Opini
“Darussalam Kembali ke Khittah”
Masyarakat Aceh yang tinggal di kawasan Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam akhirnya bisa bernafas lega
Jika intelektual Darussalam akhirnya sepakat merobohkan tembok di tengah-tengah kita semua ini, tentu juga akan sepakat untuk berada di barisan yang sama merebohkan “tembok-tembok” lain yang memisahkan antara Aceh dan kejayaan yang diimpikannya.
Melihat kemana Aceh harus bergerak di masa depan, agaknya penting melihat kembali nama-nama besar ulama Aceh yang diabadikan menjadi nama kampus jantong hate masyarakat Aceh di Darussalam.
Syaikh Abdurrauf As-Singkili atau dikenal dengan Tgk Syiah Kuala yang diabadikan menjadi nama kampus Universitas Syiah Kuala (USK).
Lalu Syaikh Nuruddin Ar-Raniry yang diabadikan namanya menjadi nama kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.
Serta Tgk Chik Pante Kulu yang diabadikan menjadi nama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pante Kulu, yang desainnya lebih kepada pelembagaan tradisi pendidikan dayah sebagai sistem pendidikan paling menyejarah di Aceh.
Tentu para founding father Darussalam memiliki banyak argumentasi historis, sosiologis dan psikilogis ketika nama-nama para ulama ini diabadikan menjadi nama-nama kampus utama di Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam.
Dari sini kita akan memahami bahwa para founding father Darussalam ingin agar pendidikan dan narasi peradaban Aceh itu harus meneruskan ruh perjuangan para ulama yang namanya diabadikan ini.
Bukankah demikian? Tapi sekarang, bagaimana hubungan kita dengan nama-nama besar ulama Aceh ini? Sejauh mana kita telah berjuang mempertemukan Aceh dan paradigma mereka dalam bagaimana membangun Aceh? Saya sering berfikir, bahwa bisa jadi tatkala hari ini kita terjebak dalam berbagai problematika krusial yang mendera Aceh yang seolah seperti “kutukan” yang membendung mimpi kita melihat kejayaan, itu bisa jadi karena kita sudah kurang peduli kepada para ulama kita, sehingga kita bisa saja jadi “teumeurka” sama mereka.
Kita tidak peduli pada nilai-nilai yang bangun, tanamkan dan ajarkan melalui kitab-kitab mereka sebagai arsitek kejayaan Aceh di masa silam.
Ini sebuah otokritik.
Penulis tidak menyalahkan siapa pun.
Tapi fakta ini mungkin perlu direnungkan oleh siapa pun.
Kita di Darussalam seharusnya lebih dekat kepada ulama.
Tapi fakta hari ini, mahasiswa kita mungkin sama sekali tidak kenal dengan nama-nama ulama tersebut.
Apalagi karya-karya mereka yang berjibun itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/akademisi-uin-ar-raniry-dr-tgk-teuku-zulkhairi-ma.jpg)