Breaking News:

Berita Nasional

ASNI: Gizi Sehat untuk Cegah Stunting, Nutrisionis Perlu Berinovasi

Ketua Pimpinan Pusat Asosiasi Nutrisionis Indonesia (ASNI) DPP Persagi, Dr Andriyanto SH MKes mengatakan, ahli gizi

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Bupati Aceh Tamiang Mursil saat melihat olahan daun kelor produksi Tim PKK Kampung Durian yang dinilai ampuh memcegah stunting, Rabu (19/1/2022) 

JAKARTA - Ketua Pimpinan Pusat Asosiasi Nutrisionis Indonesia (ASNI) DPP Persagi, Dr Andriyanto SH MKes mengatakan, ahli gizi (nutrisionis) perlu lebih banyak berinovasi dalam menyerukan pemberian asupan gizi sehat pada masyarakat untuk cegah terjadinya kekerdilan pada anak (stunting).

“Saya sering sekali menyampaikan pada nutrisionis di mana pun juga, ingat! kompetensi kita adalah kompetensi gizi.

Kalau berbicara mengenai masalah stunting atau obesitas, yang paling berperan dalam menangani itu harus nutrisionis,” katanya dalam talkshow “Peran Nutrisionis Dalam Mencegah Stunting dan Obesitas” yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (21/1/2021).

Ia mengatakan, ahli gizi memiliki peran yang sangat penting dalam merangkul seluruh pihak dari lintas sektor maupun stakeholder dalam bersama mencegah stunting.

Integrasi, kolaborasi dan spasial spesifik daerah menjadi tiga hal penting yang harus dijalankan oleh para ahli gizi.

Guna mewujudkan integrasi bersama semua pihak dan membantu para ahli gizi mengedukasi masyarakat melalui inovasi baru yang lebih menarik, pihaknya akan menciptakan sebuah creative planner (perencanaan kreatif) yang nantinya akan disesuaikan dengan kompetensi para ahli gizi.

Baca juga: Resmikan Balai Penyuluh KB, Aminullah Dapat Apresiasi, BKKBN: Banda Aceh Terendah Angka Stuntingnya

Baca juga: Cegah Stunting, Aceh Tamiang Manfaatkan Olahan Daun Kelor

Melalui perencanaan kreatif itu, ahli gizi dapat melakukan inovasi dengan memanfaatkan penggunaan pangan lokal di sebuah daerah yang diharapkan dapat melibatkan semua pihak.

Ia memberikan contoh di Surabaya, pihaknya mengedukasikan gizi kepada masyarakat dengan membuat sebuah lemper atau arem-arem yang semula berisi daging, diganti menjadi abon atau ikan.

Pada daerah Sidoarjo di Jawa Timur, ASNI turut menciptakan “Rombong Makanan” sebagai langkah mendorong masyarakat yang tak mau membuat bubur atau nasi tim untuk bayi untuk menjual dan membuat makanan pendamping ASI (MP-ASI) tersebut.

“Kita paham sebenarnya stunting itu dimulai dari 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Tapi krisis itu, justru setelah ASI eksklusif dan mereka tidak mau untuk membuat bubur bayi dan nasi tim itu, sehingga kita ajarkan,” kata dia.

Menurutnya, karena ahli gizi juga berada di Indonesia dengan latar belakang daerah yang berbeda, konsep spasial atau spesifik daerah menjadi hal yang penting dalam membuat makanan yang tepat bagi para ibu hamil dan anak-anak khususnya yang berusia di bawah dua tahun.

Baca juga: Memaknai Stunting di Aceh

Oleh sebab itu, dia mengajak kepada seluruh ahli gizi untuk memahami dan mempelajari pangan lokal yang dapat digunakan di suatu daerah.

Manfaatkan Media Sosial

Ketua Pimpinan Pusat ASNI DPP Persagi, Andriyanto menambahkan, selain mempelajarinya, dia juga meminta agar ahli gizi kreatif memberikan edukasi melalui pemanfaatan media sosial seperti membuka akun Youtube atau tantangan pada video Tik Tok yang mengikuti perkembangan zaman agar lebih cepat sampai ke masyarakat.

“Kepada seluruh nutrisionis di Indonesia, mari kita bersama-sama juga untuk mencegah stunting dan obesitas.

Sehingga kita bisa turut serta membangun Indonesia bebas stunting," demikian Andriyanto (antaranews.com)

Baca juga: Partai Gelora Launching Gerakan Cegah Stunting Secara Serentak di Indonesia Termasuk Aceh

Baca juga: Gelora Aceh Luncurkan Gerakan Pencegahan Stunting, Melahirkan Generasi Ideal dan Sehat

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved