Sabtu, 2 Mei 2026

Khanduri Laot, Tradisi Adat yang Masih Terjaga di Leupung

Menurut warga, kegiatan Khanduri Laot dilaksanakan satu kali dalam dua tahun, yang merupakan tradisi turun temurun yang masih terjaga hingga saat ini.

Tayang:
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah

Khanduri Laot, Tradisi Adat yang Masih Terjaga di Leupung

SERAMBINEWS.COM, LEUPUNG ACEH BESAR – Sejumlah bocah laki-laki terlihat mondar-mandir mengumpulan satu-persatu piring kotor dari kursi ke kursi.

Pada tenda dan bangunan di TPI Lhok Seudu suasana berbeda dari hari biasa.

Ratusan warga silih berganti berdatangan untuk menikmati hidangan kuah beulangong yang berpadu dengan lauk pauk lainnya.

Pada hari itu, Sabtu (22/1/2022), di sana terselenggara Khanduri Laot. Oleh karena itulah kesibukan sejumlah bocah laki-laki tersebut untuk membantu kesuksesan acara.

Baca juga: Berkunjung ke Aceh, Sandiaga Uno Santap Kuah Belangong Saat Khanduri Maulid

Baca juga: Masyarakat Kemukiman Tungkob Rayakan Maulid Akbar, Dimeriahkan Ragam Kegiatan, Termasuk Donor Darah

Menurut warga, kegiatan Khanduri Laot dilaksanakan satu kali dalam dua tahun, yang merupakan tradisi turun temurun yang masih terjaga hingga saat ini.

Pada hari itu, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sibuk menyiapkan makanan di lokasi tempat Khanduri Laot digelar.

Khanduri Laot merupakan ungkapan rasa syukur para nelayan atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah Swt.

Selain menikmati hidangan, dalam acara tersebut juga diisi dengan doa bersama dan santunan kepada anak yatim.

Panglima Laot Lhok Leupung, M Hassan Is mengatakan Khanduri Laot ini sudah menjadi adat istiadat khusus bagi masyarakat setempat.

Baca juga: Persamaan Nasib dan Hukum Adat Laot, Mengikat Aceh Sambut Rohingya

Ia menyebut khanduri ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka dan masih terus terjaga hingga saat ini

“Kita hanya melaksanakannya saja peninggalan orang tua kita dulu supaya generasi akan datang, momen yang seperti ini jangan hilang,” kata pria yang akrab disapa Ngoh Hassan itu.

Dikatakannya, para nelayan akan dilarang keras melakukan aktivitas melaut selama tiga hari ketika Khanduri Laot digelar.

Bagi nelayan yang melanggar akan dikenakan sanksi adat dan juga ada larangan memancing bagi masyarakat luar.

Pada siang itu, ratusan warga dan tamu undangan memadati TPI Lhok Seudu, menikmati santap siang di pinggir dermaga.

Baca juga: Panglima Laot Pidie Serahkan Satu Set Kitab Kuning untuk Santriwati Juara I MQK Aceh II Alif Rizkia

Kuah beulangong menjadi menu andalan, di samping tumis ikan asin dan udang sabu serta acar timun yang mewarnai sajian makan siang.

“Kita di sini identik dengan daerah ikan asin, makanya kita buat (sajian) ikan asin selain daripada kuah beulangong,” ujar Ngoh Hassan.

Selain itu, sebutnya, yang membedakan Khanduri Laot dengan acara syukuran lainnya, yakni harus menyembelih kerbau.

Ditanya mengapa harus kerbau, Ngoh Hassan mengatakan karena hal tersebut sudah dilakukan oleh orang tua mereka sebelumnya.

 “Kerbau pun harus yang berbulu hitam,” ucapnya.

Baca juga: Bebas dari Hukuman di Thailand, Empat Nelayan Anak Bawah Umur KM Rizky Laot Dipulangkan ke Aceh

Biaya yang dikeluarkan untuk Khanduri Laot ini bersumber dari bantuan luar dan kutipan para nelayan.

“Semua pihak terlibat, termasuk dengan muge-muge (tengkulak) dan mobil-mobil yang terkait dengan ikan dan laut juga terlibat,” kata Ngoh Hassan.

Sebab, ini merupakan hajatan bersama bagi penduduk kecamatan Leupung yang mayoritas pekerjaanya adalah nelayan.

Menurut Panglima Laok Leupung, selain makan bersama, Khanduri Laot juga diisi dengan rangkaian doa bersama dan santunan kepada anak yatim.

Baca juga: Panglima Laot Minta Perusahaan Serius Tangani Limbah Batubara di Perairan Aceh Barat

Mempererat Silaturahmi

Panglima Laot Lhok Leupung, M Hassan Is mengatakan selain bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, Khanduri Laot juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi.

“Kehadiran keluarga dan tamu undangan untuk mempereratkan silaturahmi satu sama lain,” ungkapnya.

Ngoh Hassan berharap kepada generasi muda untuk menyadari dan menjaga tradisi Khanduri Laot ini.

Khanduri Laot ini juga sekaligus memperkenalkan tradisi kepada generasi muda Kecamatan Leupung untuk menjaga dan merawat tradisi tersebut.

“Begitulah tujuan kita membuat Khanduri Laot ini, bahwa hal yang baik ini pernah dilakukan oleh orang tua kita dulu dan apa salahnya kita lakukan sekarang,” tutupnya. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved