Selasa, 7 April 2026

Berita Abdya

PDAM GK Abdya Putuskan Suplai Air ke Rumah Pelanggan

PDAM GK Abdya memutuskan suplai air bersih, untuk puluhan rumah pelanggan dalam kawasan Kecamatan Lembah Sabil.

Penulis: Rahmat Saputra | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Bangunan sumur tangkap air IKK LembahSabil, jaringan PDAM GK yang dibangun di area DI Intake Krueng Baru, Kecamatan Lembah Sabil, Abdya, Selasa (28/12/2021). 

Laporan Rahmat Saputra | Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Sejak beberapa minggu terakhir, Perusahaan Daerah Air Minum Gunung Kila (PDAM GK) Aceh Barat Daya (Abdya) dikabarkan memutuskan suplai air bersih, untuk puluhan rumah pelanggan dalam kawasan Kecamatan Lembah Sabil.

Jaringan air bersih PDAM GK di kawasan itu, bersumber kaki gunung sabil, dengan bangunan sumur tangkap air di area Daerah Irigasi (DI) Krueng Baru, Gampong Kayee Aceh, Kecamatan Lembah Sabil.

Selama ini, intake lembah sabil itu menyuplai air bersih untuk ratusan rumah penduduk, dalam sejumlah gampong di lembah sabil. 

Diantaranya, Gampong Kayee Aceh, Gampong Cot Bak U, Gampong Meurandeh, Gampong Meunasah Sukon, Gampong Meunasah Tengah, Gampong Padang Keulele, Gampong Ladang Tuha 1, hingga ke sejumlah Gampong lainnya, yang jaringan pipanya sudah terpasang. 

Sayangnya, baru beberapa waktu menikmati air bersih dari BUMD itu, pihak PDAM GK, malah melakukan pemutusan suplai air ke rumah-rumah penduduk. 

“Kita menilainya ino pemutusan sepihak. Harusnya, jika memang mau dilakukan pemutusan, pihak PDAM memberitahunya dulu, baik secara lisan, maupun edaran, bukan seperti ini,” ujar Murdani, warga Lembah Sabil. 

Hal senada disampaikan Nazli, pelanggan lainnya yang mengalami nasib sama dengan para pelanggan lainnya. Kabarnya, PDAM GK memutuskan suplai air bersih ke rumah pelanggan itu, akibat para pelanggan tersebut sudah menunggak lebih dari 3 bulan. 

Baca juga: Kronologi Gadis 14 Tahun di Bandung Dirudapaksa 20 Pria, Dijajakan Sebagai PSK di MiChat

Baca juga: Usai Disingkirkan Indonesia dari Piala AFF, Pelatih Timnas Singapura Tatsuma Yoshida Resmi Mundur

Menurutnya, para pelanggan bukannya menunggak bayar tagihan, namun para pelanggan tidak bersedia membayar tagihan, mengingat jumlah tagihan dinilai tidak wajar.

“Tagihan yang disodorkan, sangat tidak wajar. Tidak sesuai dengan kondisi pemakaian air pelanggan, maka kami protes,” sebutnya.

Karena, tambahnya, untuk kelas rumah tangga saja, tagihan yang disodorkan membengkak hingga diatas Rp 500 ribu per bulan, padahal untuk pembayaran listrik, pihaknya hanya membayar Rp 200.000 per bulan. 

“Kan ini tidak masuk akal, lebih murah bayar listrik ketimbang air. Ini terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, bulan-bulan sebelumnya tidak demikian, makanya kita menolak,” ungkapnya.

Padahal, tambahnya, pada Januari hingga pertengahan tahun, pelanggan kategori rumah tangga, hanya membayar tagihan sesuai rekening pemakaian air, berkisar Rp 8.000, Rp 10.000 hingga Rp 35.000 per bulan. Namun, jumlah tagihan itu membengkak sejak beberapa bulan terakhir ini. “Rp 500 ribu untuk bayar air saja, itu sangat tidak wajar,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Salibis, pelanggan rumah tangga lainnya, kawasan Gampong Kayee Aceh, yang pemakaian air di rumahnya diakui agak besar. 

Selama ini, katanya, jumlah tagihan yang harus dibayar pihaknya, hanya berkisar Rp 40.000 hingga Rp 50.000, namun tagihan terakhir membengkak menjadi Rp 400.000 per bulan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved