Breaking News:

Internasional

Rusia Bantah Minta Bantuan Militer China Untuk Memperkuat Serangan ke Ukraina

Pemerintah Rusia membantah telah meminta bantuan militer China untuk menggempur Ukraina. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengataan laporan media

Editor: M Nur Pakar
VOA
Juru bicara kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov. 

SERAMBINEWS.COM, MOSKOW - Pemerintah Rusia membantah telah meminta bantuan militer China untuk menggempur Ukraina.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengataan laporan media yang menuduh bahwa Rusia meminta bantuan militer China tidakbenar.

“Tidak, Rusia memiliki potensinya sendiri untuk melanjutkan operasi, seperti yang telah kami katakan," kata Peskov.

"Saat ini sedang berlangsung sesuai dengan rencana dan akan selesai tepat waktu dan penuh,” tambah Peskov dalam konferensi hariannya dengan wartawan.

Peskov juga menekankan operasi di Ukraina berjalan sesuai rencana dan militer Rusia memastikan keamanan maksimum bagi penduduk sipil.

Dia mengatakan pada awal operasi Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan militer untuk menahan diri dari penyerbuan segera kota-kota besar termasuk Kiev.

Baca juga: Roket Rusia Hantam Menara TV Antopol, Rudal Ukraina Terjang Wilayah Separatis Donetsk

Dia beralasan formasi separatis nasionalis bersenjata mendirikan titik tembak, menempatkan peralatan militer berat langsung di perumahan.

Bahkan, pertempuran dapat terjadi di daerah padat penduduk dan pasti akan menyebabkan banyak korban di antara warga sipil.

Dia menambahkan pada saat yang sama, Kementerian Pertahanan memastikan keamanan maksimum penduduk sipil.

Tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk mengambil kendali penuh atas permukiman besar yang sekarang praktis dikelilingi, mengharapkan daerah yang digunakan untuk evakuasi kemanusiaan.

Sementara itu, Penasihat presiden Ukraina Mykhailo Podolyak mengatakan pembicaraan dengan Rusia berakhir pada Senin, tetapi akan dilanjutkan pada Selasa (15/3/2022).

Baca juga: Dampak Invasi Ukraina, Rakyat Rusia Akan Tanggung Akibatnya Sampai Generasi Berikutnya

Perundingan yang dilakukan melalui video conference itu merupakan putaran keempat yang melibatkan pejabat tinggi dari kedua negara dan yang pertama dilakukan dalam sepekan.

Diskusi sebelumnya, yang diadakan secara langsung di Belarusia tidak menghasilkan rute kemanusiaan yang langgeng atau kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran di Ukraina.

"Jeda teknis telah diambil dalam negosiasi hingga besok," tulis Podolyak di Twitter.

"Negosiasi berlanjut," tambahnya.

Dia mengatakan sebelumnya komunikasi sedang diadakan, namun masih sulit.(*)

Baca juga: Romney Kutuk Tulsi Gabbard, Tiru Propaganda Rusia, Sebut AS Miliki Laboratorium Kimia di Ukraina

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved