Cara Islam Cegah Wabah
Berdasarkan data Worldometers.com per Kamis (2/12/2021), tidak kurang dari 263,7 juta jiwa masyarakat di dunia ini sudah terinfeksi virus corona
Disebutkan dalam buku tersebut, penyakit Thaun ini adalah penyakit menular yang bisa menyebabkan kematian.
“Wabah ini pertama kali terjadi pada tikus dan menyebar kepada manusia. Melalui darah tikus yang berada di kutu anjing itu tersebut menular ke manusia melalui kulit dan darah. Adapun masa inkubasi penyakit thaun ini antara dua sampai dua belas hari,” kata Alumni Dayah Istiqamatuddin Darul Muarrif Lam Ateuk Aceh Besar ini.
Para penderitanya, jelas Tgk Bustamam, harus menjalani karantina dan menjalani pengobatan, sesuai apa yang dilakukan di zaman Rasulullah maupun Umar bin khattab.
Lalu bagaimana Islam memandang musibah, baik musibah alam atau musibah nonalam sebagaimana wabah penyakit atau pandemi?
Dalam Islam semua yang dialami manusia berupa musibah adalah merupakan ketentuan Allah SWT untuk menguji kesabaran manusia.
Dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 155, Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar “
“Semua yang terjadi di muka bumi ini merupakan ketentuan Allah SWT untuk menunjukkan kepada kita kebesaran-Nya dan supaya kita tidak merasa angkuh dan sombong, karena dengan musibah itu manusia menjadi tidak ada artinya dihadapan Allah SWT,” ujar Tgk Bustamam.
Meskipun sebagai manusia kita dianjurkan untuk menerima segala musibah itu dengan penuh ketabahan dan kesabaran, kita dituntut pula untuk berikhtiar mencegah penularan dan penyebarannya seraya berupaya untuk menemukan obat untuk menyembuhkannya.
Hal ini dikarenakan salah satu diantara tujuan utama syariat adalah melindungi jiwa manusia dari hal-hal yang dapat merusak dan membahayakannya.
Perintah ini juga disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya: “Dan larilah dari penyakit lepra, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa” (HR Bukhari).
Dalam riwayat lain, Rasulullah juga memerintahkan untuk menjauhi suatu negeri yang terdampak wabah, begitu pula sebaliknya orang yang berada di negeri yang terkena wabah itu tidak boleh keluar dari wilayahnya.
“Kalau istilah sekarang disebut dengan lockdown atau menutup dan mengisolasi wilayah yang terkena wabah penyakit menular,” ujar Tgk Bustamam.
Menerima dengan Penuh Kesabaran
Tgk Bustamam Usman menambahkan, Islam mengajarkan bagaimana cara kita sebagai seorang muslim menerima suatu musibah atau bencana yang menimpa baik bencana alam maupun bencana non alam seperti wabah covid-19.
Cara yang diajarkan Islam itu adalah menerima bencana itu dengan penuh kesabaran sebagai bentuk keimanan kita atas kekuasaan Allah SWT, seraya kita berusaha mengatasinya dengan mencegah penyebarannya, membantu mereka yang tertimba musibah, serta berusaha mencari solusi untuk pengobatannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bustamam-usman-ketua-komisi-b-mpu-banda-aceh1.jpg)