Konflik Rusia vs Ukraina
Kisah Sheikh Abrar, Mahasiswa India yang Terjebak di Gedung Asrama di Ukarina: Kami Butuh Bantuan
Sheikh Abrar, mahasiswa kedokteran India berusia 22 tahun mengaku masih terjebak di dalam gedung asrama sejak dimulainya invasi Rusia ke Ukraina.
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
“Setiap malam, setiap hari kami mendengar sirene. Setiap kali kami mendengar alarm atau tembakan ke udara, kami harus bergegas ke bunker (bawah tanah)," katanya.

Baca juga: Pemimpin Chechnya Minta Rakyat Ukraina Gulingkan Pemerintahan, Jika Terwujud, Perang Dapat Berakhir
Abrar adalah salah satu dari sekitar 13.000 orang India yang terkurung di Ukraina, saat pihak berwenang India meningkatkan upaya untuk mengevakuasi warganya.
“Mereka akan mengevakuasi kita ketika tidak ada orang (tinggal). Semua orang akan mati,” kata Abrar.
Abrar telah berlindung di sebuah asrama. Tetapi ketika Ukraina memasuki hari keenam invasi Rusia, persediaan – termasuk makanan dan air – semakin menipis.
Hal itu membuat dia dan sekitar 400 orang lainnya sangat membutuhkan bantuan.
“Setiap detik, setiap menit kami men-tweet… kami mencoba menghubungi Kedutaan Besar India, tetapi apa yang mereka lakukan?” dia berkata.
Sejak wilayah udara Ukraina ditutup pekan lalu, India telah mengevakuasi sekitar 2.000 warga negara - kebanyakan mahasiswa kedokteran seperti Abrar - dari negara itu.
Menurut mahasiswa kedokteran itu, India terlambat mengeluarkan perintah untuk meninggalkan Ukraina.
Baca juga: Chechnya, Negara Federasi Rusia yang Dukung Putin Serang Ukraina, Hidup dengan Hukum Syariah
Ketika India baru mengluarkan seruan untuk keluar pada 15 Februari, sebagian besar tidak mungkin melakukannya.
“Biaya penerbangan meningkat dan banyak keluarga kelas menengah tidak mampu membayar perjalanan pulang” katanya.
Pada hari Senin (28/2/2022), Kedutaan Besar India di Ukraina menegaskan bahwa semua siswa harus melakukan perjalanan ke barat untuk dievakuasi.
Beberapa menteri India akan melakukan perjalanan ke negara-negara tetangga untuk mengoordinasikan misi evakuasi, kata seorang pejabat senior pemerintah kepada CNN, Senin.
Namun bagi Abrar, keputusan untuk bertahan atau pergi memiliki risiko yang serius.
“Semua jalan diblokir. Jika kita bepergian dengan bus, kita tidak akan bisa menyeberang ke barat karena pasukan Rusia ada di mana-mana,” katanya.
“Kami terjebak di sini. Kami butuh bantuan,” jeritnya yang terkurung di kota Sumy setelah lebih dari enam hari. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)