Selasa, 5 Mei 2026

Opini

“Darussalam Kembali ke Khittah”

Masyarakat Aceh yang tinggal di kawasan Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam akhirnya bisa bernafas lega

Tayang:
Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Penulis buku “Syari’at Islam Membangun Peradaban” 

Jadi sekali lagi kita harus melihat perobohan tembok ini sebagai bentuk tanggungjawab intelektual Darussalam untuk mewujudkan Aceh yang berperadaban.

Bahwa intelektual Darussalam telah mengajarkan kita semua satu pesan utama, bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Ini poin penting tulisan ini.

Masyarakat mana yang tidak pernah bermasalah di dunia? Sepanjang perjalanan hidup manusia selalu dilewati dengan berbagai problematika yang mengiringi eksistensi mereka di muka bumi.

Dan yang paling baik di antara mereka bukanlah mereka yang mampu mengelola problem yang muncul menjadi sebuah energi kebangkitan dan peradaban.

Tanpa masalah, kita tidak akan memahami bagaimana menyelesaikannya.

Oleh sebab itu, ketimbang memahami siapa menang siapa kalah- sebagaimana opini yang terbangun di dunia maya–hal penting adalah kita perlu banyak bersyukur atas lompatan ini, robohnya tembok yang menyekat raga kita.

Kita semua paham, bahwa Darussalam sesungguhnya merupakan pusat sirkulasi denyut nadi “darah” peradaban Aceh.

Dari urat nadi ini darah terhubung dengan semua urat nadi “darah” lainnya yang mengalir melalui sirkulasi jantung peradaban Darussalam.

Selama ini, intelektual Darussalam telah berperan dalam membangun struktur peradaban Aceh.

Bahkan mungkin, di hampir semua tatanan peradaban Aceh pasti ada intelektual Darussalam sebagai penggeraknya.

Itu pasti.

Tapi robohnya tembok ini agaknya penting kita maknai sebagai momentum baru dimana intelektual Darussalam dituntut tampil lebih maju membenahi peradaban Aceh.

Membangun dari Darussalam Robohnya tembok di Darussalam pada titik ini harus mampu kita maknai sebagai fase baru dalam pergulatan intelektual Darussalam untuk Aceh yang berperadaban.

Dengan Aceh yang menghadapi berbagai problematika krusial kontemporer yang menderanya, intelektual Darussalam tentu dituntut berjibaku untuk mampu memetakan dan kemudian menyelesaikannya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved