Konflik Rusia vs Ukraina
Kisah Sheikh Abrar, Mahasiswa India yang Terjebak di Gedung Asrama di Ukarina: Kami Butuh Bantuan
Sheikh Abrar, mahasiswa kedokteran India berusia 22 tahun mengaku masih terjebak di dalam gedung asrama sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
Kisah Sheikh Abrar, Mahasiswa India yang Terjebak di Gedung Asrama di Ukarina: Kami Butuh Bantuan
SERAMBINEWS.COM, KIEV – Memasuki hari keenam invasi, Rusia telah mengerahkan 75 persen pasukannya ke Ukarina.
Sirene udara terus meraung saat pagi dimulai seluruh Ukraina.
Selain di Ibukota Kiev, Sirene juga berbunyi di kota-kota barat Ternopil, Vinnytsia, Rivne, serta kota-kota pusat Cherkasy dan Kropyvnytskyi.
Pertahanan Ukraina sejauh ini sangat kokoh di Ibukota Kiev. Aktivitas pasukan Rusia terbatas karena mereka sedang menunggu bala bantuan.
Baca juga: Kisah Pengantin Baru di Ukraina Habiskan Bulan Madu di Medan Perang, Angkat Senjata Lawan Rusia
Baca juga: Rusia Bawa Bom Termobarik ke Ukraina, Senjata Paling Ditakuti di Dunia, Paru-paru Manusia Bisa Copot
Analis berpikir Rusia akan melanjutkan serangan mereka dengan kekuatan yang lebih besar dalam beberapa jam mendatang.
Jika Rusia terus mengirim pasukan, Ukraina mungkin tidak dapat mencegah pasukan itu untuk membendung serbuan Rusia.
Banyak dari penduduk yang telah menjadi korban jiwa dalam perang tersebut, dengan lebih dari setengah juta jiwa mengungsi.
Sejumlah negara asing telah memerintahkan warganya untuk keluar dari Ukarina.
Namun pemerintah India tampaknya terlambat, dan membuat sejumlah warganya terjebak di sana.

Baca juga: Imbas Invasi ke Ukraina, FIFA Larang Lagu Kebangsaan dan Bendera Rusia di Pertandingan Internasional
Baca juga: Federasi Taekwondo Dunia Resmi Luncuti Sabuk Hitam Presiden Rusia Vladimir Putin
Sheikh Abrar, mahasiswa kedokteran India berusia 22 tahun mengaku masih terjebak di dalam gedung asrama sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina.
Abrar mencoba untuk tidur di tengah suara sirene dan ledakan. Dia tidak berani menyalakan teleponnya, atau menyalakan lampu.
Setiap malam, dia terus berdoa untuk keselamatan.
“Kami tidak tahu berapa banyak orang yang akan mati,” katanya kepada CNN melalui telepon dari kota timur Sumy pada hari Senin (28/2/2022).
Sumy terletak sekitar 330 kilometer (200 mil) timur laut dari ibukota Ukraina, Kiev, dan dekat perbatasan Rusia.