Breaking News:

Berita Internasional

Setiap Tahun, Ratusan Dokter di Uganda Terpaksa Keluar dari Negaranya

Ada lebih dari 2.700 orang dokter di Uganda tetapi mereka tidak bekerja dan berencana pindah ke negara lain.

Editor: Taufik Hidayat
AFP
Polisi menutup lokasi kerusuhan di Kampala, Ibu Kota Uganda. 

SERAMBINEWS.COM, KAMPALA - Sekretaris Jenderal Asosiasi Medis Uganda, (UMA) mengatakan, setiap tahun, 500 dokter yang memenuhi syarat dari universitas kebanyakan pindah ke luar negeri untuk upah yang lebih baik.

Hebert Luswata mengatakan bahwa pemerintah tidak merekrut sebagian besar dokter, dengan alasan tidak memiliki uang untuk membayar mereka.

“Pemerintah hanya mempekerjakan 1.600 dokter, namun ada 4.000 pos kosong di rumah sakit pemerintah yang kekurangan dokter,” katanya, Kamis (25/11/2021).

Luswata mengatakan ada lebih dari 2.700 orang dokter di Uganda tetapi mereka tidak bekerja dan berencana pindah ke negara lain, kemungkinan besar Inggris, AS, Kenya, Rwanda, dan Botswana.

Ratusan dokter dan perawat kesehatan lainnya pindah dari Uganda setiap tahun setelah memenuhi syarat di universitas dan lembaga pendidikan kesehatan untuk bekerja di negara maju.

Praktisi dan advokat kesehatan prihatin dengan tren tersebut karena kegagalan pemerintah untuk menyerap tenaga mereka ke dalam layanan kesehatan dan kondisi kerja yang buruk di Uganda.

Kekhawatiran semakin besar pada saat dokter di Uganda mogok, menuntut gaji yang lebih baik.

Baca juga: Erick Thohir Janji Sejahterakan UMKM hingga Ujung Indonesia melaui Rumah BUMN Sabang

Baca juga: Arkeolog Temukan Jejak Keberadaan Manusia Era Bizantium di Turki

Direktur Eksekutif Pusat Afrika untuk Kesehatan Global dan Transformasi Sosial (ACHEST), Francis Omaswa, mengatakan pemerintah harus campur tangan untuk menghentikan perekrutan tenaga kesehatan internasional dari Uganda.

“Karena kekurangan tenaga kesehatan global, diperkirakan mencapai 18 juta pada 2030 mendatang, ada persaingan ketat untuk mengisi kesenjangan dengan negara-negara kaya yang berebut tenaga kesehatan yang tersedia melalui perekrutan yang tidak diatur dan migrasi klandestin, membuat negara-negara miskin seperti Uganda dirugikan,” kata dia.(AnadoluAgency)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved