Rabu, 20 Mei 2026

Mihrab

Birrul Walidain: Fondasi Peradaban Aceh

KATA-KATA "Birrul Walidain" ini berasal dari bahasa Arab yang bermakna "berbuat baik kepada kedua ibu dan bapak

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. TEUKU ZULKHAIRI, MA Penulis Buku "Syari'at Islam Membangun Peradaban". 

OLEH Dr. TEUKU ZULKHAIRI, MA Penulis Buku "Syari'at Islam Membangun Peradaban".

KATA-KATA "Birrul Walidain" ini berasal dari bahasa Arab yang bermakna "berbuat baik kepada kedua ibu dan bapak".

Kata-kata ini tentu sering kita dengar dan simak saat mempelajari kitab-kitab akhlak dasar sewaktu kita belajar di TPA dahulu

Bahkan juga hingga kini di berbagai literatur.

Islam menaruh perhatian yang sangat serius terhadap perkara ini. Bahkan perintah menauhidkan Allah dan menyembah- Nya dalam sejumlah ayat langsung diikuti dengan perintah berbuat baik kepada kedua ibu bapak.

Sebagai sebuah bangsa, akan banyak keutamaan dan kemuliaan yang kita raih sekiranya di Aceh kita dapat melahirkan dan mencetak banyak anak-anak muda yang berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya.

Apabila hari ini kita bertanya kemana arah orientasi pendidikan yang ingin kita tuju, semestinya kita dapat menempatkan kembali visi melahirkan generasi muda yang mengabdi kepada kedua orang tuanya sebagai juga visi utama institusi keluarga dan lembaga pendidikan di Aceh.

Segenap infrastruktur dan suprastruktur pendidikan kita juga harus kita korelasikan ke visi ini

Sehingga desain epistemologi pendidikan kita, ontologi dan aksiologinya dapat mengarah kepada tujuan ini.

Fondasi peradaban Aceh Jadi betapa penting dan sakralnya perintah berbuat baik kepada kedua orangtua bagi seorang anak.

Pada tulisan ini, saya akan mengajak pembaca sekalian untuk melihat hubungan antara Birrul Walidain dengan peradaban Aceh.

Islam menjelaskan keutamaan seorang anak yang mau berbakti kepada kedua ibu bapaknya.

Dia akan menjadi orang-orang terpilih untuk memperoleh kemuliaan dengan berkat pengabdiannya kepada kedua ibu bapaknya.

Bahkan doa-doanya akan mudah untuk diistijabah oleh Allah Swt.

Baik doa untuk dirinya maupun untuk orang lain. Mari kita ingat kembali kisah Uwais Al-Qarni di masa Rasulullah Saw.

Seorang anak yang mengabdi pada Ibundanya. Lokasi tinggal Uwais begitu jauh dengan Rasulullah SAW.

Tapi suatu ketika, Rasulullah atas pemberitahuan Malaikat Jibril memberitahukan kepada para sahabatnya profil Uwais di langit.

Uwais kata Rasulullah adalah pemuda yang tidak terkenal di muka bumi ini, tapi dia sangat terkenal di kalangan penduduk langit, di hadapan para Malaikat.

Namanya di sana begitu harum mewangi. Itu karena Uwais adalah seorang anak yang mengabdi pada ibu bapaknya.

Ia menyuapi sang Ibunda dihari tuanya dengan penuh kesabaran dan harapan seperti halnya sang ibunda menaruh asa dan kasih sayang saat menyuapi Uwais dikala bayinya.

Rasulullah SAW memberitahukan ciri-ciri Uwais kepada para sahabatnya. Jika para sahabatnya kelak berjumpa dengan pemuda ini, Rasulullah meminta agar mereka meminta didoakan Uwais untuk diampuni oleh Allah Swt.

Apa maknanya?

Doa Uwais itu jamin diterima oleh Allah.

Sebabnya tentu karena pengabdiannya kepada kedua orang tua. Rasulullah Saw juga mengatakan, bahwa Syurga terbaik itu adalah melalui pintu orang tua kita.

Coba perhatikan hadis Rasulullah yang diriwayatkan Imam Tirmizi: "Orang tua adalah pintu surga yang paling baik.

Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya".

Orang tua adalah jembatan kita ke syurga sekiranya kita bisa menjadi anak yang taat dan mengabdi kepada keduanya.

Itu jaminan Rasulullah saw.

Sebaliknya, anak yang tidak mau mengabdi kepada kedua bapaknya maka ia akan menjadi anak yang durhaka dan memperoleh balasan yang sangat keras di akhirat.

Atau bahkan juga mungkin balasannya disegerakan di dunia.

Sudah banyak kisah kerugian dan kemalangan seorang anak yang menyakiti orang tuanya.

Kita diberitahu para guru kita kisah tentang Alqamah yang hidup di masa Rasulullah Saw.

Dia adalah seorang pemuda yang rajin beribada. Taat. Shalih. Amalnya banyak.

Tapi dia pernah menyakiti hati sang ibundanya. Itu membuat Alqamah kesulitan saat sakratul maut.

Berhari-hari dia sakit. Hidup bukan dan matipun tidak mau. Kira-kira begitu kondisi akhir hayat Alqamah.

Sampai kemudian Rasulullah paham sebab ini dan memohon ibunda Alqamah agar mau memaafkannya.

Singkat cerita, Ibunda Alqamah atas bujukan Rasulullah dan sahabatnya akhirnya mau memaafkan Alqamah sehingga Alqamah pun dapat kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang.

Dari kedua kisah di atas (dan juga banyak kisah lainnya), tentu kita semua berdo'a kepada Allah agar dapat menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan terhindar dari menjadi anak yang durhaka.

Jadi, kalau kita ingin membangun peradaban Aceh, maka tentulah kita perlu menyiapkan profil pemuda semacam Uwais sebanyakbanyaknya.

Sebab, kita butuh do'a mereka agar Aceh dapat kita bangun dengan penuh kelimpahan rahmat dan karunia Allah Swt.

Bayangkan jika kita di Aceh memiliki banyak sekali anakanak yang mau taat dan mengabdi kepada kedua ibu bapaknya.

Pastilah mereka akan menjadi tulang punggungn dan fondasi peradaban Aceh.

Jadi, jelas bahwa figur pemudapemuda yang melakukan Biruul Walidain adalah salah satu kebutuhan utama dalam fondasi bangunan peradaban Aceh.

Menyiapkan Generasi Uwais

Pertanyaan kemudian, bagaimana kita mencetak generasi seleval Uwais di Aceh?

Namun sebelumnya, penting kita pahami bahwa sesungguhnya kisah Uwais mengajarkan kita tentang sejarah masa lalu untuk panduan kita hari ini.

Jadi dia bukan sekedar kisah masa lalu, melainkan tuntutan agar kita kembali menghadirkan diri kita semuanya sebagai sosok-sosok Uwais masa kini.

Untuk mencapai tujuan ini

Pertama, kita mesti mendesain lembaga pendidikan kita untuk focus dan serius mencetak Uwais-Uwais baru melalui segenap agenda-agenda pendidikan kita dan memahami bahwa itu bukanlah utopia belaka.

Kita bisa melakukannya dengan izin Allah setelah memenuhi syarat-syarat langit yang telah diajarkan kepada kita.

Jika hari ini kita berhasil menemukan seorang anak yang kita lihat penuh ketaatan dan pengabdian kepada kedua ibu bapaknya

Maka muliakanlah ia dan mintalah do'a kepadanya untuk kebaikan kita sebagai sebuah bangsa.

Selain itu melalui lembaga pendidikan, yang kedua adalah menciptakan lingkungan yang mendukung proses melahirkan Uwais-uwais masa kini di Aceh.

Baca juga: Selamatkan Generasi Muda dengan Syariat Islam

Baca juga: Kalkulasi Politik Rasional Partai Islam

Masyarakat kita mesti membangunkan kembali kesadaran ini bahwa anak-anak Aceh adalah tanggungjawab kita semua

Sebagai sebuah entitas bangsa bagaimana agar mereka menjadi anak yang shalih dan berbakti kepafa kedua orang tuanya.[email : teuku. zulkhairi@ar-raniry.ac.id]

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved