Senin, 27 April 2026

Berita Luar Negeri

PM Belanda Minta Maaf Terkait Kekejaman Masa Penjajahan di Indonesia

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta maaf kepada Indonesia atas kekerasan yang sistematis dan ekstrem selama perang kemerdekaan Indonesia

Editor: bakri
GEERT VANDEN WIJNGAERT /AFP
Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte tiba di Belgia untuk membahas konflik Ukraina-Rusia setelah sebelumnya memberikan pernyataan permohonan maaf atas kekejaman masa penjajahan Belanda di Indonesia, Brussel, Kamis (17/2/2022). 

DEN HAAG - Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta maaf kepada Indonesia atas kekerasan yang sistematis dan ekstrem selama perang kemerdekaan Indonesia.

Permintan maaf itu diutarakan Mark Rutte pada Kamis (17/2/2022), setelah sebuah penelitian mengungkap kekerasan yang dilakukan Belanda saat masa kolonial di Indonesia.

"Hari ini, atas nama pemerintah Belanda, saya menyampaikan permintaan maaf terdalam saya kepada rakyat Indonesia atas kekerasan sistematis dan ekstrem dari pihak Belanda pada tahun-tahun itu," kata Perdana Menteri Mark Rutte dalam konferensi pers, dikutip dari Kantor Berita AFP, Jumat (18/2/202).

Rutte mengatakan dia juga menyesal pemerintah Belanda sebelumnya menutup mata terhadap masalah ini.

"Kami juga meminta maaf kepada semua orang yang tinggal di Belanda yang harus hidup dengan konsekuensi perang kolonial di Indonesia, termasuk para veteran perang yang berperilaku baik," ujar Rutte.

Dalam studi yang dilakukan selama empat tahun oleh peneliti Belanda dan Indonesia, ditemukan bahwa pasukan Belanda membakar desa-desa dan melakukan penahanan massal, penyiksaan, dan eksekusi selama konflik 1945-1949.

Kekerasan ektrem ini dilakukan dengan dukungan diam-diam dari pemerintah.

Kondisi rumah yang pernah jadi tempat tinggal Tjoet Dhien selama menyingkir ke Gayo, menghindari pengejaran pasukan Belanda. Bangunan bersejarah itu kini dibiarkan terlantar.
Kondisi rumah yang pernah jadi tempat tinggal Tjoet Dhien selama menyingkir ke Gayo, menghindari pengejaran pasukan Belanda. Bangunan bersejarah itu kini dibiarkan terlantar. (Foto kiriman warga)

Permintaan maaf ini sebenarnya bukan permintaan maaf pertama Belanda kepada Indonesia.

Pasalnya, Raja Belanda Willem-Alexander secara resmi pernah juga meminta maaf saat berkunjung ke Indonesia pada 2020 atas "kekerasan berlebihan" selama perang.

Tapi, kali ini adalah pengakuan pertama bahwa ada kampanye kekerasan yang disengaja secara efektif.

Studi ini menjadi langkah terbaru dalam upaya Belanda baru-baru ini untuk bergulat dengan masa lalu kolonialnya yang brutal, dan upaya yang lebih luas oleh bekas kekuatan kekaisaran di seluruh dunia.

Dalam studi tersebut peneliti menyebut bahwa pihak Belanda mulai dari politikus, pejabat, pegawai negeri, hakim, dan sebagainya mengetahui tentang kekerasan ekstrem dan sistematis itu.

Baca juga: Gedung Sentral Telepon Belanda Saksi Bisu Jejak Marsose di Kutaraja

Baca juga: Museum Balee Juang Kota Langsa, Peninggalan Belanda yang Sepi Kunjungan Generasi Muda

"Ada kemauan kolektif untuk memaafkan, membenarkan dan menyembunyikannya, dan membiarkannya tanpa hukuman.

Semua ini terjadi dengan tujuan yang lebih tinggi: memenangkan perang," ungkap peneliti.

Harus Berikan Kompensasi

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved