Berita Lhokseumawe
Setelah Tiga Bulan Mengikuti Fellowship Jurnalisme Pendidikan, GWPP Lepas Peserta Angkatan III
FJP ke-3 yang diadakan GWPP dan PT Paragon Technology and Innovation, diikuti 15 jurnalis terpilih dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat.
Penulis: Jafaruddin | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Jafaruddin | Lhokseumawe
SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE – Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Depok, pada Kamis (30/12/2021) mengadakan pelepasan peserta yang sudah mengikuti program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) angkatan III melalui Zoom Meeting.
Untuk diketahui,FJP ke-3 yang diadakan GWPP dan PT Paragon Technology and Innovation, diikuti 15 jurnalis terpilih dari Aceh (Serambi Indonesia), sampai Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi, Kalimantan dimulai pada 22 September 2021.
Peserta kegiatan tersebut didampingi empat mentor yang terdiri Mohammad Nasir (Wartawan Senior Kompas 1989-2018), Frans Surdiasis (Kepala Litbang The Jakarta Post), Haryo Prasetyo (Wartawan Senior Media Indonesia), dan Nurcholis Basyari, yang juga Direktur GWPP.
Pelepasan peserta FJP III itu juga dihadiri Chief Executive Officer (CEO), PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat bersama jajarannya, kemudian juga dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbud Ristek Prof Ir Nizam MSc.
Kemudian juga peserta atau alumni FJP angkatan I dan II, kemudian Pemimpin Redaksi dari media peserta, serta narasumber.
“Alhamdulillah, atas berkat Rahmat-Nya, kita dapat bersilaturahmi virtual menghadiri acara augurasi dan pelepasan peserta program Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) Angkatan III,” ujar Direktur GWPP Nurcholis MA Basyari saat menyampaikan sambutan.
Menurut Nurcholis, GWPP mengusung misi “mengarusutamakan isu-isu pendidikan dalam liputan dan pemberitaan media.”
Gerakan ini lahir atas dasar kesadaran konstitusional betapa penting dan strategisnya pendidikan sebagai salah satu soko guru utama mewujudkan cita-cita luhur “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa” Para Pendiri Republik tercinta ini.
Baca juga: Ramai Diperbincangkan, Ini Daya Tarik Metaverse yang Bikin Banyak Orang Rela Investasi Besar-besaran
Baca juga: Razman Nasution Marah Dengar Ucapan Richard Lee hingga Ancam Somasi : Bahasamu yang Santun!
Bahkan tidaklah berlebihan kata Nurcholis, jika dikatakan bangunan Indonesia sebagai satu bangsa dan negara adalah buah pendidikan anak-anak bangsanya.
“Kita sama-sama saksikan pula kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di negara-negara maju di belahan bumi manapun berkaitan dengan kemajuan sektor pendidikan dan tingkat edukasi warganya,” ujar Nurcholis yang juga mentor GWPP.
Di sisi lain, kata Nurcholis, secara historis, pers dan Indonesia bagaikan dua sisi mata uang dari satu koin yang sama dalam dinamika sejarah eksistensi Indonesia sebagai bangsa dan negara.
Baik semasa perjuangan prakemerdekaan, kemerdekaan maupun setiap era atau orde pascakemerdekaan. Maka, muncullah positioning pers Indonesia sebagai pers perjuangan.
Pers yang turut aktif mendorong dan menggelorakan perjuangan kemerdekaan pada masa penjajahan dan memperjuangkan hak-hak publik sebagaimana diamanatkan konstitusi, termasuk hak mendapatkan pendidikan.
“Sayangnya, disadari atau tidak, kita dihadapkan pada realitas yang mengisyaratkan isu-isu pendidikan kalah pamor dan kurang seksi di mata media jurnalistik atau pers,” ujar mahasiswa S3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/fjpfjp.jpg)