Sejarah Berdirinya Baghdad, Kota Seriba Satu Malam dan Pusat Peradaban Dunia di Masa Lalu
Baghdad juga menjadi saksi kelahiran karya sastra Arab garda depan yang berjudul Alf Lailah wa Lailah atau Seribu Satu Malam.
Pada 1508, Baghdad untuk sementara dimasukkan ke dalam kerajaan Persia (Iran) baru yang diciptakan oleh Syah Ismail I dari Dinasti Afavid.
Pada 1534 Kekaisaran Ottoman di bawah sultan Suleyman I mengambil kota itu, catat Britannica.
Modernisasi Baghdad
Pada abad ke-19, pengaruh Eropa tumbuh di Bagdad dengan berdirinya ordo-ordo keagamaan Perancis dan meningkatnya perdagangan Eropa.
Perjalanan laut di Baghdad mulai dipulihkan kembali pada 1860-an. Antara 1860 dan 1914, beberapa gubernur Utsmaniyah mereformasi dan memperbaiki kota.
Pada 1920, Baghdad menjadi ibu kota negara Irak yang baru dibentuk.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian memberikan Inggris sebuah mandat untuk memerintah Irak usai Perang Dunia I hingga 1932.
Pengaruh Inggris tetap dominan hingga 1958, ketika monarki Hashemite yang dekat dengan Inggris melakukan kudeta militer.
Selama satu dekade setelah tahun 1958, Baghdad mengalami periode pergolakan politik, dengan serangkaian kudeta dan rezim militer.
Baca juga: Harga Emas di Lhokseumawe Hari Ini Stabil, Bertahan Sampai 4 Februari 2022
Baca juga: UND Jalin Kemitraan dengan PWI Nagan Raya, Salurkan Benih Ikan Lele 30 Ribu Ekor
Baca juga: Kendalikan Harga Minyak Goreng, Aceh Tamiang Monitoring Belasan Ritel
Kompas.com: Baghdad, Kota Seriba Satu Malam dan Pusat Peradaban Dunia di Masa Lalu
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kota-baghdad-salah-satu-warisan-kejayaan-islam.jpg)