Konflik Rusia vs Ukraina

Kisah Sheikh Abrar, Mahasiswa India yang Terjebak di Gedung Asrama di Ukarina: Kami Butuh Bantuan

Sheikh Abrar, mahasiswa kedokteran India berusia 22 tahun mengaku masih terjebak di dalam gedung asrama sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
Arun SANKAR / AFP
Seorang pria memeluk putranya yang dievakuasi dari Ukraina setelah kedatangannya dengan penerbangan khusus di bandara di Chennai pada 27 Februari 2022. (Foto diatas bukanlah narasumber dalam berita ini) 

“Setiap malam, setiap hari kami mendengar sirene. Setiap kali kami mendengar alarm atau tembakan ke udara, kami harus bergegas ke bunker (bawah tanah)," katanya.

Kendaraan militer Ukraina bergerak melewati alun-alun Kemerdekaan di pusat Kyiv pada 24 Februari 2022. Sirene serangan udara terdengar di pusat kota Kyiv hari ini ketika kota-kota di seluruh Ukraina terkena apa yang dikatakan pejabat Ukraina sebagai serangan rudal dan artileri Rusia. Presiden Rusia mengumumkan operasi militer di Ukraina pada 24 Februari 2022, dengan ledakan terdengar segera setelah di seluruh negeri dan menteri luar negerinya memperingatkan
Kendaraan militer Ukraina bergerak melewati alun-alun Kemerdekaan di pusat Kyiv pada 24 Februari 2022. Sirene serangan udara terdengar di pusat kota Kyiv hari ini ketika kota-kota di seluruh Ukraina terkena apa yang dikatakan pejabat Ukraina sebagai serangan rudal dan artileri Rusia. Presiden Rusia mengumumkan operasi militer di Ukraina pada 24 Februari 2022, dengan ledakan terdengar segera setelah di seluruh negeri dan menteri luar negerinya memperingatkan "invasi skala penuh" sedang berlangsung. (Daniel LEAL / AFP)

Baca juga: Pemimpin Chechnya Minta Rakyat Ukraina Gulingkan Pemerintahan, Jika Terwujud, Perang Dapat Berakhir

Abrar adalah salah satu dari sekitar 13.000 orang India yang terkurung di Ukraina, saat pihak berwenang India meningkatkan upaya untuk mengevakuasi warganya.

“Mereka akan mengevakuasi kita ketika tidak ada orang (tinggal). Semua orang akan mati,” kata Abrar.

Abrar telah berlindung di sebuah asrama. Tetapi ketika Ukraina memasuki hari keenam invasi Rusia, persediaan – termasuk makanan dan air – semakin menipis.

Hal itu membuat dia dan sekitar 400 orang lainnya sangat membutuhkan bantuan.

“Setiap detik, setiap menit kami men-tweet… kami mencoba menghubungi Kedutaan Besar India, tetapi apa yang mereka lakukan?” dia berkata.

Sejak wilayah udara Ukraina ditutup pekan lalu, India telah mengevakuasi sekitar 2.000 warga negara - kebanyakan mahasiswa kedokteran seperti Abrar - dari negara itu.

Menurut mahasiswa kedokteran itu, India terlambat mengeluarkan perintah untuk meninggalkan Ukraina.

Baca juga: Chechnya, Negara Federasi Rusia yang Dukung Putin Serang Ukraina, Hidup dengan Hukum Syariah

Ketika India baru mengluarkan seruan untuk keluar pada 15 Februari, sebagian besar tidak mungkin melakukannya.

“Biaya penerbangan meningkat dan banyak keluarga kelas menengah tidak mampu membayar perjalanan pulang”  katanya.

Pada hari Senin (28/2/2022), Kedutaan Besar India di Ukraina menegaskan bahwa semua siswa harus melakukan perjalanan ke barat untuk dievakuasi. 

Beberapa menteri India akan melakukan perjalanan ke negara-negara tetangga untuk mengoordinasikan misi evakuasi, kata seorang pejabat senior pemerintah kepada CNN, Senin.

Namun bagi Abrar, keputusan untuk bertahan atau pergi memiliki risiko yang serius.

“Semua jalan diblokir. Jika kita bepergian dengan bus, kita tidak akan bisa menyeberang ke barat karena pasukan Rusia ada di mana-mana,” katanya. 

“Kami terjebak di sini. Kami butuh bantuan,” jeritnya yang terkurung di kota Sumy setelah lebih dari enam hari. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)

BERITA RUSIA VS UKRAINA 

AKSES DAN BACA BERITA DI GOOGLE NEWS 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved