Boat Rohingya di Laut Bireuen
Dorong Selamatkan Rohingya, Akademisi UIN Ar-Raniry : Islam Mengajarkan Kita untuk Membantu Orang
Menolong pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut merupakan kewajiban Islam dan tanggungjawab kemanusiaan bagi masyarakat Aceh.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
Dorong Selamatkan Rohingya, Akademisi UIN Ar-Raniry : Islam Mengajarkan Kita untuk Membantu Orang
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Terhitung sudah empat hari sejak Minggu (26/12/2021) kapal pengungsi Rohingya terombang ambing di lautan lepas di perairan Bireuen, Aceh.
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Dr. Teuku Zulkhairi, MA mengatakan, menolong pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di laut merupakan kewajiban Islam dan tanggungjawab kemanusiaan bagi masyarakat Aceh.
Selain itu, secara regulatif, membantu pengungsi untuk mendarat dari laut sementara waktu juga merupakan aturan dari Peraturan Presiden Nomor Tahun 2016 yang ditanda tangani Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Hal tersebut disampaikan Zulkhairi melalui siaran pers sehubungan dengan keadaan pengungsi Rohingya yang ditolak mendarat dari laut Bireuen padahal dikabarkan puluhan di antara pengungsi itu adalah wanita dan anak-anak.
“Jadi semua pihak mestinya bersatu untuk mendorong pengungsi Rohingya ini agar bisa mendarat sementara waktu,” katanya, Rabu (29/12/2021).
Baca juga: Pemerintah Tampung Rohingya yang Terombang ambing di Laut, Langkah Diambil Atas Nama Kemanusiaan
Baca juga: Kapal Boat yang Membawa Pengungsi Rohingya Masih Bertahan di Laut Lepas
“Malu kita di hadapan Allah dan di hadapan Rasulullah kelak jika kita menolak mereka mendarat di Aceh meskipun hanya sementara waktu,” lanjutnya.
Menurut Zulkhairi yang juga aktivis santri Aceh ini, Islam meminta kita untuk menolong orang-orang yang lemah dimana Rasulullah mengatakan bahwa “seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, ia tidak menzaliminya dan tidak meninggalkannya tatkala butuh bantuannya”.
Zulkhairi juga mengharapkan agar masyarakat Aceh tidak terpengaruh dengan pemikiran orang-orang yang menolak Rohingya mendarat di Aceh dan membiarkan mereka tetap di laut.
Ia menilai itu adalah pemikiran intoleran dan anti solidaritas yang tidak punya basis kuat dalam sejarah peradaban Aceh.
“Kita jangan lupa, endatu (nenek moyang) kita dulu pernah membantu orang-orang yang butuh pertolongan di berbagai kawasan Asia Tenggara. Lalu Allah pun memperkuat kedudukan mereka,” katanya.
“Kita juga jangan lupa, bahwa sebagai bangsa kita pernah menghadapi hari-hari berat di masa konflik dan di masa bencana tsunami yang meluluhlantakkan Aceh. Jangan kufur nikmat, “ ucap Zulkhairi.
Baca juga: Grup Internasional Rohingya Ucap Terima Kasih kepada RI karena Izinkan Migran Mendarat di Bireuen
Zulkhairi melanjutkan, betul orang Rohingya yang pernah jadi pengungsi di Aceh itu sebagiannya mungkin menyebalkan.
Tapi jangan lupa mereka adalah saudara kita seislam. Persoalan mereka adalah persoalan kita juga sebagai muslim dan sebagai manusia.
Mereka, kata Zulkhairi adalah umat Nabi Muhammad SAW.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-teuku-zulkhairi-ma-_-komisioner-pada-kpi-aceh.jpg)