Berita Bener Meriah
Eks GAM dan PETA Duduk Bersama, KontraS: Tindak Lanjut Ikrar Musara Pakat Redelong
“Jika pada saat itu, perdamaian terjadi antara elite GAM dan PETA, maka hari ini hal serupa diterapkan di tingkat komunitas masyarakat,” terangnya.
Penulis: Budi Fatria | Editor: Saifullah
Laporan Budi Fatria | Bener Meriah
SERAMBINEWS.COM, REDELONG - Masyarakat Kampung Sedie Jadi, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah bersama Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, Selasa (29/3/2022), menggelar kegiatan silaturahmi kebangsaan dengan mempertemukan para pihak yang terdampak konflik Aceh, 20 tahun silam.
Acara tersebut berlangsung di halaman kantor desa setempat. Kegiatan ini turut diresmikan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah.
Koordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra mengatakan, silaturahmi kebangsaan ini tindak lanjut dari kesepakatan pada Juli 2006 silam, bertajuk “Ikrar Musara Pakat Redelong”.
“Jika pada saat itu, perdamaian terjadi antara elite GAM dan PETA, maka hari ini hal serupa diterapkan di tingkat komunitas masyarakat,” terangnya.
“Ini jadi kesempatan bagi kita merajut kembali kohesi sosial, terutama bagi kita yang tali persaudaraannya pernah terputus yang barangkali karena keragu-raguan kita masing-masing beberapa waktu lalu, maka hari ini mari kita hilangkan,” kata Hendra.
Ia menyatakan, silaturahmi ini bisa terjalin berkat kebesaran hati kedua pihak (Fauzan Azima dan Suterisno), yang berkenan untuk duduk bersama dan saling memaafkan atas apa yang terjadi di masa lalu.
Baca juga: Adem! Eks GAM dan PETA Sepakat Rekonsiliasi, Saling Memaafkan & Kubur dalam-dalam Konflik Masa Lalu
“Tanpa keduanya, maka acara ini tak akan terlaksana. Dua sosok penting ini yang telah mengukir sejarah penguatan perdamaian Aceh, khususnya di Gayo,” ucap Hendra.
Suterisno mewakili warga Sedie Jadi dalam sambutannya berterima kasih pada Fauzan Azima atas niatan bersama yang muncul untuk menempuh jalan silaturahmi ini.
Peristiwa Kresek, sebutnya, sangat membekas di benak segenap tetua Kampung Sedie Jadi.
Karena itu, silaturahmi kebangsaan yang diadakan tersebut menjadi momen penting dalam sejarah perdamaian di Gayo.
“Mari kita kenang peristiwa 21 tahun lalu itu dengan penuh harap, semoga hal serupa tak terulang lagi,” urai dia.
“Kita harus sependapat, seide, dan sepakat bahwa perselisihan di masa lalu harus segera diakhiri dengan berdamai, saling memaafkan,” ucap Suterisno.
Baca juga: Rekonsiliasi Aceh; Peran Wali Nanggroe
“Apa yang hari ini terjalin adalah bukti bahwa saling memaafkan itu bisa diwujudkan. Sedie Jadi menjadi daerah yang bisa dijadikan contoh, kita bisa buktikan bahwa ini bisa silaturahmi ini bisa terjalin dengan baik,” paparnya.
Sementara itu, mantan kombatan, Fauzan Azima mengungkapkan, perdamaian di Aceh, khususnya Tanoh Gayo, harus senantiasa dijaga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/rekonsiliasi-eks-gam-peta.jpg)