Breaking News
Selasa, 28 April 2026

Perikanan

Penurunan Populasi Ikan Depik jadi Pembahasan Pakar Perikanan

Di antaranya Direktur Pengelolaan Sumberdaya Ikan Kementerian Keluatan dan Perikanan, Syahril Abdul, Kepala Pusat Riset Perikanan Kementerian Kelautan

Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Kadis Keluatan dan Perikanan Aceh Ir Aliman MSi, sedang mendengar masukan dari pakar Perikanan, dalam Forum Pertemuan Pakar Perikanan, di Hotel Pade, Senin (15/11/2021). 

Dicari lebih dulu, faktor penyebab penurunannya karena apa? Kemudian baru dibuat strategi dan metode serta upaya untuk budidayanya secara khusus, setelah itu baru dilepas ke Danau Laut Tawar, untuk menambah jumlah populasinya.

Aliman menjelaskan program pembangunan perikanan Aceh untuk lima tahun, sudah ada dalam dokumen RPJM dan Renstra, yang diimplementasikan setiap tahun dalam RAPBA/APBA. Programnya antara lain Aceh Melaot, Aceh Troe, Aceh Meugo dan lainnya.

Dalam penyusunan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kelauatan dan perikanan Aceh, kata Aliman, pihaknya tidak berjalan sendiri, tapi melibatkan banyak pihak, termasuk di dalamnya akademisi, NGO, LSM, Pers dan pihak terkait lainnya, seperti yang dilakukan hari ini.

Baca juga: Rahmat Maulizar Terobos Pedalaman Aceh agar Anak Bibir Sumbing Dapat Tersenyum

Program ke depan, kata Aliman, yaitu terus melakukan pembinaan industr pengolahan perikanan yang ada dalam Kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kutaradja Lampulo, Banda Aceh dan di sejumlah Pelabuhan Perikanan yang ada di daerah.

Misalnya Pelabuhan Perikanan Kuala Idi, Aceh Timur, Pelabuhan Perikanan Ujong Serangga, Aceh Barat dan lainnya.

Untuk pembangunan budi daya perikanan darat, dan tambak, kata Aliman, diterus memfokuskan pada pengembangan komoditi yang sudah berjalan. Misalnya ikan bandeng, udang panami dan lainnya.

Untuk udang panami, kata Aliman, DKP Aceh terus mengawasinya, karena ada beberapa pengusaha udang panami yang berada di pesisir pantai timur-utara Aceh dalam beberapa tahun terakhir ini, memindahkan lokasi tambak udang panaminya yang berada di pesisir pantai utara ke pesisir pantai barat.

Kenapa mereka meninggalkan lokasi tambak udang panaminya di pesisir pantai timur utasra?

Apakah sudah tercemar dengan berbagai jenis bahan beracun, akibat pemanfaatan obat kimia yang berlebihan dan ini perlu kita lakukan riset dan penelitiannya bersama perguruan tinggi.

Untuk kegiatan industri pengolahan ikan, kata Aliman, Aceh sudah mulai maju, karena sejumlah perusahaan pengolahan ikan yang ada di PPS Kutaradja Lampulo, sekarang saat ini, tidak hanya menampung ikan dari nelayan setempat, tapi juga sudah mulai menampung penjualan ikan karang dari Sumut, seperti ikan kerapu, untuk diekspor ke luar negeri, jika kuota ekspornya belum cukup.

Ini artrinya, kalau dulu ikan dari Aceh selalu di jual dalam bentuk segar dan beku, ke luar, tapi sekarang ikan dari luar juga sudah diolah di Aceh untuk diekspor.

Karena itu, kata Aliman, nilai ekspor ikan Aceh tahun ini, sudah malapui targetnya.

Targetnya 5 juta dolar AS, tapi realisasinya, menurut data dari Kantor Perwakilan BI Aceh, di Banda Aceh, sudah mencapai 10 juta dolar AS.

Ini artinya, kehadiran industri pengolahan ikan di PPS Kutaradja Lampulo, sudah memberikan dampak positif bagi daerah ini, yaitu menyerap tenaga kerja yang banyak dan memberikan nilai tambah yang besar bagi daerah dan perusahaan perikanan.

Mantan Kadis Keluatan dan Perikanan Aceh, Ir T Diuddin mengatakan, target dari pembangunan periknan itu adalah meningkatkan kesejahteraan petani tambak dan nelayan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved