannya.

Firman menuturkan, pihaknya juga akan memfokuskan diri untuk memberangkatkan jemaah umroh yang tertunda sejak Februari 2020.

Tentu saja, hal itu juga para jemaah tersebut harus memenuhi syarat yang ditentukan, seperti vaksin Covid-19 dan kesehatan tubuh.

"PR kami adalah kami konsen sekali agar jemaah-jemaah yang tertunda keberangkatannya sejak februari 2020 menjad prioritas diberangkatkan," jelas dia.

Terkait vaksin Covid-19, Firman menyebut ada empat merek yang diizinkan oleh Arab Saudi, yaitu Pfizer, Moderna, AstraZeneca, dan Johnson & Johnson.

Bagi jemaah yang menggunakan vaksin Sinovac dan Sinopharm, harus disuntik booster yang berasal dari empat vaksin di atas.

Namun, sampai saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan terkait teknis vaksin booster.

Selain itu, Firman berharap agar pemerintah memastikan barcode vaksinasi bisa dibaca dan diakses oleh Arab Saudi.

Hal tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa jemaah sudah benar-benar divaksin lengkap.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved