Sabtu, 9 Mei 2026

Internasional

Ulama Syiah Irak, Moqtada Al-Sadr Minta Pecundang Tidak Ganggu Hasil Pemilu

Ulama Syiah berpengaruh Moqtada Sadr, pemenang besar Pemilu Irak bulan lalu minta pecundang tidak ganggu hasil pemungutan suara.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP
Ulama Syiah Irak Moqtada Al-Sadr 

SERAMBINEWS.COM, NAJAF - Ulama Syiah berpengaruh Moqtada al-Sadr, pemenang besar Pemilu Irak bulan lalu minta pecundang tidak ganggu hasil pemungutan suara.

Seruannya muncul setelah ketegangan berminggu-minggu yang memuncak pada awal November 2021.

Seusai sebuah pesawat tak berawak bermuatan bahan peledak menghantam kediaman Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhemi.

Hasil akhir pemungutan suara legislatif 10 Oktober 2021 masih belum diumumkan.

Tetapi Aliansi Penaklukan (Fatah), cabang politik Hashed Al-Shaabi yang pro-Iran, mengalami penurunan kursi dari 48 menjadi sekitar 15.

Kelompok itu mengecam hasil pemilu dengan menyebut ada penipuan.

Hashed, jaringan paramiliter sekarang terintegrasi dalam pasukan reguler.

Baca juga: Pemerintah Irak Segera Pulangkan Warganya dari Perbatasan Polandia-Belarusia

Sadr, yang berkampanye sebagai seorang nasionalis dan kritikus Iran, menjadi pemenang besar, dengan raihan 70 dari 329 kursi.

Pada konferensi pers, dia berbicara kepada kekuatan politik yang menganggap diri sebagai pecundang dalam pemilihan ini.

Dia mengatakan kekalahan mereka seharusnya tidak membuka jalan menuju kehancuran proses demokrasi Irak.

"Apa yang mereka lakukan, hanya menonjolkan penolakan orang terhadap Anda,” ktanya.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan pesawat tak berawak di mana Kadhemi tidak terluka.

Itu terjadi dua hari setelah pasukan keamanan bentrok dengan pendukung partai-partai yang didukung Iran di dekat Zona Hijau.

Meskipun kalah dalam pemilihan, Hash akan tetap menjadi kekuatan politik.

Baca juga: Putra Mahkota Arab Saudi Beri Dukungan ke Perdana Menteri Irak, Usai Jadi Target Pembunuhan

Berbagai faksi di negara itu terlibat dalam negosiasi maraton untuk membentuk aliansi dan menunjuk perdana menteri baru.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved