Sejarah Berdirinya Baghdad, Kota Seriba Satu Malam dan Pusat Peradaban Dunia di Masa Lalu
Baghdad juga menjadi saksi kelahiran karya sastra Arab garda depan yang berjudul Alf Lailah wa Lailah atau Seribu Satu Malam.
"Saya telah melihat kota-kota besar, termasuk yang terkenal karena konstruksinya yang tahan lama. Saya telah melihat kota-kota seperti itu di distrik-distrik Suriah, di wilayah Bizantium dan di provinsi-provinsi lain, tetapi saya belum pernah melihat kota yang lebih tinggi, lingkaran yang lebih sempurna," kata Al-Jahiz.
Corak arsitektur yang rumit dan bangunan berkubah menjadi bukti kemegahan Baghdad saat itu.
Baca juga: Inilah Sejarah dan Fakta Kejuaraan Dunia Bulutangkis, Berikut Daftar Wakil Indonesia Peraih Juara
Baca juga: Gubernur Aceh: Temuan Jejak Gayo Prasejarah, Perkaya Khasanah Wisata Tanah Gayo
Saksi puncak keemasan Islam
Baghdad mencapai puncak kemakmuran ekonomi dan kehidupan intelektual di bawah pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M) dan Al-Ma'mun (813-833 M).
Kejayaan Bagdad pada periode ini tercermin dalam cerita-cerita dalam Seribu Satu Malam dan dianggap sebagai kota terkaya di dunia.
Di masa Al-Ma'mun, Baghdad telah berkembang menjadi kota terbesar di dunia, hanya 50 tahun setelah dibangun dengan populasi sekitar lebih dari 1 juta.
Selain itu, Al-Ma'mun juga berperan penting dalam perkembangan intelektualitas Arab saat itu.
Di bawah perlindungan Ma'mun serta semangat keterbukaan terhadap agama dan budaya lain, banyak sarjana dari seluruh dunia tertarik pada Baghdad, tertarik oleh rasa optimisme dan kebebasan berekspresi.
Setiap minggu, para tamu diundang ke istana, minum anggur dan makan malam, kemudian mulai berdiskusi dengan khalifah tentang berbagai keilmuan, dari teologi hingga matematika.
Ia juga dikenal suka mengumpulkan buku-buku dunia dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Baitul Hikmah, sebuah institusi keilmuan menjadi bukti betapa mekarnya intelektualitas saat itu.
Sejumlah ilmuwan Arab ternama yang lahir di era Al-Ma'mun di antaranya adalah Al-Kindi dan Al-Khawarizmi.
Kemunduran Baghdad
Sejak pertengahan abad ke-9, Dinasti Abbasiyah secara bertahap mulai melemah karena konflik internal.
Perang saudara antara dua putra Harun Ar-Rasyid mengakibatkan kehancuran sebagian besar Kota Baghdad. Invansi dan pendudukan asing membuat sebagian kota itu hancur.
Puncaknya, Hulaghu Khan menyerbu Baghdad, membunuh para khalifah, membantai ratusan ribu penduduk, dan membakar kota.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kota-baghdad-salah-satu-warisan-kejayaan-islam.jpg)