Breaking News:

Salam

Saatnya Marwah PWI Ditegakkan

Harian Serambi Indonesia edisi kemarin memuat foto master di halaman 1 tentang proses pemilihan Ketua Persatuan Wartawan (PWI) Aceh

Editor: hasyim
SERAMBINEWS.COM/HENDRI
Wartawan Senior, Nasir Nurdin terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Periode 2021-2026. Nasir Nurdin terpilih sebagai ketua dalam Konferensi Provinsi (Konferprov) XII yang diselenggarakan di Hermes Palace Hotel, Kota Banda Aceh, Minggu, (21/11/2021) dini hari 

Harian Serambi Indonesia edisi kemarin memuat foto master di halaman 1 tentang proses pemilihan Ketua Persatuan Wartawan (PWI) Aceh Periode 2021-2026. Sebagaimana terbaca di teks foto, pemilihan secara demokratis itu berlangsung hingga pukul 02.30 WIB pada Minggu (21/11/2021) dini hari.

Ending dari prosesi itu terpilihlah M Nasir Nurdin, Pemimpin Redaksi Theacehpost, sebagai ketua. Mantan wakil redaktur pelaksana Harian Serambi Indonesia ini unggul dengan perolehan 121 suara, sedangkan rivalnya, Teuku Haris Fadhillah, wartawan LPP RRI Banda Aceh, mendapat 83 suara.

Pemilihan itu menjadi lebih berwibawa karena dihadiri langsung oleh Ketua Umum PWI Pusat, Atal Sembiring Depari. Begitu dinyatakan unggul dalam perolehan suara dan Nasir Nurdin ditetapkan sebagai ketua terpilih, Atal Depari langsung menyerahkan pataka kepemimpinan PWI Aceh kepada Nasir.

Pertama-tama, Keluarga Besar Harian Serambi Indonesia mengucapkan selamat dan sukses atas terpilihnya M Nasir Nurdin sebagai Ketua PWI Aceh Periode 2021-2026. Di bawah kepemimpinan Nasir, semoga organisasi wartawan tertua di Aceh ini menjadi lebih berwibawa, disegani, dan diperhitungkan sebagai tempat berhimpunnya para wartawan, salah satu profesi yang mulia lagi terhormat.

Bagi Nasir Nurdin, pertarungan ini merupakan yang ketiga. Dua kali gagal tak membuatnya patah arang. Nasir tetap ‘keukeuh’ untuk maju pada pemilihan kali ini demi dua hal: Mewujudkan misi yang tertunda dan Demi Marwah PWI.

Tagline yang diusung Nasir ‘Demi Marwah PWI’ sungguh menarik untuk diulas. Mungkin karena tagline itu pula banyak peserta Konferprov Ke-12 yang tersihir, lalu memilih Nasir sebagai ketua mereka.

Boleh jadi dalam amatan dan persepsi Nasir, marwah PWI di Aceh selama ini kedodoran atau kurang dihormati, maka ia terobsesi untuk meningkatkannya. Kalau memang seperti itu, kinilah saatnya marwah tersebut ditegakkan. Namun, hal ini tentu saja masih ‘debatable’ sifatnya. Pengurus demisioner tentu tak sepakat kalau PWI di masanya diklaim kedodoran marwahnya.

Oleh karenanya, mungkin saja yang dimaksud Nasir soal marwah itu adalah dia ingin marwah PWI tetap terjaga, sebagaimana Tarmilin Usman, mantan ketua PWI Aceh dua periode, mempertahankannya selama ini.

Di sisi lain, tagline ‘demi marwah PWI’ bisa juga ditafsirkan bahwa Nasir sebetulnya ingin kredibilitas, integritas, dan profesionalisme segelintir wartawan yang sering dikeluhkan oleh narasumber dan pembaca–dan ini berdampak pada citra PWI--ke depannya tidak terdengar lagi sebagai nyanyian sumbang.

Ketika marwah yang ingin dijunjung dan dijadikan target akhir dari kepemimpinan seorang Nasir Nurdin di PWI Aceh, maka ia haruslah bersungguh-sungguh bersama kabinetnya kelak memperjuangkan profesi wartawan ini tetap sebagai profesi yang ‘honorable’.

Untuk itu, program-program yang disusun haruslah mengarah kepada penegakan marwah wartawan dan martabat PWI sebagai wadah tempat para jurnalis berhimpun. Untuk penegakan marwah wartawan, maka kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik adalah kuncinya. KEJ tersebut harus senantiasa menjadi himpunan etika bagi wartawan dalam menjalankan profesinya.

Oleh karenanya, PWI di masa Nasir haruslah menempatkan kualitas dan integritas wartawan pada prioritas pertama. Hal ini hanya akan terwujud jika uji kompetensi wartawan (UKW) dilakukan sesering mungkin, sehingga tak ada lagi wartawan di Aceh yang tak lulus UKW. Selain itu, materi tentang Hukum Pers sebagaimana termaktub dalam UU Nomor 40 Tahun 1999, juga UU ITE dan UU Penyiaran, harus sering pula diajarkan kepada wartawan melalui workshop atau sejenisnya.

Pelatihan-pelatihan untuk memperkaya wawasan khas era digital harus pula dilakukan secara berkala untuk meng-upgrade pengetahuan wartawan.

Akhirnya kita berharap, di masa kepemimpinan Nasir Nurdin PWI Aceh makin meningkat dan terjaga marwahnya, terutama marwah para wartawannya sebagai profesi yang mulia dan terhormat. Hendaknya jangan ada lagi wartawan nakal, tukang peras, dan wartawan abal-abal di Aceh, dan itu menjadi tugas berat Nasir untuk menertibkannya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved