Berita Gayo Lues
PLN Mobile Virtual Charity Run & Ride 2021 Beri Cahaya Bagi 67 Rumah di Kaki Seribu Bukit
Jalan menuju rumah sederhana itu, hanya seperti jalan setapak. Langkah demi langkah ditemani genangan lumpur.
Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Saifullah
SERAMBINEWS.COM - Jalan menuju rumah sederhana itu, hanya seperti jalan setapak. Langkah demi langkah ditemani genangan lumpur.
Dinginnya udara perbukitan dan gelapnya malam menambah suram perjalanan menuju rumah mungil tersebut.
Perjalanan terasa syahdu karena melewati hamparan kebun bawang merah, jagung hingga sawah.
Setelah 15 menit berjalan kaki dari permukiman penduduk dengan ditemani cahaya senter, rumah mungil terlihat berdiri di sisi sawah.
Rumah yang berlokasi di Desa Rema, Kecamatan Kuta Panjang, Gayo Lues tersebut milik keluarga Ramadan.
Ramadan hanya mampu mendirikan rumah papan ala kadarnya. Sejauh mata memandang tak terlihat ada sofa apalagi televisi.
Baca juga: Seluruh Keuchik di Kuta Makmur Aceh Utara, Deklarasi Dukung Program kWh Meter Digital
Karena sehari-hari, pria berusia 30 tahun itu hanya mengandalkan upah sebagai pekerja serabutan di kebun warga.
Kerjanya, mulai dari memotong serai, menanam bibit cabe hingga mencangkul, semua demi upah yang jauh di bawah UMR.
Jika banyak yang butuh tenaganya, Ramadan bisa mendapatkan upah hingga Rp 500 ribu perbulan.
Namun jika sepi, dia harus mencukupi kebutuhan istri dan seorang anak berusia 5 tahun dengan penghasilan Rp 300 ribu perbulan.
Dengan kondisi seperti itu, mempunyai Kwh meter listrik sendiri rasanya seperti mimpi.
Namun, mimpi itu dijadikan kenyataan oleh misi kemanusiaan PT PLN (Persero) melalui bantuan TJSL Program PLN Mobile Virtual Charity Run & Ride 2021.
Baca juga: PLN Sosialisasi Peralihan ke Kwh Meter Digital di Peukan Bada Aceh Besar, Ini Keunggulannya
Pada November 2021, sebanyak 67 rumah keluarga kurang mampu di Gayo Lues diberikan bantuan sambungan listrik gratis. Salah satu penerimanya adalah Ramadan.
Doa Iyah, isteri Ramadan yang sedang hamil 9 bulan diijabah Sang Maha Pendengar.
Karena, setiap hari Iyah berdoa agar kelak bayinya lahir ke dunia, tak menangis dalam gelap gulitanya malam.
Harapan Iyah sangat sederhana, dia berharap buah hatinya merasa nyaman dengan penerangan lampu di malam hari.
Setidaknya saat mengganti popok bayinya, dia tak bergelap–gelapan.
Kini rumah mungil yang tampak setitik di bawah kaki seribu bukit itu sudah dialiri arus listrik. Karena walau ia tampak setitik, namun bercahaya di malam hari.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kwh-gratis-1612.jpg)